Alya Azizah, Pelan-Pelan Tidak Apa, Asal Kamu Tetap Jalan!

Nosel.id Jakarta- Bagi Alya, Depok adalah lebih dari sekadar kota. Ia adalah konsep “rumah” yang nyata.

Meski tidak memiliki hawa pegunungan, kota ini memiliki kehangatan tersendiri: keramahan warganya dan lingkungan keluarga yang erat.

Di sanalah ia belajar tentang kerja keras, empati, dan seni menjaga hubungan baik nilai-nilai yang kelak menjadi bekalnya di semua peran yang dijalani.

Masa kecil dengan cerita sederhana di Depok ternyata adalah pelatihan pertama untuk hidup yang kompleks dan penuh makna.

Sehari-hari, Alya berdiri di antara dua dunia presisi: sebagai Asisten Dokter Gigi di Dental City, dan sebagai Makeup Artist (MUA) di bisnis pribadinya. Keduanya menuntut ketelitian, kesabaran, dan keahlian teknis.

Namun, ada satu dunia lagi yang ia bangun: sebagai kreator konten kecantikan dan lifestyle di TikTok dan Instagram.

Di panggung digital inilah ia merajut dua passion-nya menjadi satu narasi yang menginspirasi.

Lalu, di mana gunung masuk? Justru di sanalah titik keseimbangannya ditemukan.

Awalnya, gunung hanyalah ajakan biasa dari seorang teman. Namun, satu kali mendaki sudah cukup untuk membuatnya “jatuh cinta”.

Di sana, ia menemukan sebuah paradoks: dengan mendaki secara fisik, jiwanya justru menemukan ketenangan.

Ada tantangan yang memurnikan, ada keheningan yang memantulkan suara hatinya sendiri.

Ada ruang buat aku menyadari banyak hal tentang diri sendiri,” ujarnya.

Mendaki menjadi ritualnya untuk me-recharge energi, menjernihkan pikiran, dan kembali ke rutinitas dengan perspektif yang lebih segar dan bersyukur.

Setiap pendaki tahu bahwa sukacita dan perjuangan adalah dua sisi mata uang yang sama.

Bagi Alya, sukanya adalah bertemu komunitas dengan energi positif, menikmati pemandangan yang menghapus semua lelah, menemukan momen refleksi spiritual, dan sensasi bangga tak tertandingi saat mencapai puncak.

Namun, dukanya juga nyata: kelelahan fisik yang ekstrem, ketidakpastian cuaca, dan konfrontasi dengan rasa takut akan fisik yang drop atau jalur yang berbahaya.

Alya menjadwalkan pendakian di sela-sela waktu luangnya, menjadikan gunung sebagai hadiah sekaligus guru setelah menjalani kesibukan kerja dan konten.

Di tengah semua kesibukan, harapan Alya mencerminkan keinginan untuk keseimbangan yang utuh.

Ia berdoa untuk kesehatan keluarga, rezeki yang cukup dan berkah, serta hubungan yang harmonis.

Lebih dalam lagi, ia ingin terus berkembang secara holistik: sebagai pribadi, profesional, kreator, dan calon istri.

Semua itu ia ingin capai tanpa kehilangan satu hal penting: rasa syukur atas segala yang telah ia miliki dan alami hari ini.

Kepada setiap perempuan yang membaca kisahnya, Alya menyampaikan pesan yang menenangkan dan memberdayakan:

“Pelan-pelan nggak apa-apa. Yang penting kamu tetap jalan. Tetap berjalan, tetap percaya, tetap mencintai hidupmu.

Dunia butuh perempuan sekuat dan seindah kamu.”

 

 

Source image: alya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *