dr. Bheta Silfana Ulul Azmi: Belajar Bersyukur dari Setiap Detak Kehidupan

Nosel.id Jakarta- Sejak kecil, dr. Bheta Silfana Ulul Azmi telah terbiasa dengan perpindahan.

Mengikuti jejak orang tua yang merupakan anggota TNI, ia tumbuh dalam dinamika berbagai kota, lingkungan, dan pengalaman baru.

Kehidupan yang berpindah-pindah itu tanpa disadari membentuk dirinya menjadi pribadi yang adaptif, kuat, dan terbuka terhadap perubahan.

Perjalanan tersebut akhirnya membawanya menetap di Kota Bandung setelah menyelesaikan pendidikan. Kota ini bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga menjadi ruang penuh makna dalam hidupnya.

Dengan udara yang sejuk dan suasana yang tenang, Bandung memberikan kenyamanan tersendiri. Lebih dari itu, kota ini menyimpan banyak kenangan bersama almarhum sang ayah, kenangan yang kini menjadi penguat langkahnya setiap hari.

Saat ini, ia menjalani kehidupan bersama ibu dan kakaknya, dalam kehangatan keluarga yang terus menjadi sumber energi.

Menariknya, jalan hidup dr. Bheta tidak selalu sesuai dengan rencana masa kecilnya. Ia pernah bermimpi menjadi seorang arsitek.

Namun, takdir membawanya ke dunia medis sebuah jalan yang awalnya mungkin tak terbayangkan, tetapi kini justru menjadi panggilan hidupnya.

Sebagai dokter di ruang hemodialisa, ia setiap hari berhadapan langsung dengan pasien yang berjuang untuk mempertahankan kualitas hidupnya.

Di ruang inilah, makna profesi dokter menjadi begitu nyata. Bukan sekadar tentang ilmu dan tindakan medis, tetapi juga tentang empati, ketulusan, dan kehadiran sebagai sesama manusia.

Baginya, salah satu momen paling berharga adalah ketika pasien yang telah menjalani perawatan mengucapkan terima kasih dan mendoakan kebaikan. Sebuah hal sederhana, namun memiliki dampak yang begitu dalam.

Padahal kami hanya perantara Allah SWT, dan kami bukan keluarga mereka. Tapi didoakan hal baik oleh orang yang bahkan tidak kita kenal, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan,” ungkapnya.

Dalam setiap harinya, dr. Bheta belajar bahwa kesehatan adalah nikmat yang sering kali baru disadari saat mulai terganggu. Dari situlah, rasa syukur tumbuh, bukan hanya sebagai tenaga medis, tetapi juga sebagai manusia.

Ke depan, harapannya sederhana namun penuh makna. Ia ingin terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, terus belajar, serta selalu diberi kesempatan untuk bersama keluarga dan orang-orang terkasih.

Lebih dari itu, ia ingin menjalani hidup dengan keberkahan dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagai refleksi, dr. Bheta menyampaikan pesan yang lembut namun menenangkan:

Sesungguhnya alam semesta tidak sedang terburu-buru, kitalah yang tanpa sadar membuat seolah terburu-buru.

Dari situlah muncul rasa cemas, stres, dan kecewa. Jadi percayalah, bahwa apa yang memang menjadi milikmu, akan tetap menjadi milikmu.”

Sebuah pengingat bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang bagaimana kita menjalani setiap proses dengan penuh kesadaran, syukur, dan keikhlasan.

 

Source image: dr Bheta