Nosel.id Jakarta- Bandung selalu menjadi rumah bagi dr. Clarissa Siswara, kota sejuk yang menyimpan begitu banyak kenangan, mulai dari hangatnya kasih keluarga hingga pengalaman yang membentuk ketangguhannya.
Ia lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga dokter yang sibuk, di tengah ritme hidup yang cepat, penuh tanggung jawab, dan kerap menuntut kedewasaan lebih awal.
Pada usia 13 tahun, hidup menghadirkan tantangan besar: kedua orang tuanya berpisah.
Peristiwa itu melahirkan karakter yang sulit dipatahkan. Mandiri, kuat, dan mampu berdiri di tengah perubahan hidup.
“Bandung mengajarkan saya arti keluarga, cara bertahan, dan bagaimana bangkit,” ungkapnya.
Clarissa tumbuh bersama saudara kembarnya, yang kini sama-sama membangun bisnis klinik kecantikan.
Keduanya menapaki jalan yang selaras, seperti dua sisi cermin yang bergerak dengan komitmen yang sama: memberikan manfaat dan kepercayaan diri kepada banyak orang.
Sedari remaja, Clarissa sebenarnya memiliki cita-cita berbeda: menjadi sutradara.
Ia mencintai seni, musik, lukisan, dan teater. Ia menikmati harmoni, detail, storytelling, dan estetika.
Namun, darah dan nilai dalam keluarga dokter membuatnya menyadari bahwa membantu orang lain juga bagian penting dari dirinya.
Perpaduan dua dunia inilah yang akhirnya membawanya pada profesi sebagai dokter estetika.
Di bidang ini, ia menemukan ruang untuk menggabungkan ilmu medis dengan seni visual.

Menurutnya, estetika bukan hanya soal prosedur; itu adalah komposisi, harmoni, proporsi, dan kepekaan. Segala hal yang juga hadir dalam piano dan kanvas lukisannya.
“Bermain piano dan melukis banyak membantu saya memahami keindahan wajah. Ada seni di balik setiap keputusan klinis,” katanya.
Bekerja sebagai dokter estetika berarti berada di tengah ekspektasi yang tinggi. Setiap wajah membawa keinginan unik, harapan personal, dan definisi cantik yang berbeda-beda.
Clarissa harus membaca semuanya dengan presisi dan empati.
Karena profesi ini sejalan dengan passion-nya, Clarissa menjalaninya dengan hati yang ringan.
Namun, ia tetap harus menata manajemen waktu: kapan menjadi dokter, kapan menjadi entrepreneur, dan kapan kembali fokus pada dirinya sendiri.
Traveling baginya bukan hanya liburan. Di setiap perjalanan, ia menyelipkan agenda belajar: workshop estetika, update tren internasional, hingga observasi klinik di negara lain.
Ia percaya bahwa liburan yang disertai tujuan membawa pulang pengetahuan dan energi yang jauh lebih besar.
Untuk keluarga, Clarissa hanya berharap yang sederhana namun paling berharga: kesehatan, kebahagiaan, dan kebanggaan atas apa yang ia capai.
Untuk karier, ia berdoa agar selalu berada di jalur peningkatan stabil, pasti, dan meluas.
Impiannya jelas: membangun klinik kecantikan terbaik di Indonesia, yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Untuk dirinya sendiri, ia berharap diberi kekuatan fisik dan kestabilan mental agar dapat melangkah tanpa goyah.
Untuk sosial, ia ingin terus menjadi pribadi yang mudah beradaptasi dan mampu menjalin hubungan baik dengan siapa pun, tanpa memandang latar belakang.
Di tengah dunia yang cepat, bising, dan penuh opini, Clarissa memegang prinsip:
“Fokuslah pada tujuanmu dan jangan terlalu memikirkan omongan orang lain. Hanya kamu yang memegang kendali atas hidupmu.”
Ia percaya bahwa kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan adalah pondasi yang akan selalu selaras dengan hasil. Setiap tantangan bukan untuk ditakuti, tetapi untuk membentuk seseorang menjadi lebih kuat dan lebih sukses.
Dan pesan penutupnya, yang kini menjadi mantra banyak orang:
“Tetap berkelas walau dunia berisik, karena hasilmu akan berbicara lebih keras dari opini siapa pun.”
Source image: clarissa















