Nosel.id Jakaeta- Lahir di Surabaya dan tumbuh besar di Lawang, sebuah kawasan sejuk di Kabupaten Malang yang dikelilingi hamparan kebun teh, Frenty Yohana L. Maramis menjalani masa kecil yang membentuknya menjadi pribadi tangguh dan penuh makna.
Lingkungan yang asri dan tenang menjadi saksi perjalanan awal hidupnya, meski di balik itu, ada cerita tentang rasa sepi yang pernah ia rasakan.
Sebagai anak dari orang tua yang sama-sama bekerja dengan sang ibu berprofesi sebagai bidan yang menjalani sistem kerja shift, Frenty kecil tidak selalu memiliki banyak waktu bersama kedua orang tuanya.
Ia lebih sering ditemani oleh nenek dan eyang kung di rumah. Pertemuan dengan orang tua pun terbatas, sering kali hanya di pagi hari sebelum berangkat sekolah atau saat malam ketika mereka telah lelah bekerja.
Namun, di balik keterbatasan waktu tersebut, Frenty merasakan kehadiran yang utuh dari orang tuanya.
Mereka memiliki cara tersendiri untuk tetap “hadir” dalam hidupnya, memberikan perhatian, dukungan, dan cinta yang tidak selalu harus diwujudkan dalam kebersamaan fisik.

Dari situlah Frenty belajar bahwa kasih sayang tidak selalu diukur dari seberapa lama waktu bersama, tetapi dari seberapa dalam makna yang diberikan.
Sejak kecil, Frenty dikenal aktif dan penuh rasa ingin tahu. Ia tidak pernah membatasi dirinya hanya pada satu bidang.
Beragam aktivitas pernah ia jalani mulai dari merpati putih, les gitar, dancing, tari tradisional, hingga aktif dalam organisasi seperti OSIS dan jurnalistik sejak SMP hingga SMA.
Semangat eksplorasi itu terus berlanjut hingga masa perkuliahan, di mana ia juga aktif berorganisasi.
Kebiasaan untuk terus mencoba dan belajar inilah yang kemudian membentuk karakter Frenty hari ini seorang perempuan yang tidak pernah berhenti berkembang dan tidak takut keluar dari zona nyaman.
Baginya, setiap pengalaman adalah ruang belajar, dan setiap kesempatan adalah pintu untuk bertumbuh.
Kini, dalam perannya sebagai seorang ibu sekaligus perempuan yang aktif berkarya, Frenty dihadapkan pada tantangan yang tidak sederhana.
Mengelola waktu antara keluarga, karier, dan kebutuhan diri sendiri menjadi sebuah dinamika yang harus dijalani setiap hari. Tidak jarang, waktu untuk diri sendiri harus dikorbankan.
Namun, Frenty menyadari satu hal penting: ia adalah manusia dengan keterbatasan. Ia tidak harus sempurna dalam segala hal.
Yang bisa ia lakukan adalah menentukan prioritas, memilih mana yang paling penting dalam fase hidupnya saat ini. Dan bagi Frenty, keluarga dan karier menjadi dua hal utama yang ia jaga dengan sepenuh hati.
Meski demikian, ia tidak melupakan dirinya sendiri. Aktivitas yang ia jalani justru menjadi sumber energi dan kebahagiaan.
Apa yang ia lakukan bukan sekadar rutinitas, tetapi juga menjadi mood booster yang menguatkan langkahnya.
Dari sana, ia terus membangun value dalam dirinya menjadi perempuan yang berdaya, yang tidak hanya berkembang untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi dampak bagi orang lain.
Frenty percaya bahwa setiap perempuan memiliki potensi luar biasa. Ia pun menyampaikan harapan bagi para wanita di luar sana untuk terus belajar, mencoba, dan tidak pernah berhenti mengembangkan diri.
Karena sering kali, kesempatan datang dari hal-hal yang tidak terduga.dan hanya mereka yang siap yang bisa meraihnya.
Baginya, hidup bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menjadi berkat bagi sesama.
“Blessed to be a blessing for others,” ujarnya.

Sebuah prinsip hidup yang ia pegang teguh bahwa setiap talenta, pekerjaan, dan keluarga yang dimiliki adalah anugerah dari Tuhan, yang pada akhirnya harus bisa memberi manfaat bagi orang lain.
Sebab, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu membawa kebaikan bagi sesamanya.
Dan Frenty Yohana L. Maramis, dengan segala perjalanan dan perannya, terus melangkah menjadi bukti bahwa perempuan bisa kuat, bisa bertumbuh, dan bisa menjadi berkat, dalam caranya sendiri.
Source image: frenty






