Nosel.id Jakarta- Bandung menjadi titik awal perjalanan hidup Eca Maresha. Kota yang tak selalu ramah, penuh perjuangan dan proses jatuh bangun, namun dibalut oleh “tangki kasih” yang tak pernah kosong dari orang tua.
Dari merekalah Eca belajar satu prinsip yang terus dipegang hingga hari ini: beradab dulu sebelum berilmu.
Didikan itu menjelma menjadi fondasi kuat—membuatnya tumbuh bukan hanya cerdas, tetapi juga utuh sebagai manusia.
Eca menjalani hidup dengan pilihan yang tidak banyak diumbar.
Ia memiliki bisnis, namun memilih menyimpannya sebagai ruang personal.
Baginya, semakin private hidup dijalani, semakin tenang dan damai jiwa terasa.
Di tengah dunia yang gemar memamerkan pencapaian, Eca justru menemukan kekuatan dalam keheningan dan fokus pada makna.
Salah satu pelarian sekaligus pelajaran terbesarnya datang dari dunia berkuda.
Bagi Eca, berkuda bukan sekadar hobi, melainkan bentuk cinta pada alam dan binatang, tempat ia merasa “pulang ke rumah”.
Di atas punggung kuda, ia belajar tentang fokus, ketenangan, dan pengendalian emosi.

Kuda mengajarkannya hadir sepenuhnya di saat ini; tidak terburu-buru, tidak panik, dan selalu selaras antara pikiran serta perasaan.
Ada ikatan batin yang tak bisa dijelaskan dengan logika, hanya bisa dirasakan: tenang, damai, dan utuh.
Tentu, suka dan duka datang silih berganti. Dukanya tak sedikit, namun justru di sanalah tantangan membentuknya.
Setiap luka menjelma pelajaran, setiap rintangan menjadi penguat langkah. Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk tumbuh.
Harapan Eca sederhana namun dalam: karier yang baik, ekonomi yang cukup, kesehatan yang terjaga, serta kehidupan sosial yang memberi manfaat.
Semua ia niatkan dengan keberkahan agar setiap langkahnya bukan hanya berhasil, tetapi juga berarti bagi umat dan disambut dengan kasih yang tulus.
Eca percaya, hidup ini pada dasarnya penuh masalah.
Karena itu, pesannya tegas namun menguatkan:
Jangan berhenti berjalan. Jangan terpuruk terlalu lama. Beranilah bangkit dan keluar dari zona nyaman.
Dunia sering kali tampak menakutkan hanya karena ketakutan yang belum pernah terjadi. Saat dijalani, realitanya sering kali jauh lebih bisa dihadapi daripada yang dibayangkan.
Menurut Eca, banyak orang menilai manusia dari kepintaran, potensi, dan status sosial. Namun ia memilih sudut pandang berbeda.

Ia melihat kesuksesan bukan hanya dari puncaknya, tetapi dari seberapa sulit perjalanan yang ditempuh, seberapa berani seseorang menerjang badai, dan seberapa kuat ia bertahan hingga akhirnya sampai.
Di situlah letak keindahan yang sesungguhnya.
Dunia ini luas. Saat terpuruk, jangan merasa kecil. Justru dari titik terendah itulah cahaya bisa meledak, membawa mimpi-mimpi menjadi nyata.
Tetap semangat, tetap melangkah karena setiap perjalanan yang jujur, sekecil apa pun, selalu punya tujuan yang bermakna.
Source image: Eca Maresha













