Cici Sinaga, If You Can Overthink The Worst, Why Can’t You Overthink The Best

Nosel.id Jakarta- Cici Sinaga tumbuh di Medan, dalam keluarga yang utuh dan penuh cinta, meski cinta itu sering hadir dalam cara yang tidak selalu terlihat.

Semua kebutuhan selalu diusahakan, semua keinginan diperhatikan, namun ada satu hal yang terasa diam-diam: gengsi untuk menunjukkan kasih sayang secara langsung.

Bahkan di hari ulang tahunnya, ucapan hanya datang lewat pesan WhatsApp, padahal mereka berada di rumah yang sama.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin terdengar sederhana, tapi justru di sanalah Cici belajar memahami bahwa cinta tidak selalu harus bising untuk bisa terasa.

Saat ini, Cici masih menjalani perannya sebagai mahasiswi. Dunia karier belum sepenuhnya ia masuki, tetapi langkah-langkah kecil sudah mulai ia susun.

Melalui TikTok, ia mencoba membangun ruangnya sendiri, beberapa kali menerima endorsement, sekaligus membuka jalan menuju impiannya menjadi seorang selebgram.

Di balik layar, ia adalah pribadi yang senang bepergian, menikmati perjalanan, dan menemukan cerita-cerita baru dari setiap tempat yang ia kunjungi.

Baginya, travel bukan sekadar hobi, tapi cara untuk mengenal diri lebih dalam.

Menjadi seseorang yang mulai dikenal banyak orang tentu membawa warna tersendiri. Ada rasa bahagia ketika mendapat perhatian dan dukungan, ketika banyak orang menyukai apa yang ia bagikan.

Namun di sisi lain, ada tuntutan yang tidak selalu mudah: harus tetap terlihat bahagia, bahkan ketika hati sedang tidak baik-baik saja.

Cici memahami bahwa dunia digital sering kali hanya menampilkan versi terbaik dari seseorang, sementara perasaan yang sebenarnya sering disimpan rapat-rapat.

Di balik semua itu, harapan Cici sederhana namun dalam. Ia ingin keluarganya menjadi lebih hangat, lebih terbuka, tanpa sekat gengsi dalam menunjukkan kepedulian.

Ia berharap kehidupan mereka diberi kelancaran, kesehatan, dan umur panjang, agar kebersamaan bisa terus dirasakan tanpa jarak emosional yang tak perlu.

Cici percaya, hidup bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana kita memaknainya. Ia memegang satu kalimat yang terus ia ingat dalam perjalanan hidupnya:

“If you can overthink the worst, why can’t you overthink the best?”

Sebuah pengingat bahwa pikiran kita punya kekuatan yang sama untuk menciptakan kekhawatiran maupun harapan.

Dan di antara keduanya, memilih untuk percaya pada hal-hal baik adalah bentuk keberanian yang paling sederhana namun paling berarti.

 

Source image: cici

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *