Nosel.id Jakarta- Dari kota Bengkulu yang tenang dan tak banyak polusi, datanglah seorang perempuan dengan tekad kuat dan visi yang jelas tentang hidupnya.
dr. Rani Hartati Winanda, sang anak tengah dari tiga bersaudara, membawa serta kesederhanaan kota kelahirannya dalam setiap langkah karirnya.
“Keluarga saya seperti keluarga orang pada umumnya,” kenangnya dengan rendah hati.
Meski mengakui dirinya pribadi yang “cuek dan gengsi“, ia bersyukur karena keluarganya selalu mampu mengimbangi karakter tersebut.
Perjalanan Rani menjadi dokter memang tak lepas dari harapan orang tua.
“Cita-cita saya dari dulu keinginan orangtua juga,” akunya dengan jujur. Namun, di luar dunia kedokteran, ia juga dipercaya mengelola properti milik orang tuanya.
Kombinasi ini menunjukkan kemampuannya menyeimbangkan antara tanggung jawab keluarga dan pengembangan diri.

Di dunia kedokteran yang luas, Rani menemukan passion-nya di bidang estetik. Pilihannya ini bukan tanpa alasan.
“Kebetulan saya dokter aesthetic karena memang fashion saya dan saya menyukai dunia kecantikan,” ungkapnya.
Alasan praktis juga mendukung pilihannya: “bekerja tidak pake shift malam atau jaga malam kalau di estetik.”
Pilihan ini mencerminkan kecerdasannya dalam memadukan minat pribadi dengan pertimbangan praktis kehidupan.
Daripada terjebak dalam rutinitas yang tak disukai, ia memilih spesialisasi yang selaras dengan passion dan gaya hidupnya.
Di masa depan, Rani berharap bisa melanjutkan sekolah lagi dan membuka klinik sendiri.
Untuk kehidupan pribadi, ia bermimpi tentang keluarga yang harmonis: “Suami saya spesialis bisa punya anak-anak yang sehat cantik dan ganteng.”
Yang menyentuh, ada harapan khusus untuk keluarga: “Jadi anak yang paling sukses dan paling bisa diandalkan di keluarga.”
Sebuah tekad yang menunjukkan rasa tanggung jawabnya yang besar sebagai anak.
Pesan Rani untuk generasi muda begitu powerful dan lahir dari pengalaman pribadi.

“Sekolah itu jangan ikut-ikutan orang mau jadi apa, jangan ikutan gengsi, jangan ikutin mau nya orang tua.”
Kalimat ini seperti pelajaran berharga dari perjalanannya sendiri yang sempat mengikuti keinginan orang tua.
“Harus mau nya diri sendiri, harus yang kita suka,” tegasnya. Logikanya sederhana tapi mendalam: “Agar hasilnya tidak suka-suka juga.”
Keyakinannya tak tergoyahkan: “Pekerjaan yang dimulai dari kita suka pasti akan besar nantinya.”
Source image: rani












