Ale, Jangan Berhenti Percaya Pada Diri Sendiri!

Nosel.id Jakarta- Ale lahir di Bengkulu, namun tumbuh dan berkembang di Bandung, kota yang memberinya ruang untuk belajar tentang kehangatan dan penerimaan.

Ia bersyukur besar di Bandung, kota dengan warganya yang someah dan ramah, tempat di mana ia menemukan banyak pelajaran hidup.

Ale tidak tumbuh dari keluarga yang sempurna, tetapi dari keluarga yang kaya akan makna, nilai, dan proses pembentukan diri.

Dalam kesehariannya, Ale menjalani karier full time dari Senin hingga Jumat. Di tengah rutinitas kerja, ada satu fase hidup yang menjadi titik balik perubahannya.

Berawal dari pengalaman body shaming—dicap “gendut” meski berat badannya kala itu hanya 58 kilogram Ale memutuskan untuk bergerak.

Bukan untuk memenuhi standar orang lain, tetapi untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Ia mulai lari, olahraga yang katanya murah dan sederhana. “Mulai aja dulu,” pikirnya saat itu.

Dari lari, langkahnya berlanjut ke gym untuk memperkuat massa otot dan menjaga keseimbangan tubuh.

Seiring waktu, lari bukan lagi soal angka di timbangan.

Ia berubah menjadi ruang refleksi. Dalam dunia lari, Ale belajar banyak tentang rasa syukur.

Setiap langkah membuatnya lebih peka terhadap sekitar, jalan yang dilalui, napas yang terjaga, dan kehidupan yang terus bergerak.

Lari juga mengajarkannya disiplin, bagaimana mengatur waktu antara olahraga, pekerjaan, dan istirahat agar semuanya berjalan seimbang.

Menariknya, ketika ditanya soal duka, Ale menjawab jujur: tidak ada. Karena baginya, menjalani hobi yang berdampak baik bagi kesehatan adalah kebahagiaan itu sendiri.

Meski baru menekuni dunia lari selama satu tahun, pencapaiannya tidak bisa dianggap kecil.

Ale telah mengikuti berbagai event lari bergengsi, mulai dari Jakarta International Marathon (Half Marathon), Duraking 10K, PLN Electric Run sebagai pacer Half Marathon sub 2:30, hingga Borobudur Marathon Full Marathon.

Dengan rutinitas latihan 6 kali seminggu (istirahat hanya hari Senin) dan gym 2–3 kali seminggu, konsistensi menjadi kunci perjalanannya.

Namun di balik semua catatan jarak dan event, yang paling penting bagi Ale adalah doa dan harapan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk siapa pun yang sedang berproses:

Semoga di setiap langkah yang kamu ambil, baik di lintasan lari maupun dalam hidup, kamu selalu diberi kekuatan. Semoga napasmu tetap panjang saat lelah, kakimu tetap ringan saat ragu, dan hatimu tetap kuat saat ingin menyerah.

Pesan Ale menjadi pengingat yang menenangkan:

 Berjalan pelan tidak apa-apa. Berhenti sebentar juga tidak salah. Yang penting jangan berhenti percaya pada diri sendiri. Setiap orang punya waktunya masing-masing.

Tidak perlu membandingkan garis start—fokus saja pada langkah hari ini. Terus bergerak, sekecil apa pun itu. Karena konsistensi selalu mengalahkan kecepatan.

Kisah Ale adalah tentang keberanian memulai, ketulusan menjalani proses, dan kekuatan untuk terus melangkah.

Sebuah cerita inspiratif bahwa perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil dan dijaga dengan konsistensi.

 

 

Source image: ale

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *