Nosel.id Jakarta- Astrid Hendra lahir di Surabaya, Jawa Timur. Meski sempat menghabiskan masa sekolah dasar hingga awal SMP di Jakarta, ikatan batinnya dengan Surabaya tak pernah terputus.
Kota ini menyimpan kenangan masa kecil yang hangat. Liburan di rumah Eyang, bersepeda bersama sepupu, hingga berteduh dan bermain di bawah pohon jambu.
Lebih dari sekadar tempat lahir, Surabaya adalah kawah candradimuka yang membentuk karakter Astrid: egaliter, hangat, otentik, blak-blakan namun penuh kepedulian.
Bagi Astrid, Surabaya adalah definisi sejati tentang “rumah”, tempat di mana ia diterima utuh apa adanya.
Perjalanan hidup Astrid mengalami titik balik besar pada tahun 2008.
Saat itu, ia berada di puncak yang oleh banyak orang disebut sebagai “sukses”: karier mapan di sebuah media franchise internasional, jabatan jelas, dan kestabilan materi.
Namun di balik semua itu, ada kehampaan yang tak bisa dijelaskan.
Hidup terasa berjalan di mode autopilot, tanpa rasa, tanpa makna. Dari kegelisahan itulah pencarian batin dimulai.

Astrid mulai melahap buku-buku spiritual dan reflektif seperti The Alchemist hingga The Power of Now.
Namun baginya, membaca saja tidak cukup. Ia ingin menyelami lebih dalam, memahami secara utuh, dan mempraktikkan.
Pencarian itu membawanya menempuh jalur pembelajaran formal dan mendalam di dunia kesadaran diri.
Ia menjadi fasilitator meditasi di Rumah Remedi, lalu melengkapi perjalanannya dengan berbagai sertifikasi profesional seperti Ontological Coaching (Newfield Singapore), Mastery (Asiaworks), hingga Points of You.
Semua itu bukan sekadar hobi atau profesi baru, melainkan perjalanan “pulang” ke dalam diri. Sebuah proses menyadari siapa dirinya sebenarnya.
Kini, Astrid dikenal melalui kelas dan komunitas Be Amazing Indonesia. Baginya, kebahagiaan terdalam tak ternilai dengan angka.
Kepuasan sejati hadir ketika ia melihat perubahan di mata para klien dan peserta, sinar yang kembali menyala, kesadaran bahwa mereka selalu punya pilihan dalam merespons hidup.
Bukan lagi bereaksi secara otomatis, melainkan bertindak dengan kesadaran dan kebijaksanaan, baik dalam hidup personal maupun karier.
Namun perjalanan ini bukan tanpa tantangan.
Tantangan terbesar justru ada pada edukasi. Masih banyak yang memandang mindfulness dan meditasi sebagai sesuatu yang klenik, pasif, atau sekadar duduk diam.
Padahal, menurut Astrid, mindfulness adalah latihan melatih “otot kesadaran”, kemampuan untuk hadir sepenuhnya di momen kini, agar kita bisa mengambil keputusan terbaik dengan kepala jernih dan hati tenang.
Harapan Astrid sederhana namun mendalam: keselarasan.
Ia memimpikan dunia di mana ambisi karier berjalan seiring dengan ketenangan batin, di mana kesehatan fisik tak terpisahkan dari kesehatan mental.
Ia berharap pemulihan ekonomi dan sosial dapat dibangun di atas fondasi empati yang lebih kuat.
Untuk keluarga dan sahabat, doanya satu kesehatan, dan kemampuan untuk benar-benar hadir, saling mendengar, dan memahami dengan hati.

Pesan Astrid pun terasa relevan di tengah dunia yang serba cepat:
“Di dunia yang menuntut kita untuk selalu berlari cepat, beranilah untuk mengambil jeda.
Karena seringkali, jawaban yang kita cari tidak ada di garis finis, melainkan hadir saat kita tenang. Pause is Power.
In the pause, you find your clarity, your strength, and yourself. Mari belajar untuk tidak hanya doing, tapi juga being.”
Kisah Astrid Hendra mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati tidak selalu lahir dari kecepatan.
Melainkan dari keberanian untuk berhenti sejenak dan mendengarkan diri sendiri.
Source image: Astrid












