Nosel.id Jakarta- Dunia fintech payment tak mengenal jalan pintas. Angelika Putri atau disapa Angel membuktikannya dengan memulai karirnya dari posisi paling dasar.
Merangkak perlahan sambil memupuk keyakinan: teknologi harus menjadi alat pencipta efisiensi dan inklusi.
“Awalnya, aku nggak langsung masuk ke dunia fintech,” akunya.
Minatnya bermula dari kecintaannya pada cara teknologi mentransformasi hidup manusia.
Ia memilih belajar dari bawah, bertanya, membangun relasi, dan menyelami kompleksitas sistem pembayaran.
Proses ini membuka matanya pada sebuah kebenaran mendasar: sistem pembayaran adalah denyut nadi ekonomi digital bangsa.
Bagi Angel, setiap transaksi bukan sekadar angka, melainkan denyut kehidupan ekonomi yang menghubungkan jutaan cerita.
Perjalanan dari “pemula yang banyak tanya” hingga menduduki posisi Group Head penuh liku.

Ia tak hanya memegang peran strategis, tetapi juga duduk di beberapa komite independen, terlibat aktif di berbagai organisasi, bahkan ikut membangun sebuah Asosiasi.
Rahasianya? Dua prinsip tak tergoyahkan: belajar tanpa henti dan menjalin relasi dengan integritas.
“You don’t need to be perfect to lead,” tegasnya, meruntuhkan mitos kepemimpinan sempurna.
“You just need to be real, grounded, and brave.”
Filosofi ini menjadi kompasnya, kepemimpinan sejati lahir dari keaslian, keteguhan, dan keberanian menghadapi ketidaktahuan.
Di balik kesuksesannya, Angel menjabarkan suka-duka dengan jernih. Sukanya?
Bertemu orang-orang luar biasa dan menyaksikan langsung dampak sistem yang dibangunnya: UMKM meroket dan masyarakat kecil bangkit berkat pembayaran digital.
“Melihat pedagang pinggir jalan bisa terhubung ke ekonomi global lewat QRIS itu kebahagiaan tak ternilai,” ujarnya.
Namun, tantangan tak pernah absen: sistem yang belum siap, birokrasi berbelit, dan skeptisisme yang kerap menghadang.
“Tapi semua itu bagian dari proses membangun sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri,” tekadnya.
Bagi Angel, setiap rintangan adalah batu pijakan menuju visi besar: keadilan ekonomi melalui inklusi finansial.
Mengapa fintech payment begitu krusial? Angel memaparkannya dengan semangat visioner:

“Membuka akses pembayaran digital bukan hanya untuk kota, tapi juga desa.
Bukan hanya untuk yang punya rekening bank, tapi juga mereka yang tak tersentuh layanan keuangan.”
Baginya, teknologi pembayaran adalah jembatan penghubung yang meruntuhkan tembok ketimpangan.
Ia meyakini bahwa ketika nelayan di pulau terpencil bisa menerima pembayaran digital atau ibu rumah tangga di pedesaan mampu bertransaksi tanpa kartu kredit, di situlah keadilan ekonomi mulai bernafas.
Source image: angelika










