Nosel.id Jakarta- Amelia Halim akrab disapa Meeel lahir dan tumbuh di pinggiran Jakarta, tepatnya di kawasan Penggilingan, Jakarta Timur.
Lingkungan yang padat, rumah-rumah yang saling berdempetan, dan tetangga yang relatif ramah menjadi latar awal hidupnya.
Namun di balik itu, sejak usia dua bulan, hidup Amelia sudah ditempa kenyataan yang tidak mudah: kedua orang tuanya berpisah, masing-masing membangun kehidupan baru, dan Amelia dititipkan kepada nenek dan kakeknya dari pihak ibu.
Ia tumbuh sebagai anak yang sering disebut “broken home”, tanpa kehadiran figur ayah dan ibu secara langsung.
Namun bagi Amelia, kasih sayang tidak selalu datang dari struktur keluarga yang sempurna.
Nenek dan kakeknya merawatnya dengan cinta penuh, ketulusan, dan kehangatan yang justru menjadi fondasi kuat dalam hidupnya.
Dari merekalah Amelia belajar arti bertahan, sederhana, dan bersyukur.
Selepas lulus SMA, langkah awal karier Amelia dimulai dengan cara yang sangat membumi, bahkan bisa dibilang penuh tawa pahit.
Ia bekerja sebagai admin di sebuah sekolah musik dengan gaji satu juta rupiah per bulan. Sayangnya, pekerjaan itu hanya bertahan satu bulan.
Amelia dipecat karena benar-benar tidak memahami apa yang harus dilakukan seorang admin.
Ia menertawakannya sekarang, tapi saat itu menjadi pelajaran awal tentang proses mencari jati diri.
Keseriusan membangun karier baru benar-benar dimulai ketika Amelia berusia 26 tahun. Ia memulai dari bawah sebagai SPG rokok.
Dari dunia yang keras dan kompetitif itu, tak disangka ia bertemu seseorang yang mengajaknya masuk ke dunia otomotif. Keputusan itu bukan perkara mudah.
Menjual rokok dengan harga puluhan ribu jelas sangat berbeda dengan menjual mobil yang nilainya ratusan juta rupiah.
Awalnya Amelia tidak mengerti bagaimana cara menjual mobil, menghadapi calon pembeli, atau membangun kepercayaan.
Namun ia memilih satu hal yang menjadi pegangan hidupnya: pasrahkan usaha, sisanya serahkan kepada Tuhan.
Perlahan, jalannya dilancarkan. Karier di dunia otomotif mulai menemukan ritmenya.

Setahun kemudian, ketika ia berpindah ke brand lain dan sedang berada dalam fase single, Amelia diajak mengikuti acara televisi Take Me Out. Tanpa ekspektasi besar, ia mengiyakan ajakan tersebut.
Tak disangka, keikutsertaannya justru membuka banyak pintu baru.
Ia tampil dalam beberapa episode dan mulai dikenal publik. Tawaran endorse, modeling, hingga kerja sama lainnya pun berdatangan.
Amelia kemudian memutuskan mengeksplorasi dirinya lebih jauh dengan masuk ke dunia modeling.
Ia bergabung dengan manajemen yang menaungi model majalah pria dewasa, keputusan yang otomatis menghadirkan pro dan kontra.
Cibiran, penilaian, dan asumsi orang lain menjadi hal yang tak terelakkan.
Namun Amelia memilih satu prinsip hidup yang ia pegang teguh: pikiran dan persepsi orang lain bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan.
Terinspirasi dari filosofi stoicism yang sering ia baca, Amelia belajar fokus pada sikap dan responsnya sendiri.
Ia percaya, yang terpenting bukan apa yang orang pikirkan tentang dirinya, melainkan bagaimana ia menyikapi hidup dengan utuh dan bertanggung jawab.
Dari dunia modeling itulah orang-orang mulai melihat satu potensi lain dalam diri Amelia: public speaking. Kemampuan ini ternyata sejalan dengan latar pendidikannya.
Ia pun sering dipercaya menjadi MC di berbagai event, termasuk acara-acara besar yang diselenggarakan oleh majalah tempat ia bernaung.
Perannya pun berkembang, bukan hanya sebagai wajah di depan kamera, tetapi juga suara yang memandu acara.
Menjalani banyak peran sekaligus sebagai mahasiswi, MC, model, dan sales mobil—tentu tidak selalu mulus.
Amelia menghadapi pelanggan dengan permintaan aneh, komplain yang melelahkan meski sudah memberikan pelayanan terbaik, hingga cibiran keluarga ketika ia memilih jalan sebagai sales otomotif. Semua itu pernah membuatnya lelah.
Namun satu kalimat selalu menjadi bahan bakar hidupnya sejak usia 18 tahun, saat ia benar-benar hidup mandiri:
“Kalau aku nggak bergerak, aku nggak akan bisa makan nanti. Kalau aku nggak keras sama diriku sendiri, dunia akan keras sama aku.”
Harapannya sederhana namun dalam. Amelia berharap semua yang ia kerjakan berjalan sesuai rencana.
Namun jika tidak, ia percaya sepenuhnya bahwa rencana Tuhan selalu lebih baik.
Waktu Tuhan selalu lebih tepat dibandingkan target yang ia tentukan sendiri. Apa pun hasilnya, ia memilih menyerahkan semuanya dengan ikhlas.

Untuk para pembaca, Amelia menitipkan pesan yang jujur dan relevan bagi siapa pun:
Jangan pernah membiarkan kalimat, label, atau persepsi orang lain menghalangi langkah kita menuju tujuan.
Kita semua berhak untuk berusaha, bersuara, dan bermimpi. Fokuslah pada diri sendiri, pada apa yang bisa kita kendalikan. Selebihnya, serahkan kepada Tuhan.
Karena hidup bukan tentang seberapa keras dunia menilai kita, melainkan seberapa kuat kita tetap melangkah.
Source image: Meeel












