Alya, Kekalahan Sejati Ialah Saat Menyerah!

Nosel.id Jakarta- Di antara hangatnya masyarakat Kota Samarinda, Kalimantan Timur, ada seorang perempuan muda yang belajar berdiri tegak dengan kekuatannya sendiri.

Alya, seorang mahasiswi semester akhir, tidak hanya sedang menyelesaikan pendidikannya, tetapi juga sedang merajut makna kemandirian dalam setiap pilihan hidupnya.

Perjalanannya mengajarkan kita bahwa kemenangan tidak selalu tentang kecepatan, tetapi tentang konsistensi untuk tidak berhenti melangkah.

Alya adalah putri asli Samarinda. Baginya, kota ini terasa enak, mungkin karena kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh kampung sendiri.

Namun, ada nuansa yang berbeda dalam kehidupannya di sana. Ia tinggal di Samarinda tanpa dielilingi sanak keluarga besar, terkecuali hanya oleh sang mama.

Situasi ini, meski terasa sepi, justru mengajarkannya arti ketergantungan yang sehat pada ikatan yang paling esensial sekaligus membentuknya menjadi pribadi yang mandiri sejak dini.

Saat ini, Alya secara fokus sedang menuntaskan kuliahnya di semester akhir.

Meski mengaku belum bekerja, ia sedang berada di ambang gerbang menuju fase kehidupan yang baru.

Di tengah tekanan akademis, ia menemukan cara unik untuk mengisi ulang energinya: traveling. Ia suka sekali mengunjungi tempat-tempat yang bagus dan estetik.

Bagi Alya, perjalanan ini bukan sekadar hobi, melainkan sebuah cara untuk mengobati dan menyenangkan diri sendiri.

Ini adalah bentuk self-care yang ia pilih, sebuah pengakuan bahwa jiwa juga perlu dirawat dengan keindahan.

Ketika ditanya tentang suka duka dalam hidup, Alya menyoroti satu hal yang menjadi prinsip hidupnya: “hidup berdiri di kaki sendiri.”

Sukanya, tentu saja, adalah rasa percaya diri dan kebebasan yang lahir dari kemampuan mengandalkan diri sendiri. Dukanya mungkin terletak pada kesendirian itu sendiri.

Namun, ia dengan sengaja memilih jalan ini karena sebuah ketakutan yang mendalam: “takut seterusnya ketergantungan sama orang lain.

Pilihan ini bukan tentang sikap sombong atau menutup diri, melainkan sebuah bentuk disiplin untuk melatih kekuatan internalnya, memastikan bahwa langkahnya ke depan tidak bergantung pada siapa pun.

Memandang masa depan, harapan Alya terbagi dalam dua hal yang sederhana namun penuh makna.

Pertama, untuk dirinya sendiri, ia berharap dapat selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan meraih kesuksesan.

Kedua, dan ini yang cukup menyentuh, adalah keinginannya untuk dapat membantu orang-orang di sekelilingnya.

Dalam dirinya yang mandiri, ternyata tersimpan kepedulian sosial yang tinggi. Ia tidak ingin kesuksesannya dinikmati sendiri, melainkan menjadi saluran kebaikan bagi orang lain.

Dari perjalanan hidupnya yang penuh dengan pembelajaran, Alya menyampaikan pesan yang sangat mengena:

“Walaupun langkahmu pelan, asal jangan berhenti, kamu akan tetap menang.

Kekalahan sejati ialah saat menyerah, bukan saat tertinggal.

Fokus pada setiap langkah kecil karena mereka yang membawa Anda ke tujuan yang lebih besar. “

 

 

Source image: alya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed