Nosel.id Jakarta- Di sebuah desa kecil bernama Sampalan, di Kabupaten Klungkung, Bali, lahirlah seorang perempuan yang sejak kecil telah akrab dengan arti perjuangan.
Purnia tumbuh di lingkungan yang sederhana namun kaya akan kehidupan desa yang dikenal sebagai salah satu pusat kain tenun di Bali, sekaligus tempat banyak warga menggantungkan hidup dari industri rumahan seperti pembuatan tahu.
Keindahan desa itu bukan hanya tentang alamnya, tetapi juga tentang kerja keras orang-orang di dalamnya. Dan di antara mereka, Purnia adalah salah satu yang sejak dini belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Di usia yang masih sangat muda, sekitar 9 tahun, ia sudah mulai bekerja mewantek benang. Bukan karena terpaksa, tetapi karena ia ingin memiliki uang saku sendiri untuk tetap bisa bersekolah.
Dari sanalah ia mulai memahami bahwa hidup tidak selalu memberi kemudahan namun selalu menyediakan ruang bagi mereka yang mau berusaha.
Waktu berjalan, dan Purnia pun tumbuh menjadi perempuan yang tangguh. Hidup membawanya ke berbagai peran yang mungkin tidak semua orang bayangkan. Ia menjual kelapa, menjadi tukang kuku keliling, beternak madu, hingga kini aktif sebagai konten kreator.
Mungkin bagi sebagian orang, pekerjaan-pekerjaan itu terlihat sederhana. Tidak besar, tidak glamor. Namun bagi Purnia, setiap peran adalah bentuk usaha dan keberanian untuk terus bertahan.

Ia tidak melihat dirinya dari seberapa besar pekerjaannya, tetapi dari seberapa banyak kemampuan yang ia miliki.
“Aku bersyukur punya banyak skill,” ujarnya sederhana.
Namun perjalanan itu tidak pernah mudah. Purnia memulai dari titik yang sangat rendah.dari keterbatasan, dari peluang yang kecil, dari kondisi yang seringkali membuat orang lain memilih menyerah.
Berkembang bukan hal yang instan baginya. Bahkan terkadang terasa sangat lambat. Tapi satu hal yang tidak pernah ia lepaskan: usaha dan rasa syukur.
Ia terus berjalan, meski pelan. Terus mencoba, meski sering kali tidak pasti. Karena baginya, yang terpenting bukan seberapa cepat sampai, tetapi seberapa kuat ia bertahan.
Di usianya yang kini menginjak 30 tahun, Purnia masih menyimpan satu harapan besar yang sederhana, membahagiakan keluarganya.
Ia merasa belum sepenuhnya bisa membuat orang tuanya tersenyum bangga. Namun justru dari situlah semangatnya tumbuh. Bukan sebagai beban, tetapi sebagai alasan untuk terus melangkah.
Dalam diam dan lelahnya, Purnia memegang satu prinsip hidup yang menjadi pegangan terkuatnya:
“Belajar menjadi kuat sendirian. Karena tidak ada yang benar-benar peduli kecuali diri kita sendiri. Jadilah kuat untuk dirimu sendiri.”

Kata-kata itu bukan sekadar kalimat, tetapi cerminan dari perjalanan hidup yang ia jalani.
Purnia mungkin tidak berdiri di panggung besar. Tidak pula memiliki cerita yang terlihat gemerlap.
Namun di balik kesederhanaannya, ada kekuatan yang tidak semua orang miliki: ketekunan, keberanian, dan kejujuran dalam menjalani hidup.
Dan dari desa kecil di Bali itu, ia membuktikan bahwa siapa pun bisa bertumbuh. Bahwa dari langkah kecil yang terus diulang, harapan besar perlahan akan menemukan jalannya.
Source image: purnia






