Nosel.id Jakarta- Di tengah ritme hidup yang serba cepat, Evi Susanti atau dikenal dengan Evie Alice hadir sebagai sosok perempuan yang mampu menjaga keseimbangan tanpa kehilangan arah.
Baginya, disiplin bukanlah sekadar aturan, tetapi fondasi dari kebebasan. “Saya tidak menunggu waktu luang, saya menciptakannya,” begitu prinsip yang ia pegang erat sejak awal membangun karier dan kehidupan.
Evi percaya bahwa hidup produktif tidak berarti melakukan segalanya sekaligus.
Ia justru menata harinya dengan prioritas yang jelas.
Pagi hingga sore ia dedikasikan untuk dua hal: menjaga tubuh tetap bugar dan memastikan operasional bisnis berjalan efektif.
Malam hari, ia kembali ke gym untuk memberi ruang pada dirinya sendiri sebelum akhirnya pulang dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.
Dalam setiap jam yang ia jalani, ada konsistensi, ada keharusan, ada kesadaran bahwa disiplin adalah bentuk cinta pada diri sendiri.
Ada nilai-nilai yang menjadi kompas bagi langkah Evi, seperti:
Integritas adalah nomor satu, karena bagi Evi, kepercayaan adalah modal yang tak bisa dibeli lalu disiplin tanpa drama: fokus pada solusi, bukan tenggelam dalam keluhan.
Selanjutnya ialah kemandirian sebagai identitas, perempuan harus mampu berdiri tegak atas namanya sendiri dan terakhir mental pembelajar.
Kalah, jatuh, atau gagal bukan akhir, melainkan pintu menuju versi diri yang lebih kuat.
Ia memilih untuk tidak terikat pada label apa pun.
Evi bergerak sebagai perempuan yang tahu tujuan, tahu nilai diri, dan tahu arah yang ia ingin tuju.
Dalam perjalanan panjangnya, Evi bertemu berbagai karakter, yang mendukung, menantang, bahkan menguji batas kesabarannya.

Semua itu ia jadikan mentor yang membentuk ketegasan dan kematangannya hari ini.
Tetapi jika diminta menyebut satu figur yang paling mempengaruhi dirinya, jawabannya selalu sama: Ibunya.
Dari sang Ibu, Evi belajar menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan.
Menjadi tegas tanpa meninggalkan empati. Kombinasi yang menjadi fondasi karakter kepemimpinan yang ia bangun.
Bagi Evi, keseimbangan hidup bukan tentang melarikan diri, melainkan berani melepaskan hal-hal yang lebih banyak menguras dibanding mengisi energi.
Healing tak perlu tempat jauh kadang cukup dengan memasak, berolahraga, atau menikmati sunyi tanpa gangguan.
Dalam memimpin, ia berpegang pada tiga prinsip:
Lead by Example, ia tidak pernah menetapkan standar yang tidak ia jalani, kemudian Empati dengan batasan: peduli bukan berarti membiarkan; tegas bukan berarti keras.
Dan terakhir kejelasan arah: setiap anggota tim harus memahami gambaran besar, bukan sekadar mengerjakan tugas.
Evi ingin melihat timnya berkembang, bertumbuh, dan menemukan versi terbaik diri mereka, bukan hanya menyelesaikan pekerjaan.
Di dunia yang sering menuntut kita untuk menyesuaikan diri, Evi justru mengajak perempuan untuk berdiri tegak dalam keunikannya.

“Walk your own path with intention. The world doesn’t need another copy. It needs your unique light.”
Dan inilah pengingatnya:
Jangan pernah meminta maaf karena menjadi perempuan yang tahu apa yang ia inginkan.
Dunia sedang menunggu kehadiran itu.
Source image: evie alice














