Nosel.id Jakarta- Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, adalah tempat di mana Weni Juliani dilahirkan dan dibesarkan.
Kota kecil yang dikenal sebagai Kota Minyak karena sejarah panjang industri perminyakannya melalui Pertamina ini menyimpan sejuta pesona bagi Weni.
Bukan hanya karena keindahan dan kehangatannya, tetapi karena di kota inilah seluruh perjalanan hidupnya dimulai.
Masa kecil hingga dewasa ia habiskan di Prabumulih bersama keluarga yang hangat dan penuh cinta.
Namun sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, kebersamaan itu tidak berlangsung lama.
Saat kelas 1 SMP, Weni harus menghadapi kenyataan yang paling berat dalam hidupnya: kehilangan sosok ayah, figur sempurna yang penuh kasih sayang.
Kehilangan itu menjadi titik balik, yang membentuk ketegarannya hingga hari ini.
Dibesarkan oleh ibu dan dua kakak laki-laki yang kuat dan tegas, Weni tumbuh menjadi perempuan yang mandiri, disiplin, dan pekerja keras.

Nilai-nilai itu ia bawa hingga dewasa, mengantarnya merantau ke Jakarta untuk kuliah dan kemudian bekerja sebagai Frontliner di salah satu Bank BUMN.
Jakarta memberinya pengalaman, profesionalisme, dan kedewasaan. Tetapi takdir memiliki rencana manis yang tak terduga.
Weni kembali dipertemukan dengan teman masa kecil yang kelak menjadi suaminya, seorang ASN yang bertugas di Bengkulu.
Pertemuan itu membuat Weni mengambil keputusan besar, resign dari pekerjaannya di Jakarta dan ikut mendampingi suami.
Meninggalkan pekerjaan bukan berarti meninggalkan jati diri.
Di tengah kesibukan sebagai istri dan ibu, Weni menyadari bahwa ia tetap harus mencintai dirinya sendiri. Baginya, caranya adalah berolahraga.
Dari sinilah ia mulai menekuni dunia lari dan akhirnya bergabung dengan komunitas lari terbesar di Bengkulu, Bengkulu Enthusiast Runners (Beerus).
Dalam komunitas ini, Weni menemukan lebih dari sekadar olahraga seperti teman-teman baru, lingkungan positif, serta ruang yang sehat untuk tumbuh secara fisik dan mental.
Konsistensinya dalam berlatih membuatnya semakin tekun.
Ia menikmati setiap prosesmulai dari latihan, berinteraksi dengan sesama pelari, hingga mengikuti berbagai race.
Dunia lari memberikan begitu banyak hal baik bagi Weni:
Pertemanan baru, pengalaman baru, hingga rasa percaya diri yang terus tumbuh. Ia jarang sekali menemukan duka, kecuali satu hal: rindu keluarga.
Ketika harus mengikuti race di luar kota atau bahkan luar negeri, ia harus berpisah sementara dengan suami dan anak-anak tercinta.
Meski terasa berat, ia percaya bahwa setiap langkah larinya adalah bentuk pengembangan diri dan investasi kesehatan jangka panjang.
Weni berharap ia selalu diberi kesehatan, menjadi pribadi yang baik, dan dapat bermanfaat bagi banyak orang.
Ia juga berharap keluarganya terus mendukung hobinya di dunia lari, serta diberikan kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan.
Ia berdoa yang sama untuk para sahabat dan pembaca: agar selalu diberi kelancaran, kesehatan, dan kebahagiaan.
Menjelang ulang tahun ke-9 komunitas lari Beerus pada 29 Januari mendatang, Weni memiliki harapan besar untuk komunitas semakin solid, konsisten dalam kebersamaan.
Lalu menjadi wadah pengembangan diri baik fisik maupun mental, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Weni juga berharap agar Beerus terus melakukan kegiatan bermakna seperti Charity Run, yaitu kegiatan lari yang bertujuan mengumpulkan dana bagi mereka yang membutuhkan.
Selain itu, ia mendukung penuh gerakan peduli lingkungan, seperti menggabungkan lari dengan aktivitas membersihkan sampah dan menjaga kebersihan kota.

Di akhir kisahnya, Weni memberikan pesan sederhana namun penuh kekuatan:
“Jadikanlah olahraga bukan hanya sekadar hobi, tapi sebagai bentuk kita mencintai diri sendiri .”
Itulah esensi perjalanan Weni: perempuan yang pernah kehilangan, lalu bangkit, tumbuh kuat, menemukan cinta, merawat keluarga, dan akhirnya menemukan cara mencintai diri sendiri melalui setiap langkah larinya.
Source image: weni








