Nosel.id Jakarta-Di sebuah kota di Provinsi Kalimantan Tengah dengan suasana yang tenang, udara hangat dan masyarakat yang ramah lahir seorang perempuan yang tumbuh dengan tangki cinta yang selalu terisi penuh.
Namanya Dini Ariyani. Masa kecilnya berjalan dalam kecukupan, tetapi lebih dari itu, ia tumbuh dalam limpahan perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya.
Itulah bekal pertamanya sebelum mengenal dunia konten, kamera, dan makeup.
Semua berawal dari satu keinginan sederhana namun tulus: ingin punya makeup yang banyak.
Keinginan itu mendorong Dini untuk membuat konten, bereksperimen dengan warna, mencoba teknik baru, dan menunjukkan kreativitas yang selama ini ia pendam.
Tanpa ia duga, video-video itu mulai mendapatkan perhatian. Satu per satu menjadi viral, disukai, dibagikan, dan dibicarakan.
Dari sana, pintu baru terbuka, brand mulai melirik, tawaran kerja berdatangan, dan Dini mulai menapaki jalan yang sebelumnya hanya ia bayangkan.

“Alhamdulillah,” begitu ia selalu berkata. Sebab semua ini bukan hanya soal keberuntungan, tapi juga proses panjang dan keberanian untuk mulai.
Namun seperti perjalanan siapa pun yang sedang tumbuh, tidak semuanya mulus. Dunia konten menuntut banyak hal, salah satunya: waktu.
Dini mulai menyadari bahwa dirinya hampir tidak bisa lepas dari gadget.
Ide datang tiba-tiba, konsep harus direkam, komentar harus dibaca, brand harus dibalas.
Lama-lama, 100% waktunya tersedot ke layar. Ada lelah yang tak terlihat, tetapi ia tetap bertahan karena ia tahu betul: ia mencintai dunia ini.
Bidang beauty bukan sekadar pekerjaan bagi Dini, tapi rumah. Tempat ia merasa bebas berkarya, berekspresi, dan menjadi diri sendiri.
Makanya, ketika video sedang tidak perform, ketika konten tidak sesuai ekspektasi, ia tidak goyah.
“Aku akan tetap ngonten, karena aku cinta banget sama apa yang aku kontenin.”
Dan cinta seperti itu tidak bisa dipadamkan oleh angka atau algoritma.
Di tengah perjalanan yang cepat berubah ini, Dini tetap menapakkan kakinya pada hal yang paling penting: keluarga dan kesehatan.
Ia berharap Allah SWT selalu memberi kesehatan, kelancaran rezeki, serta kemampuan untuk terus berkembang.
Bukan hanya berkembang secara karier, tetapi juga secara kualitas konten—lebih edukatif, lebih bermanfaat, lebih membawa kebaikan.
Karena baginya, konten bukan sekadar hiburan, tetapi juga kesempatan memberi nilai bagi orang lain.
Dini punya satu pesan untuk siapa pun yang sedang merasa kecil, pesimis, atau ragu pada dirinya sendiri:

“Jangan terlalu besar pesimis sama diri sendiri.
Kita bukannya nggak punya bakat atau skill, cuma belum menemukan aja di mana letaknya. Pencarian jati diri juga butuh proses.”
Karena setiap orang berjalan dengan ritme masing-masing. Ada yang cepat menemukan jalannya, ada yang butuh waktu lebih panjang.
Yang penting adalah tetap mencoba, tetap belajar, dan tetap percaya bahwa diri sendiri layak diperjuangkan.
Source image: dini









