Anindita Kusumawardani, Jalani, Nikmati, Syukuri, Apapun Hasilnya Nanti. Semua Indah pada Waktunya

Nosel.id Jakarta- Di tengah kesibukannya sebagai aparatur sipil negara sekaligus ibu dari dua anak laki-laki, Anindita Kusumawardani menemukan satu hal yang selalu membuatnya kembali merasa utuh: olahraga.

Perempuan kelahiran Pekanbaru yang tumbuh besar di Tembilahan, sebuah kota kecil di selatan Provinsi Riau ini, menjadikan olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya.

Sejak kecil, dunia olahraga sudah begitu dekat dengan dirinya. Kenangan masa kecilnya dipenuhi momen mengikuti sang ayah bermain basket di lapangan sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Memasuki masa SMP, ia mulai aktif bermain badminton bersama ayah dan teman-temannya. Dari situlah tumbuh kebiasaan hidup aktif yang terus bertahan hingga dewasa.

Kini, di tengah tanggung jawab sebagai Analis Kebijakan Ahli Muda di Pemerintah Provinsi Riau, Anindita tetap berusaha menjaga ritme hidup sehatnya.

Baginya, olahraga bukan tentang gaya hidup semata, tetapi tentang menjaga keseimbangan diri di tengah padatnya rutinitas.

Dari berbagai jenis olahraga yang pernah ia tekuni, lari menjadi pilihan yang paling dekat dengan kehidupannya saat ini. Ada kesederhanaan dalam olahraga tersebut yang membuatnya jatuh hati.

Lari itu olahraga yang nggak perlu nunggu orang lain. Mau lari ya tinggal lari,” ujarnya sambil tersenyum.

Kesibukan bekerja dan mengurus keluarga tidak membuatnya berhenti mencari waktu untuk dirinya sendiri.

Bahkan, ia masih mengingat bagaimana awal perjalanannya kembali serius berlari dimulai dari target sederhana: mulai berlari saat anak-anaknya masih tidur, lalu pulang sebelum mereka bangun.

Kesederhanaan target itu ternyata menjadi langkah kecil yang terus bertumbuh menjadi kebiasaan besar.

Bagi Anindita, lari adalah olahraga paling jujur. Tidak ada jalan pintas, tidak ada keberuntungan instan, dan tidak ada “orang dalam” untuk mencapai hasil yang diinginkan. Semua bergantung pada proses latihan dan konsistensi diri sendiri.

Di hidup mungkin kadang kita sudah berusaha tapi hasilnya dipengaruhi banyak variabel tak terduga.

Tapi kalau di lari, usaha itu terasa nyata. Nggak bisa pakai orang dalam untuk bisa pace 4 di 5K kan? Kalau mau progres ya latihan,” katanya ringan namun penuh makna.

Pandangan itu membuatnya belajar banyak tentang kehidupan. Bahwa proses tidak selalu harus terburu-buru, dan setiap orang punya waktunya masing-masing untuk berkembang. Ia juga belajar untuk tidak terlalu menggantungkan kebahagiaan pada ekspektasi.

Harapan dan doanya sederhana, namun dalam: “Semoga apa yang kita semogakan tidak dikecewakan oleh ekspektasi kita sendiri, karena sesungguhnya menjadi stoic itu menenangkan.”

Di balik semangatnya berlari, Anindita membawa pesan yang hangat untuk siapa pun yang sedang berjuang dalam hidup:

Jalani, nikmati, syukuri, apa pun hasilnya nanti. Semua indah pada waktunya, cheers~”

Kisah Anindita Kusumawardani menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan, setiap orang tetap bisa menemukan ruang untuk bertumbuh.

Kadang bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang bagaimana kita tetap melangkah dengan tulus, konsisten, dan penuh syukur.

 

Source image: anindita

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *