Nosel.id Jakarta- Lahir dan dibesarkan di Makassar, Yesica Wysan memiliki hubungan yang berlapis dengan kota kelahirannya.
Di satu sisi, ia dengan bangga mempromosikan kekayaan kuliner tanah Sulawesi ini.
“Makanan sini enak-enak ya,” ujarnya penuh semangat, bahkan memberikan rekomendasi tegas: “Wajib ke sini” bagi para pecinta kuliner.
Kemudian beralih di perjalanan hidupnya, yang kemudian membawanya menemukan komunitas yang sehat dan sangat mendukung di Makassar.
“Bersyukur udah nemu,” katanya, seraya menekankan bahwa sifat judgemental tidak berlaku untuk orang di sekitar daerahnya.
Menunjukkan pengakuannya bahwa setiap tempat memiliki dinamika sosial yang beragam.

Kesibukan Yesica kini berpusat pada dunia bisnis, menjalani peran ganda yang menuntut ketangguhan.
Utamanya, ia membantu mengelola bisnis keluarga yang bergerak di bidang grosiran.
Aktivitas ini menghubungkannya dengan denyut nadi perdagangan lokal yang riuh.
Tak hanya itu, semangat kewirausahaannya juga mengalir ke sektor kecantikan. Ia co-manage bisnis skincare dan kosmetik bersama adiknya.
Perjalanan karirnya ini menarik, mengingat sebelumnya ia pernah merasakan dunia yang berbeda sebagai freelance model saat kuliah di Surabaya (SBY).
Namun, kepulangannya ke Makassar membawa realitas baru: “prospek modelling gak bagus.”
Daripada berlarut, Yesica memilih sikap pragmatis dan visioner.
Ia prefer ke bisnis, mengalihkan energi dan bakatnya ke bidang yang menawarkan peluang lebih konkret di lingkungannya saat ini.
Keputusan ini mencerminkan kemampuannya beradaptasi dan membaca peluang.
Ditanya tentang suka duka menjalani bisnis, Yesica menyoroti fleksibilitas sebagai daya tarik utama.
“Suka-nya lebih fleksibel,” ujarnya, menekankan keleluasaan dalam waktu dan tempat sebagai keuntungan yang ia nikmati.
Namun, di balik permukaan “keliatan bagus” itu, tersimpan tantangan yang berat.
“Tidak mudah memulai bisnis,” akunya.
Dunia usaha menuntut pengorbanan energi yang luar biasa, “bekerja dari buka mata sampai tutup mata,” gambarnya disertai tawa lelah.
Persaingan yang semakin ketat, terutama di ranah online, menjadi beban tersendiri.
“Admin di online yang besar banget,” keluhnya, ditambah kekhawatiran akan beban pajak yang berpotensi memberatkan usaha kecil seperti miliknya.
Imbasnya? “Margin nya tipis.”
Yang paling membedakan dan memberatkan sekaligus memberi motivasi adalah tanggung jawab sosial.
Bisnisnya bukan hanya urusan pribadi, tapi juga sumber penghidupan para pegawainya.

“Ada beban kehidupan dan rejeki pegawai di tangan bisnis kami,” ucapnya, menjadikan keberlangsungan usaha sebagai misi yang menyangkut hajat hidup orang lain.
Tanggung jawab inilah yang menjadi “semangat” sekaligus beban moral yang mendalam.
Dalam menghadapi kompleksitas hidup dan bisnis, harapan dan doa Yesica bersandar pada keyakinan spiritual yang kuat. Ia memanjatkan doa universal:
“Praying semua bahagia, selalu diberi kesehatan, rejeki, dan apa yang diharapkan diberikan tepat pada saat dan waktunya.”
Source image: yesica








