Nosel.id Jakarta- Lahir dan besar di Bandung, Riska Amelia Putri tumbuh dalam suasana kota yang sejuk, tenang, dan penuh kehangatan.
Bagi Riska, Bandung bukan hanya tempat asal, melainkan ruang pertama yang mengajarkannya makna hidup.
Dari kota ini, ia memahami bahwa setiap manusia membutuhkan “ruang”, ruang untuk bertumbuh, bernapas, dan mengenal dirinya lebih dalam.
Di dalam keluarganya, Riska belajar pelajaran penting yang menjadi fondasi hidupnya hingga kini: tentang batasan, tentang mencintai diri sendiri, dan tentang bagaimana seseorang tidak kehilangan arah saat berinteraksi dengan dunia luar.
Baginya, keluarga adalah sekolah pertama yang mengajarkan bahwa self-love bukanlah ego, melainkan kebutuhan dasar untuk bisa hidup dengan utuh.
Perjalanan Riska di dunia yoga berawal dari sebuah pencarian sederhana, ketenangan. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, ia mulai merasakan kebutuhan untuk kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
Yoga menjadi pintu masuknya. Ia kemudian memperdalam praktik tersebut dengan menyelesaikan 200-hour Yoga Teacher Training, mempelajari anatomi tubuh sekaligus memahami aliran energi yang bekerja di dalamnya.

Namun, bagi Riska, yoga tidak pernah berhenti sebagai sekadar aktivitas fisik. Yoga adalah cara untuk “pulang” kembali ke tubuh, ke napas, dan ke kesadaran diri.
Setiap gerakan baginya adalah bentuk komunikasi halus antara tubuh dan semesta, sebuah dialog yang sering kali terlupakan dalam kehidupan yang serba cepat.
Dalam perjalanannya, Riska menemukan suka dan duka yang membentuknya. Momen paling berharga adalah ketika ia benar-benar hadir di atas matras, sepenuhnya sadar, tanpa distraksi.
Namun di sisi lain, ia juga belajar menghadapi ego, ketika keinginan untuk melampaui batas justru bertabrakan dengan kemampuan tubuh. Dari situlah ia belajar tentang kesabaran, penerimaan, dan menghargai proses.
Rutinitas yoga menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Pagi hari ia gunakan sebagai ritual untuk menyelaraskan energi dan “menyetel frekuensi” sebelum menjalani aktivitas.
Sementara sore hari menjadi waktu untuk melepaskan penat dan energi yang tertahan. Dalam ritme itu, ia menemukan keseimbangan.
Lebih dari sekadar perjalanan pribadi, Riska memiliki harapan yang lebih luas. Ia ingin perempuan, khususnya, mampu menjadi “Ratu” dalam hidupnya sendiri, berdaulat atas waktu, tubuh, dan emosinya.
Ia percaya bahwa ketika seorang perempuan mengenal dirinya dengan utuh, ia akan mampu hidup dalam kelimpahan yang tidak hanya bersifat materi, tetapi juga batin. Kesehatan, baginya, bukan hanya fisik, tetapi harmoni antara pikiran, jiwa, dan raga.
Melalui kisahnya, Riska menyampaikan pesan sederhana namun kuat bagi siapa saja yang tengah menjalani hidup di tengah tekanan dunia modern:
“Jangan takut untuk mengambil jeda. Dunia mungkin menuntut kita untuk selalu cepat dan terlihat sempurna, tetapi kekuatan sejati justru hadir ketika kita berani diam, mendengarkan diri sendiri, dan menetapkan batasan yang sehat.”

Ia percaya bahwa setiap individu adalah karya seni yang sedang berproses, tidak harus sempurna, tetapi layak dihargai, terutama oleh diri sendiri.
Dari Bandung, Riska Amelia Putri mengajarkan satu hal penting: di tengah dunia yang terus bergerak cepat, menemukan ruang untuk kembali pada diri sendiri adalah bentuk keberanian yang paling mendalam.
Source image: Riska






