Nosel.id Jakarta- Bagi Dwi Bidari, masa kecil adalah fondasi kebahagiaan yang terus ia bawa hingga hari ini.
Ia lahir dan besar di Bangka Belitung, tepatnya di Kota Pangkalpinang, sebuah tempat yang ia kenang dengan penuh cinta.
Dwi tumbuh dalam lingkungan kampung yang hangat, di mana kebersamaan bukan sekadar kata, melainkan kebiasaan hidup sehari-hari.
Ia mengenang masa kecilnya sebagai fase paling membahagiakan, bebas bermain, dikelilingi teman-teman yang kompak, serta tetangga yang ramah tanpa sekat.
Silaturahmi di lingkungannya terjalin begitu kuat, menghadirkan rasa aman dan nyaman yang membentuk kepribadiannya hingga kini. “Honestly, I love my childhood,” ujarnya sederhana, namun penuh makna.
Kini, Dwi menjalani kehidupan sebagai seorang freelancer dengan ragam peran yang menunjukkan betapa ia mencintai apa yang ia kerjakan.
Baginya, bekerja bukanlah beban, karena pekerjaan adalah hobinya.
Dunia modeling, WO/LO, juri modeling, host pariwisata, talent pariwisata, usher event, KOL, hingga brand ambassador telah ia jalani dengan sepenuh hati.
Di sela kesibukannya, Dwi juga menyempatkan diri untuk berolahraga, khususnya running, yang awalnya hanya selingan agar tetap aktif.

Namun kini, ia mulai lebih konsisten berlari dua hingga tiga kali seminggu, selama tidak berbenturan dengan pekerjaan.
Menariknya, ketika tak ada job atau event, Dwi tak segan membantu sang ibu di warung kecil milik keluarga.
Sebuah potret sederhana tentang tanggung jawab, bakti, dan kerendahan hati.
Seperti profesi lainnya, dunia freelancer memiliki sisi terang dan gelap.
Dwi jujur mengakui, masa tanpa job bisa menjadi tantangan tersendiri, bahkan bisa berlangsung hingga dua minggu atau lebih.
Sebaliknya, ketika pekerjaan datang bertubi-tubi, ia harus berpacu dengan waktu, sering kali menangani hingga tiga job dalam sehari.
Kondisi ini menuntut manajemen waktu yang ketat, terutama dalam hal pembuatan konten dan editing yang kadang terasa tidak maksimal.
Namun Dwi punya caranya sendiri. Ia terbiasa membuat jadwal sejak H-1, mencatat semua agenda, dan menyiapkan alur kerja bahkan sebelum tidur. “CATAT,” menjadi kunci utamanya.
Alarm dan to-do list bukan sekadar pengingat, melainkan penyelamat agar semua tetap berjalan dengan baik.
Berbicara tentang harapan, Dwi menyimpan doa-doa sederhana namun dalam. Ia berharap kelak tetap bisa menjalani passion-nya meski telah berumah tangga.
Lebih dari itu, ia ingin berbagi ilmu dan pengalaman kepada siapa pun, teman, keluarga, bahkan orang asing yang ingin menapaki jalan serupa.
Saat ini, Dwi masih menjadi tulang punggung bersama sang ibu, sementara kakaknya telah memiliki keluarga kecil sendiri.
Baginya, sejauh apa pun melangkah dan ke mana pun berkelana, keluarga tetaplah rumah paling nyaman.
Dukungan merekalah yang membuatnya mampu bertahan dan berkembang. Ia percaya, semua yang ia capai hari ini tak lepas dari doa orang-orang terdekat.
Menutup kisahnya, Dwi menyampaikan pesan hangat untuk para pembaca di seluruh Indonesia:

“Besar harapanku, kalian bisa melakukan hal-hal yang kalian sukai. Miliki power dan keinginan besar untuk menjadi pribadi yang berguna.
Apa yang disukai, ayo lakukan. Apa yang diinginkan, ayo gapai. Semua butuh proses, dan dari proses itulah kita belajar bahwa suatu hari nanti semua akan terwujud.”
Ia mengajak siapa pun untuk berani percaya diri dan optimis. Jangan takut gagal, karena yang lebih menakutkan adalah tidak pernah berani memulai.
“Sehat-sehat untuk kita yang sedang berjuang. InsyaAllah, satu per satu semua akan terkabulkan.”
Source image: Dwi Bidari













