Nosel.id Jakarta- Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang unik, dipenuhi kenangan masa kecil, proses pencarian jati diri, serta panggilan hidup yang perlahan menemukan jalannya.
Bagi Herina Angelica Marimbo, perjalanan itu dimulai dari kehidupan yang hangat di tengah keluarga besar, lalu membawanya melangkah pada dunia pendidikan, pelayanan, dan berbagai kesempatan baru yang terus ia jalani dengan penuh rasa syukur.
Herina lahir dan besar di Jakarta, namun darah keluarga besarnya berasal dari Poso, Sulawesi Tengah, dan Manado. Meski tumbuh di ibu kota, nuansa kekeluargaan yang kuat selalu menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Ia mengenang masa kecil yang penuh kebersamaan, layaknya kehidupan di perumahan yang hangat dan ramah.
Tetangga-tetangga di sekitarnya tidak sekadar menjadi orang yang tinggal berdekatan, tetapi sebagian bahkan telah menjadi seperti keluarga sendiri.
Kenangan paling berkesan baginya justru hadir dari kedekatan keluarga besar. Rumahnya, rumah oma-opa, serta rumah para sepupu berada tidak jauh satu sama lain.
Sejak usia tiga tahun hingga menjelang dewasa, Herina tumbuh dalam suasana penuh tawa dan kebersamaan.
Hari-hari diisi dengan bermain bersama sepupu, berbagi cerita, dan menikmati masa kecil yang sederhana namun sangat berharga.
Momen-momen itulah yang hingga kini menjadi kenangan indah yang selalu ia simpan di hati.
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya merantau ke Manado, tempat ia menjalani masa kuliah sekaligus bekerja selama kurang lebih delapan tahun.
Perpindahan itu menjadi salah satu fase penting dalam hidupnya, sebuah perjalanan yang mempertemukannya dengan pengalaman baru, tantangan baru, dan juga kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Saat ini, Herina merupakan lulusan pendidikan Kristen dan menjalani panggilan hatinya sebagai seorang guru di sekolah TK swasta.
Bagi Herina, bekerja dengan anak-anak bukan sekadar profesi, tetapi juga bentuk pengabdian. Ia menikmati setiap proses mendampingi anak-anak belajar, melihat mereka berkembang, dan menjadi bagian kecil dari perjalanan awal kehidupan mereka.
Selain mengajar, Herina juga aktif dalam pelayanan di gereja, sebuah aktivitas yang memberinya kekuatan spiritual sekaligus ruang untuk melayani sesama.
Dalam kesehariannya, ia juga mulai menekuni berbagai kegiatan yang memperkaya hidupnya, seperti berlari dan bermain badminton sebagai bentuk menjaga kesehatan dan keseimbangan hidup.
Tidak berhenti di situ, Herina juga mencoba merintis peluang baru di dunia digital sebagai affiliate di TikTok dan Shopee. Meski masih dalam tahap awal, ia melihatnya sebagai kesempatan untuk terus belajar dan membuka pintu-pintu rezeki baru.
Ia juga pernah menjalani peran sebagai agen asuransi, walaupun saat ini aktivitas tersebut tidak lagi terlalu aktif.
Dalam pekerjaannya sebagai guru, Herina merasakan banyak hal yang membentuk dirinya. Hal yang paling ia sukai adalah kedekatannya dengan anak-anak. Ia memang memiliki kecintaan tersendiri terhadap dunia anak-anak, dan orang tua murid pun sering menunjukkan apresiasi yang baik atas dedikasinya.
Namun, seperti pekerjaan lainnya, dunia pendidikan juga memiliki tantangan. Menghadapi berbagai karakter orang tua murid, menerima kritik atau keluhan, hingga menghadapi dinamika lingkungan kerja yang tidak selalu mudah menjadi bagian dari proses yang menguji kesabaran.
Meski begitu, Herina memilih untuk melihat semua itu sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membentuk dirinya menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.
Dalam setiap langkah hidupnya, Herina selalu membawa harapan dan doa sederhana. Ia berharap dapat diberikan umur panjang dan kesehatan agar dapat menikmati lebih banyak waktu bersama keluarga tercinta.
Ia juga berharap kariernya dapat terus berkembang sehingga membuka lebih banyak pintu rezeki dan kesempatan di masa depan.
Lebih dari itu, ia ingin selalu dikelilingi oleh orang-orang yang membawa energi positif dalam hidupnya.
Sebagai penutup, Herina memiliki satu ayat Alkitab yang selalu ia pegang sebagai pegangan hidup:
“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
— Matius 6:34
Bagi Herina, pesan dari ayat tersebut sangat sederhana namun mendalam: manusia tidak perlu hidup dalam ketakutan atau kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan.
Yang terpenting adalah melakukan bagian kita dengan sebaik mungkin hari ini, dengan tulus dan penuh iman.lalu menyerahkan sisanya kepada Tuhan.
Sebuah prinsip hidup yang mengajarkan bahwa ketenangan hati sering kali lahir dari kepercayaan bahwa setiap langkah hidup selalu berada dalam rencana yang lebih besar.
Source image: herina
