Nosel.id Jakarta- Elsha Ramadhani Dima Putri lahir dan besar di Kota Bekasi.
Meski dikenal sebagai kota penyangga ibu kota yang dinamis, bagi Elsha, Bekasi adalah rumah yang penuh kehangatan.
Ia tumbuh dalam keluarga sederhana namun kaya cinta. Terlahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, dengan orang tua berdarah Jawa tulen.
Elsha dibesarkan dalam lingkungan yang menjunjung nilai kebersamaan, dukungan, dan kasih sayang, fondasi penting yang membentuk karakternya hingga hari ini.
Sejak duduk di bangku SMP, Elsha sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia bisnis.
Meski dimulai dari usaha kecil dan sering berganti-ganti, semangatnya untuk mencoba tak pernah padam.
Ia selalu percaya bahwa peluang akan muncul bagi mereka yang mau bergerak dan terus belajar.
Kebiasaan ini terbawa hingga kini, saat ia menjalani peran utamanya sebagai mahasiswi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI).
Di luar aktivitas kuliah, Elsha dikenal aktif dan gemar mengeksplorasi berbagai pengalaman.
Saat akhir pekan atau libur semester, ia kerap mengambil pekerjaan freelance mulai dari BA, usher, model, hingga pekerjaan lain yang memungkinkan untuk dijalani.
Baginya, setiap pengalaman adalah ruang belajar.
Ia menikmati proses bertemu orang baru, mencoba hal baru, dan melatih kemandirian sejak usia muda.

Tahun 2023 menjadi salah satu momen penting dalam perjalanannya, ketika Elsha mengikuti ajang Abang Mpok Kota Bekasi dan meraih gelar Mpok Favorit.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa konsistensi, keberanian mencoba, dan kepercayaan diri mampu membuka jalan yang lebih luas.
Menariknya, sejak SD hingga SMA, Elsha juga dikenal sebagai siswi berprestasi selalu masuk peringkat tiga besar di sekolah.
Menjalani banyak aktivitas sejak muda tentu menghadirkan dua sisi.
Sisi menyenangkannya, Elsha sudah bisa merasakan hasil dari usahanya sendiri, membeli kebutuhan dan keinginannya dengan uang yang ia hasilkan.
Meski nilainya mungkin tak besar bagi sebagian orang, baginya itu adalah kebanggaan dan simbol kemandirian.
Namun, ia juga tak menutup mata pada sisi lelahnya. Kesibukan yang menumpuk kadang memicu burnout.
Dari sanalah Elsha belajar satu hal penting: manajemen waktu dan ekspektasi.
Ia berusaha tidak memaksakan diri, mengatur jadwal agar tidak saling berbenturan, dan tidak menaruh harapan berlebihan agar tak mudah kecewa.
Prinsipnya sederhana: berdoa, berusaha, lalu mengikuti alur kehidupan.
Ada satu kalimat yang selalu ia pegang saat menghadapi masa sulit: “It will pass.”
Sebuah mantra kecil yang mengingatkannya bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar abadi.
Harapan Elsha ke depan pun lahir dari kesadaran akan proses.
Ia ingin terus berkembang dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, serta konsisten dalam menjalani setiap langkah.

Bukan tentang seberapa cepat sampai tujuan, melainkan seberapa sungguh-sungguh ia menjalani perjalanannya.
Untuk para pembaca di seluruh Indonesia, Elsha menitipkan pesan yang jujur dan membumi:
Jika sedang capek, stres, atau burnout, percayalah, it will pass.
Tidak semua hal harus selesai hari ini. Kalau lelah, istirahatlah, bukan menyerah. Pelan-pelan saja, yang penting tetap berjalan.
Karena hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mampu bertahan dan terus melangkah dengan harapan.
Source image: Elsha Ramadhani Dima Putri














