Pemilik nama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh yang lahir pada 29 Oktober 1974 ini ialah seorang politikus Indonesia, aktivis Nahdlatul Ulama dan penggerak perdamaian dunia sekaligus sebagai sebagai pebisnis.
Yenny Wahid adalah anak kedua dari pasangan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nyai. Sinta Nuriyah. Ia mempunyai seorang kakak, Alisa Wahid dan dua orang adik, Anita Wahid dan Inayah Wahid. Pada 15 Oktober 2009, Yenny resmi menikah dengan Dhorir Farisi dan dikaruniai tiga orang anak, yaitu Malica Aurora Madhura, Amira, dan Raisa Isabella Hasna.
Persis dengan sang ayah, KH Abdurahman Wahid, Yenny terlahir dalam keluarga Nahdlatul Ulama sehingga pola pikirnya lebih mengedepankan ajaran Islam yang moderat dan menghargai pluralisme dengan damai.
Dalam Pendidikan, Yenny Wahid menempuh sekolah menengahnya di SMA Negeri 28 Jakarta pada 1992, lalu menempuh studi Psikologi di UI Jakarta, tidak selesai, kemudian berganti di melanjutkan pendidikannya DKV Universitas Trisakti Jakarta, serta S2 nya di Universitas Hardvard, Amerika Serikat.

Selepas dari Trisakti, ia menjadi jurnalis untuk Harian The Sydney Morning Herald dan The Age Australia, bertugas di Aceh serta Timor Leste khusus mendampingi Sang Bapak.
Yenny berhenti menjadi jurnalis saat sang Bapak terpilih menjadi Presiden Indonesia ke 4, dan ia bertugas menjadi Stafsus Presiden Bidang Komunikasi Politik. Posisi yang sama ia emban saat Presiden SBY juga menjadi Presiden Indonesia ke 6.
Dalam kepartaian, Yenny Wahid pernah menjadi Sekjen PKB, juga mendirikan partai sendiri bernama PIB atau Partai Indonesia Baru ( PIB), yang kemudian hari berganti nama menjadi PKBIB.
Aktivis Perdamaian Dunia & Relasi Global

Yenny Wahid sarat dengan relasi tingkat dunia, terutama berkaitan dengan toleransi dan perdamaian dunia dimana ia intens mendampingi Gus Dur saat menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, Presiden Indonesia dan paska Gus Dur sudah tidak menjadi Presiden.
Beberapa inisiasi dunia yang terlahir dari tangan Yenny Wahid tentu saja ada Wahid Foundation yang berhasil menggandeng UN Women, USAID, NORAD, Sean-CSO, Kedubes Japan, Warrior Child UNICEF, dan puluhan Lembaga dunia lainnya.
Ia juga menjabat sebagai penasehat Global Council of Tolerance and Peace bersama Ahmed Al Jarwan dari Uni Emirat Arab untuk bersama-sama mempromosikan Islam yang teduh dan perdamaian dunia. Negara-negara perintisnya negara Amerika Serikat, Argentina, Uni Emirat Arab, Comoros, Albania, India, Mesir dan Indonesia dan Malta.

Beberapa penghargaan dunia yang ia terima seperti Walkeys Award Australia, Gaimusho Award Jepang, Young Global Leader dll.
Dalam bisnis Yenny membangun perusahaannya dalam induk Awadah grup yang bergerak di bidang teknologi tinggi dan AI, serta bidang fashion dan tren busana muslim.
Dalam bidang sosial Yenny Wahid, selain menjabat sebagai Direktur Wahid Foundation, serta beberapa amanah lain yang pernah dan masih beliau emban seperti menjadi Ketua Koperasi Cinta Damai, Desa Damai Yogyakarta, Pengembangan Organisasi Fatayat, Ketua Umum Panjat Tebing Indonesia, pengasuh pondok pesantren programmer Qoryatus Salam, Indonesia-UK Council of Islam, USINDO Indonesia-AS, Ketua Badan Inovasi Strategis PBNU 2022-2027 dan masih banyak lainnya. (ie)
image: Wahid Institute, IG Yenny Wahid








