Nosel.id Jakarta- Fatmawati Mansyur tumbuh dengan pengalaman hidup lintas negara yang membentuk cara pandangnya sejak dini.
Ia lahir dan besar di Malaysia, mengikuti jejak kedua orang tuanya yang telah menetap dan menjadi warga negara Malaysia sejak usia muda.
Masa kecil Fatmawati ia kenang sebagai fase yang sangat baik, bukan hanya karena lingkungan yang mendukung, tetapi juga karena pendidikan yang kuat dan disiplin yang ia terima selama tinggal di sana.
Sejak kecil, Fatmawati dikenal aktif dan penuh rasa ingin tahu.
Ia terbiasa terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari olahraga, musik, hingga kompetisi akademik.
Aktivitas-aktivitas tersebut bukan sekadar pengisi waktu, melainkan proses pembentukan karakter: berani mencoba, siap berkompetisi, dan tidak mudah menyerah.
Memasuki usia SMA, Fatmawati pindah ke Indonesia sebuah fase transisi besar dalam hidupnya.
Namun, nilai-nilai kedisiplinan dan kerja keras yang tertanam sejak kecil tetap ia bawa, hingga akhirnya mengantarkannya pada dunia yang kini ia geluti dengan sepenuh hati.
Saat ini, Fatmawati berkarier sebagai cake decorator sekaligus pemilik cakeshop yang ia bangun dari nol.
Dunia pastry yang penuh detail, presisi, dan kreativitas menjadi ruang baginya untuk berkarya sekaligus bertumbuh sebagai pengusaha.

Membangun usaha sendiri bukan perjalanan yang mudah, namun Fatmawati menjalaninya dengan konsistensi dan komitmen tinggi.
Di luar pekerjaannya, satu hal yang tak pernah ia tinggalkan adalah olahraga.
Bagi Fatmawati, olahraga bukan tren, melainkan kebutuhan hidup. Gym, Hyrox, lari, body combat, hingga padel menjadi bagian dari rutinitasnya.
Ia berlatih hampir setiap hari, dengan waktu recovery maksimal dua hari dalam seminggu bahkan itu pun sering diselingi aktivitas ringan.
Suka duka tentu ada. Salah satu tantangan terbesarnya justru datang dari tubuh sendiri—DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness), ketika badan butuh pemulihan namun pekerjaan sedang berada di puncak kesibukan. Di titik-titik itulah disiplin dan manajemen diri diuji.
Namun Fatmawati memilih untuk mendengarkan tubuhnya tanpa mengorbankan tanggung jawab, menyeimbangkan keduanya dengan penuh kesadaran.
Lebih dari sekadar rutinitas pribadi, Fatmawati menyimpan harapan besar.
Ia ingin semakin banyak perempuan Indonesia sadar akan pentingnya kesehatan diri, dan tetap memprioritaskan olahraga meski memiliki segudang peran dan aktivitas.
Melalui hidupnya sendiri, ia ingin memberi contoh bahwa menjadi ibu, single parent, dan pengusaha bukan alasan untuk mengabaikan diri sendiri.
Baginya, perempuan yang kuat bukan hanya yang mampu bertahan, tetapi juga yang merawat dirinya dengan sadar dan konsisten.
Pandangan hidup Fatmawati tercermin dari cara ia menyikapi kehidupan sehari-hari.
Ia percaya bahwa orang yang benar-benar “chill” dengan hidupnya tidak mudah terpicu oleh keadaan.
Mereka memilih untuk berhenti sejenak, merefleksikan, lalu merespons dengan tenang.
Tidak hidup demi validasi, tidak sibuk membandingkan diri, karena memahami bahwa setiap orang punya timeline masing-masing.

Ketika seseorang nyaman menjadi dirinya sendiri, ia akan mengusahakan berbagai bentuk self-love, bukan untuk dilihat orang lain, tetapi karena ia tahu dirinya layak mendapatkannya.
Di tengah peran, tekanan, dan tuntutan hidup, Fatmawati Mansyur berdiri sebagai representasi perempuan modern: disiplin, sadar diri, sehat secara fisik dan mental, serta berjalan mantap di jalannya sendiri, tanpa terburu-buru, tanpa membandingkan, dan tanpa kehilangan arah.
Source image: Fatmawati













