Nosel.id Jakarta- Lahir dan tumbuh sebagai perempuan Betawi di Jakarta membuat Elsaecha tak pernah benar-benar jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan.
Jakarta dengan segala kesibukannya, keberagaman ras, serta toleransi antarumat beragama menjadi ruang belajar hidup yang membentuk karakternya sejak kecil.
Kota ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga saksi bagaimana ia tumbuh, beradaptasi, dan menemukan jati diri di tengah dinamika yang tak pernah berhenti.
Langkah Elsaecha dalam dunia organisasi berawal dari keinginannya untuk berkembang di bidang bisnis.
Ia bergabung dengan HIPMI sebagai ruang kolaborasi, belajar, dan memperluas jejaring usaha. Dari sana, pintu-pintu lain terbuka.
Ia pun aktif mengikuti organisasi lain sebagai sarana memperkaya wawasan, melatih kemampuan bersosialisasi, dan memperluas perspektif hidup.

Baginya, organisasi bukan hanya soal jabatan atau kesibukan, melainkan proses bertumbuh bersama orang-orang dengan latar belakang dan tujuan yang beragam.
Menariknya, Elsaecha tidak memandang dunia organisasi sebagai ruang penuh drama. Ia justru menikmati setiap prosesnya.
Tidak ada duka yang berarti, yang ada hanyalah tantangan untuk mengatur waktu dengan bijak agar semua peran dapat berjalan seimbang.
Dari situlah ia belajar tentang kedisiplinan, komitmen, dan pentingnya manajemen waktu dalam kehidupan yang aktif.
Di balik segala aktivitas dan pencapaiannya, Elsaecha menyimpan harapan sederhana namun bermakna.
Ia berharap setiap usaha yang dijalaninya dapat berjalan lancar, selalu diberikan kesehatan, serta rezeki yang cukup.
Bukan semata untuk diri sendiri, tetapi agar ia bisa terus berbagi dan memberi manfaat bagi sesama.
Sebagai perempuan, Elsaecha memegang prinsip kuat tentang kemandirian.

Baginya, perempuan harus mampu berdiri di atas kakinya sendiri, dalam pikiran, sikap, dan keputusan hidup.
Ia percaya bahwa tindakan terkuat seorang wanita adalah mencintai dirinya sendiri, berani menjadi dirinya sendiri, dan tetap bersinar meski berada di antara mereka yang tak pernah percaya bahwa ia bisa.
Prinsip inilah yang terus ia genggam, menjadi energi untuk melangkah maju tanpa ragu, sebagai perempuan yang berdaya dan menginspirasi.
Source image: elsaecha













