Oleh: ( Assc). Prof. H. David Darmawan
Kenaikan BBM yang sudah resmi di umumkan Presiden tercinta kita per Sabtu (3/9/2022) pada pukul 14.30 WIB disambut beragam reaksi, dan mayoritas menolak serta berharap harga di titik yang sama.
Ini artinya, kenaikan anggaran subsidi di tahun 2022 dengan sasaran subsidi energi sebanyak 502 triliun ini tidak berdampak pada kenaikan BBM. Titik. Tidak ada alasan lainnya lagi.
Pemerintah lewat Presiden langsung, Menteri Keuangan dan pembantu Presiden lainnya berulangkali menyatakan bahwa banyak yang tidak tepat sasaran, yang menikmati banyak orang kaya dengan kata lain terjadi kebocoran subsidi.
Kita semua juga maklum, berbagai trik dan langkah kemudian pemerintah lakukan seperti membuat sinkronisasi dan aktualisasi data dari DTKS Kementerian Sosial, serta wujudnya bisa seperti BLT BBM, subsidi upah juga transfer umum dari negara untuk nelayan, ojek dll.
Dalam menyikapi berbagai pandangan dan respon saya pribadi sebagai orang Betawi, warga asli Tenabang tentu saja.
Orang Betawi yang terkenal nyablak, nyorog dan alhamdulilah masih suka pencak silat tradisional Betawi yg di sebut “maen pukulan” juga warisan dari leluhur kami, dengan kebijakan di atas sebenarnya solusinya atau kita dari masyarakat Betawi yang terdidik dan semuanya paham dan bisa menjelaskan secara proses dan sadar betul bahwa daerah kita, Betawi ini ialah zona inti, zona ekonomi dimana 70 persen perputaran uang nasional ada di sini.
Ini artinya, kita sebagai episentrum ekonomi harus bisa memulai dan bekerjasama semisal sebelum pemerintah memberi satu kebijakan kenaikan BBM, kita semua masyarakat Betawi bisa ikut serta, selain mengoptimalisasikan program yg sudah ada juga memberikan solusi alternatif, karena kita percaya tujuan akhir pemerintahan negara kita harusnya untuk kemakmuran dan kemaslahatan orang banyak, lalu strategi apa untuk memulai selangkah demi langkah atas dampak kebijakan tadi.
Misalnya lagi untuk clustering per wilayah di utara, pusat atau Jakarta mana untuk ujicoba subsidi upah, BLT BBM, menggalakkan naik transportasi massal dan langkah lainnya.
Titik poinnya ialah, kita sedari dulu sudah terbiasa dengan kebijakan pusat yang efeknya atau berlaku untuk seluruh negeri. Karena posisi kita sebagai ibukota negara dan akan berganti tapi tetap sebagai pusat ekonomi nasional.
Saya rasa dengan ujicoba, atau kontra intelejen untuk mencoba kebijakan dengan cara tes lapangan atau apa itu namanya, agar lembut dan tidak terlalu menohok dapat di lakukan bahkan dengan skema virtualisasi data geografis dan permutasi data statistik yg sudah ada.
Disampaikan ke masyarakat secara baik, akan diterima secara baik pula oleh kita semua.
*** *** ***
Menyambung di catatan saya, Betawi Vision sebelumnya, tentu dengan kesadaran tinggi, regulasi yang tepat dalam penggunaan BBM ini akan dapat menekan emisi karbon yang kian meningkat.
Sebut saja pembakaran bahan fosil yang menyebabkan kenaikan emisi gas kaca. Beberapa aktivitas pembakaran fosil itu seperti kegiatan di industry, sektor kelistrikan dan transportasi.
Bukankah sudah ada Perjanjian Paris ya untuk masalah ini yg lebih di kenal dengan COP 21 yang menjadi kajian bersama untuk kasusistik ini.
Tentu, pemerintah harus siap untuk sebuah pilihan kebijakan, jika regulasi ini dilakukan maka beberapa detail problem di bidang transportasi, energi listrik, pemakaian bahan bakar non fosil atau dari desain struktur gedung dan lainnya harus jelas aturan mainnya, berapa tinggi maksimal, gedung yang hemat energi dll itu maksud saya.
Menutup pemikiran dan perspektif saya ini, era sekarang Betawi yang saling berkaitan antara era metaverse, perubahan iklim dan kenaikan BBM yang lagi hot ini, kita semua harus dapat mengendalikan iklim, atau adanya efisiensi dan kecerdasan kita untuk mencapai kondisi ideal ini.
Sebut lagi metaverse yang tentu membutuhkan biaya besar untuk aksesbilitas alat dll, adanya penyesuaian karena perubahan budaya dan kebiasaan dan minus dari era yang disebut-sebut sebagai tanpa batas dan penuh imajinasi ini.
Ayo sebagai warga utama ibukota saat iji, kita semua sebagai warga Betawi berani menyodorkan diri untuk ikut andil dalam pemberian solusi-solusi utama bangsa ini, mampu menjadi pembelajar yang baik dan cepat serta tak tabu untuk memperbaiki apa yang dirasa masih kurang dan menjadi kelemahan kita semua.
Selasa, 6 September 2022.
*Treasury Tower, SCBD Jakarta. Hormat saya sebagai warga Betawi biasa yang kebetulan mendapat amanah sebagai Ketua Umum Betawi Bangkit dan Ketua Lembaga Inkubator & Startup KADIN Indonesia*









