Nosel.id Jakarta- Era tumbuh di sebuah desa kecil, di perbatasan kota.
Lingkungannya sederhana, jauh dari hiruk-pikuk pusat industri kreatif, namun penuh dengan satu hal yang sangat berharga: keluarga yang hangat dan saling menguatkan.
Ia adalah anak sulung dari tiga bersaudara, sangat dekat dengan kedua adiknya, dan memiliki orang tua yang selalu menjadi tempat pulang sekaligus sumber kekuatan.
Perjalanan Era sebagai seorang Make Up Artist dimulai pada tahun 2018.
Tanpa modal besar, tanpa peralatan lengkap, bahkan tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang kecantikan.
Saat itu, make up hanyalah hobi, kegiatan iseng yang perlahan berubah menjadi sumber penghasilan.
Era tidak pernah memasang ekspektasi tinggi, karena ia sadar betul bahwa kemampuannya masih sangat dasar.
Namun dari kejujuran dan keberaniannya untuk mencoba, satu demi satu klien mulai datang.
Apa yang terlihat hari ini sebagai “kesuksesan kecil” sejatinya dibangun dari perjuangan yang tidak ringan.
Hujan dan panas diterabas, janji harus ditepati apa pun keadaannya.
Ada masa di mana Era harus berangkat jam tiga subuh, berboncengan motor bersama ibunya, menembus gelap dan dingin demi tanggung jawab pada klien.
Bahkan demi pekerjaan bernilai kecil, mereka rela menginap di rumah klien karena rasa takut menempuh perjalanan subuh dengan motor.

Di sanalah makna perjuangan dan pengorbanan keluarga benar-benar ia rasakan.
Ketika usaha mulai menunjukkan hasil, cobaan datang bertubi-tubi.
Pandemi Covid-19 di tahun 2019–2020 membuat hampir seluruh aktivitas berhenti.
Banyak yang menyerah, banyak yang memilih diam. Namun Era memilih berpikir.
Ia memutar otak, membuat paket-paket kecil agar usahanya tetap berjalan.
Tidak besar, tidak mewah, yang penting tidak berhenti. Baginya, bergerak pelan jauh lebih baik daripada diam dan menyerah.
Seiring waktu, Era terus mengembangkan diri. Ia mengikuti berbagai workshop, belajar dari banyak tempat, dan memperbaiki kualitas karyanya sedikit demi sedikit.
Namun perjalanan sebagai MUA muda juga tidak lepas dari suka dan duka. Tidak semua klien menghargai profesinya.
Usia yang masih muda sering kali membuatnya diremehkan, bahkan menerima ucapan yang kurang pantas.
Tapi dari situ pula mentalnya ditempa, belajar sabar, belajar profesional, dan belajar tetap berdiri meski tidak selalu dihargai.
Bagi Era, rintangan adalah bagian dari proses. Rasa ragu adalah hal yang manusiawi.
Namun satu prinsip yang selalu ia pegang teguh adalah: selama tidak berhenti, selama masih mau berusaha, jalan akan selalu terbuka.

Perjalanan Era adalah cermin bagi banyak anak muda di luar sana bahwa mimpi tidak selalu lahir dari kota besar, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, dan bahwa ketekunan, doa, serta dukungan keluarga mampu membawa seseorang melampaui bayangan terjauh yang pernah ia pikirkan.
“Rintangan itu pasti, ragu itu wajar. Tapi selama kita tidak berhenti, kita akan sampai, bahkan lebih dari apa yang pernah kita bayangkan.”
Source image: era














