Diana Ie: Memimpin dengan Feminin, Bertumbuh dengan Powerful

Nosel.id Jakarta- Lahir dan besar di Surabaya, Diana Ie tumbuh dalam keluarga yang hangat.

Di tengah perjalanan membangun bisnis, ia juga merasa sangat diberkati dengan kehadiran suami yang powerful serta anak-anak yang manis.

Baginya, keluarga adalah salah satu sumber kekuatan terbesar dalam menjalani setiap proses kehidupan.

Selama 13 tahun, Diana memimpin bisnis travel company sekaligus mengembangkan beberapa bisnis lain di bidang wellness, F&B, dan properti.

Sebagai seorang business operating system builder, ia berfokus membangun sistem bisnis dan tim yang efektif agar mampu menghasilkan revenue secara maksimal.

Namun, perjalanan tersebut membuat Diana melihat satu persoalan yang cukup dekat dengan dirinya.

Banyak founder dan business owner, khususnya perempuan, harus melewati proses yang begitu berat.

Banyak perempuan dilahirkan dengan karakter feminin, tetapi merasa harus memimpin dengan cara yang maskulin karena dunia bisnis dianggap begitu keras.

Menurut Diana, sebenarnya tidak harus demikian.

Perempuan tetap bisa menjadi pemimpin yang powerful tanpa harus kehilangan sisi femininnya. Salah satu kuncinya adalah melalui self-development.

Inilah yang kemudian membuat bisnis travel dan wellness menjadi bagian penting dari perjalanan Diana.

Perempuan bisa menjadi pemimpin yang powerful di bisnis, meskipun ia memimpin dengan feminin.”

Bagi Diana, membangun bisnis bukanlah perjalanan yang mudah. Ada masa ketika harus tetap berdiri kuat meski sedang babak belur, menangis sendirian, berlutut dalam doa hampir setiap waktu, bersikap tegas ketika diperlukan, sekaligus tetap mampu membalutnya dengan kelembutan.

Ada kalanya dipandang sebelah mata, tetapi integritas harus tetap dijaga. Tidak boleh menyerah karena ada banyak karyawan yang menggantungkan hidup kepada bisnis yang dipimpin.

Di sisi lain, seorang business owner juga harus membagi waktu antara bisnis dan keluarga, sementara keduanya sama-sama menuntut perhatian 24/7.

Namun, di balik semua perjuangan itu, Diana menemukan banyak alasan untuk bersyukur.

Bisnis memberinya kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang lain, membuka lapangan pekerjaan, menghadirkan financial freedom bagi keluarga, serta memberikan pengaruh dan dukungan kepada sesama partner bisnis yang sedang berjuang.

Ia juga ingin menjadi teladan bagi timnya yang sebagian besar masih muda dan belum memiliki banyak pengalaman.

Yang paling penting, Diana ingin menyampaikan pesan dengan lantang kepada para woman leader:

You always can lead your business as the way you are. No need to be a man, just being you.

Untuk semua perempuan yang sedang memimpin, Diana punya doa sederhana.

Tidak apa-apa jika hari ini kamu merasa sendirian, merasa lemah, patah hati lagi, kehilangan orang yang kamu percaya, atau harus berkorban sendirian dalam diam. Tetaplah berjalan dengan rendah hati.

Karena sekalipun tidak ada yang melihat air matamu, Tuhan mendengar doamu.

Diana juga memiliki cara pandang yang kuat tentang kegagalan.

Kegagalan itu nggak nyata. Itu hanya kumpulan data supaya kita lebih berhati-hati di area itu berikutnya.”

Baginya, keberhasilan adalah sesuatu yang nyata. Ia merupakan bukti bahwa seseorang tidak berhenti berjuang untuk mencapai visi yang ingin diwujudkan.

Keberhasilan juga menjadi bukti bahwa kita berani tetap berharap kepada Tuhan yang memberikan keberhasilan tersebut.

Bagi Diana Ie, menjadi pemimpin bukan tentang menjadi seperti orang lain.

Menjadi pemimpin adalah tentang berani menjadi diri sendiri, bertumbuh, tetap berintegritas, dan terus melangkah dengan kekuatan sekaligus kelembutan yang kita miliki.

 

 

Source image: Diana Ie