Ike Muti: Pulang, Proses, dan Ketulusan yang Menjadi Pegangan Hidup

Nosel.id Jakarta- Bagi Ike Muti, Jakarta adalah tempat ia lahir dan bertumbuh. Hiruk pikuk ibu kota sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil.

Namun di balik dinamika itu, ada satu tempat yang selalu ia sebut sebagai “rumah yang sebenarnya”: Karangmojo, Gunung Kidul, tanah kelahiran sang ayah.

Sejak kecil, Ike sudah akrab dengan perjalanan darat menuju Yogyakarta. Duduk berjam-jam di mobil, menempuh perjalanan panjang, namun semua itu selalu terasa menyenangkan.

Karena di sana, ada kehangatan keluarga, ada tawa sepupu-sepupu, dan ada ketenangan yang tak pernah ia temukan di kota besar.

Gunung Kidul bukan hanya sekadar tempat pulang, tapi juga ruang untuk menenangkan diri. Hingga hari ini, ketika penat dengan kehidupan ibu kota mulai terasa, Ike selalu kembali ke sana, menyusuri kenangan masa kecil, berziarah ke makam eyang, dan menikmati hidangan sederhana penuh makna, “jangan lombok” buatan Budhe tercinta.

“Rasanya adem… tenang. Selalu ada rasa yang tidak bisa dijelaskan setiap kali pulang ke sana,” ungkapnya.

Kecintaan itu bukan hanya tentang tempat, tapi juga tentang akar. Ike selalu bangga dengan asal-usul ayahnya, dan nilai-nilai sederhana dari kampung halaman itulah yang membentuk cara pandangnya hingga hari ini.

 

Dunia Hiburan yang Sudah Mengalir Sejak Kecil

Perjalanan karier Ike di dunia hiburan bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Sejak kecil, ia sudah sangat dekat dengan industri ini.

Rumah eyangnya dari pihak ibu kerap digunakan sebagai lokasi shooting. Ditambah lagi, sosok keluarga yang tidak asing di dunia perfilman: Amoroso Katamsi membuat dunia entertainment seolah sudah “mendarah daging” dalam hidupnya.

Langkah awalnya dimulai sejak SMP, saat ia menjadi figuran dalam film Catatan Si Boy 2. Ketertarikan itu terus berkembang hingga masa SMA, ketika ia mengikuti berbagai ajang pemilihan seperti Putri Bunga, Putri Matahari, hingga Putri Batik, kompetisi yang cukup populer pada masanya.

Namun, hidup membawanya pada fase lain. Ike sempat vakum untuk menyelesaikan pendidikan, termasuk melanjutkan kuliah di Singapura.

Setelah itu, ia menikah pada tahun 1993 dan menjalani peran sebagai ibu bagi dua anaknya yang lahir pada 1995 dan 1996.

Tak berhenti di sana, semangatnya untuk kembali berkarya justru semakin kuat. Pada tahun 1999, Ike kembali ke dunia hiburan melalui iklan, lalu merambah sinetron dan film.

Hingga kini, ia tetap aktif, dengan salah satu karya terbarunya adalah sinetron Luka Cinta yang tayang di SCTV. Ke depan, ia juga tengah mempersiapkan proyek web series terbaru.

Baginya, dunia ini bukan hanya soal popularitas, tetapi tentang perjalanan, pengalaman, dan pertemuan dengan banyak karakter manusia.

Yang paling saya suka, bisa ketemu banyak orang dengan berbagai karakter. Itu seru. Ditambah lagi bisa shooting sampai ke luar negeri… dan ya, dapat uang juga,” ujarnya sambil tertawa.

 

Hidup yang Seimbang: Antara Usaha dan Ibadah

Di balik perjalanan panjang itu, Ike memegang satu prinsip sederhana: hidup harus seimbang.

Baginya, bekerja keras saja tidak cukup. Ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan: ibadah, karena tanpa itu, segala pencapaian sering kali terasa kosong.

Sehebat apapun kita berusaha, kalau tidak diimbangi dengan ibadah, rasanya ada yang kurang,” tuturnya.

Ia percaya bahwa hidup bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang bagaimana proses itu dijalani. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu mencari jalan instan.

Justru sesuatu yang dibangun dari bawah, yang dijalani tahap demi tahap, akan menghasilkan sesuatu yang lebih kuat dan bermakna.

 

Tentang Baik, Ikhlas, dan Tidak Menjadi Jahat

Dalam perjalanan hidup dan karier, Ike menyadari bahwa gesekan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Dunia kerja, terutama di industri hiburan, penuh dengan dinamika.

Namun satu hal yang selalu ia pegang: jangan membalas keburukan dengan keburukan.

Hidup itu sebenarnya tidak sejahat yang kita bayangkan,” katanya.

Ia memilih untuk tetap bersikap baik, bahkan ketika diperlakukan tidak menyenangkan. Bukan karena lemah, tetapi karena ia percaya bahwa setiap perbuatan akan kembali pada diri kita sendiri.

Lebih dari itu, ia juga selalu berhati-hati dalam bertutur kata. Baginya, ucapan adalah hal sederhana yang sering diremehkan, padahal bisa meninggalkan luka yang dalam.

Kita tidak pernah benar-benar tahu perasaan orang lain. Jadi lebih baik menahan diri daripada menyakiti,” ujarnya.

 

Rezeki dari Arah yang Tak Terduga

Salah satu pelajaran terbesar dalam hidup Ike adalah tentang rezeki.

Ia menyadari bahwa peluang tidak selalu datang dari orang besar atau mereka yang terlihat “penting”. Justru, beberapa kesempatan terbaik dalam hidupnya datang dari orang-orang yang mungkin dianggap biasa.

Dari situlah ia belajar untuk tidak pernah meremehkan siapapun.

Bisa jadi, mereka adalah perantara rezeki kita. Bahkan mungkin ‘malaikat’ yang dikirim Tuhan,” ungkapnya.

Karena itu, ia selalu berusaha memperlakukan semua orang dengan baik—tanpa melihat status, jabatan, atau latar belakang.

Pesan Sederhana yang Penuh Makna

Di akhir perjalanan ceritanya, Ike tidak menawarkan teori yang rumit. Ia hanya memegang satu prinsip yang terus ia jaga dan ia ajarkan kepada keluarga:

Jadilah orang yang baik.

Hidup dengan tulus, berpikir positif, tidak menyakiti orang lain, dan menjalani kehidupan dengan sederhana namun penuh makna.

Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan.

 

 

Source image: ike