Oleh: Gde Kresna
Satu hal yang sangat kami apresiasi dari teman-teman di Bali Utara adalah arak tidak dipandang sebagai minuman untuk gagah-gagahan, apalagi untuk mabuk-mabukan.
Arak diapresiasi sedemikian tinggi, dibahasakan dengan baik dan dipelajari terus-menerus. Meskipun kami semua minum arak hampir setiap hari, tetap saja setiap kali ada yang baru kita melakukan blind test, membahas bersama-sama, mengkritisi lalu ditutup dengan minum bersama-sama. Ini penting karena belakangan ini arak dibahasakan dengan gaya-gaya seperti kecap: Semua merasa nomor satu.
Kenyataan dalam keseharian, seberapa detail pun kita memproduksi, selalu ada kekurangan dan ruang untuk dikritisi. Itu sebabnya kami sangat beruntung memiliki teman-teman yang fair, teman-teman yang selalu jujur mengatakan apa adanya.
Atas semua keberuntungan itulah kami merayakannya dengan mendekatkan produk lokal yang kita punya dengan produk global dari mancanegara, agar “tidak minder” di kancah dunia.
Seperti baru-baru ini kami memadukan dan membandingkan masing-masing kelebihan dan kekurangan dari Arak Bali dan Martini, tepatnya Dirty Martini. Nafas-nafas kebaruan, bertemunya timur dan barat akan menjadi aktifitas baru kami. Tentu sebagai sebuah strategi juga.
Pokoknya panjang umur produk lokal.
.








