Nosel.id Jakarta- Gratia Vika lahir dan besar di Purwokerto, Jawa Tengah, dalam keluarga sederhana yang sarat nilai.
Kedua orangtuanya berprofesi sebagai guru, sosok pendidik yang bukan hanya mengajarkan pelajaran di ruang kelas, tetapi juga menanamkan makna hidup di dalam rumah.
Sejak kecil, Vika belajar tentang baik dan buruk, cinta dan kasih, tanggung jawab serta konsekuensi, empati, dan bagaimana menghargai sesama.
Baru setelah dewasa, ia menyadari bahwa semua itu adalah bentuk cinta orangtua yang paling tulus kepada anaknya: mempersiapkan bekal hidup.
Selepas menikah, Vika berpindah ke Kota Bekasi, meninggalkan kota kecil yang membesarkannya.
Sebelumnya, ia memiliki perjalanan karier yang cukup panjang dan mapan.
Selama 8,5 tahun, Vika berkiprah di dunia perhotelan, industri yang menuntut profesionalisme, ketelitian, dan komunikasi yang kuat.
Posisi terakhirnya sebagai Executive Secretary & Public Relation di salah satu brand hotel ternama di Indonesia menjadi puncak dari perjalanan profesional tersebut.
Namun hidup, seperti halnya pertumbuhan, kerap meminta kita memilih.

Setelah menikah dan memiliki anak, Vika mengambil keputusan besar: berhenti dari dunia kerja dan menjalani peran baru sebagai fulltime mom.
Pilihan itu bukan keputusan mudah. Ada pergulatan batin, ada keraguan, bahkan rasa kehilangan jati diri.
Didukung penuh oleh suami, ia perlahan belajar menerima dan menjalani peran barunya, meski kenyataannya, menjadi ibu penuh waktu jauh dari kata mudah.
Overthinking, rasa lelah emosional, hingga perasaan tidak berguna pernah menghampiri.
Vika pun mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah berguna hanya diukur dari pencapaian di luar rumah?
Lalu bagaimana dengan mereka yang ada di dalamnya anak dan suami?
Dari situlah kesadaran itu tumbuh. Ia menyadari bahwa dirinya ternyata sangat berarti.
Ia adalah dunia bagi anaknya, tempat pertama belajar tentang cinta dan rasa aman.
Ia juga menjadi dunia bagi suaminya, tempat pulang setelah lelah menghadapi kerasnya kehidupan di luar sana.
Tawa bahagia mereka perlahan menghapus keraguan dan menggantikannya dengan rasa syukur yang dalam.
Bagi Vika, harmoni hidup lahir dari kemampuan mencintai dengan tulus dan bersyukur atas peran apa pun yang sedang dijalani.
Ketika peran diterima dengan ikhlas, ia berubah menjadi energi positif yang mengalir di setiap sudut rumah, menghadirkan kehangatan dan ketenangan dalam keluarga.
Di tengah peran domestiknya, Vika juga memilih untuk tetap mencintai dirinya sendiri.
Home florist menjadi ruang kecil baginya untuk berkarya, pengembangan dari hobi yang bisa dikerjakan dari rumah.
Meski belum besar, ia percaya bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bentuk merawat potensi diri. Baginya, memulai lebih penting daripada menunggu segalanya sempurna.
Harapan Vika sederhana namun luas: semoga seluruh aspek kehidupan keluarga, karier, ekonomi, kesehatan, dan sosial—terus bertumbuh dengan baik.
Ia juga berdoa agar selalu mampu melihat sisi positif dari apa pun yang terjadi, karena dari situlah kekuatan dan ketenangan lahir.

Pesan yang ingin ia titipkan pun penuh makna:
“Cintailah dengan tulus dan bersyukur untuk setiap peran di kehidupan kita.
Lakukan dengan maksimal, karena kita tidak pernah tahu seberapa berartinya peran kecil kita untuk orang lain.”
Kisah Gratis Vika adalah pengingat bahwa makna hidup tidak selalu berisik di panggung besar.
Kadang, ia tumbuh diam-diam, di dalam rumah, dalam pelukan, dan dalam cinta yang dijalani dengan sepenuh hati.
Source image: vika












