Nosel.id Jakarta- Laut biru jernih, hamparan terumbu karang yang memesona, dan senyum hangat warga yang mengular itulah kanvas masa kecil Vanna Joy Junginger di Pulau Bunaken, Manado.
Bagi Vanna, Bunaken bukan sekadar destinasi wisata dunia, tapi kampung halaman yang menyimpan kenangan indah tentang petualangan masa kecil dan keramahan luar biasa dari tetangga-tetangganya.
“Warganya di Bunaken sangat ramah,” kenangnya, menggambarkan fondasi komunitas yang membentuknya.
Di tengah keindahan alam itu, tumbuh kembangnya diwarnai oleh didikan keluarga khas Manado yang tegas.
“Keluargaku tipikal yang cara negurnya itu pake nada tinggi,” akunya dengan jujur dan sedikit tertawa.
Namun, jauh dari kesan negatif, Vanna melihat sisi positif dari pendekatan keras itu. Teguran bernada tinggi itu, baginya, adalah bekal berharga.
“Di balik teguran itu kita bisa ambil sisi positifnya,” ujarnya, meyakini bahwa didikan disiplin itu mengajarkannya tanggung jawab dan mengarahkannya untuk menjadi pribadi yang mandiri.
“Supaya ketika kita dewasa nanti kita bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada orang tua,” jelasnya, menunjukkan apresiasinya pada nilai ketangguhan yang ditanamkan keluarganya.
Kesibukan Vanna kini adalah cerminan dari rasa cintanya pada komunitas dan kampung halamannya.

Ia aktif terlibat dalam pelayanan sebagai Kakak Pembina Remaja, mengabdikan waktu dan energi untuk membimbing generasi muda di lingkungannya.
Aktivitas ini jelas bukan sekadar pengisi waktu, tapi panggilan hati. Namun, jiwa petualang dan semangatnya untuk memperkenalkan keindahan Bunaken tak pernah padam.
Saat ada kesempatan, ia pun menyambut peran sebagai tour guide snorkeling bagi turis yang datang.
Bayangkan: memandu wisatawan menyelami keajaiban bawah laut Bunaken, berbagi cerita tentang ekosistem unik itu, sambil menyaksikan decak kagum mereka.
Sebuah perpaduan sempurna antara kecintaan pada alam dan interaksi sosial.
Di sela kesibukan pelayanan dan memandu wisata, Vanna juga sangat menghargai waktu berkualitas untuk menjaga kehangatan hubungan pertemanan.
Ia menyempatkan diri ketemu sahabat-sahabat dekat hanya sekedar sharing keseharian, melepas penat dan mengisi ulang energi dengan canda dan cerita bersama orang-orang terpercaya.
Ditanya tentang suka duka menjalani kesibukan yang beragam ini, Vanna memilih jawaban yang mencerminkan filosofi hidupnya yang khas:
“Bawaannya santai aja sih, di bawa enjoy aja.”
Ia mengakui tantangan dan risiko pasti ada, tapi kuncinya, menurutnya, terletak pada cara kita menanggapinya.
“Ada banyak sih, tapi kembali lagi ke diri kita masing-masing bagaimana cara menanggapi,” ujarnya bijak.
Daripada terbebani atau mengeluh, Vanna memilih sikap tenang dan percaya pada proses.
Keyakinannya sederhana namun kuat: “Pasti seiring berjalannya waktu semua akan terlihat baik-baik saja.”
Sikap di bawa enjoy ini bukan berarti pasif, melainkan sebuah ketenangan batin dalam menghadapi dinamika hidup, yakin bahwa badai akan berlalu dan kejernihan akan kembali.
Harapan Vanna untuk masa depan terdengar sederhana namun sangat mendalam: “Menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari-hari sebelumnya.”
Bagi Vanna, komitmen untuk terus memperbaiki diri adalah inti dari perjalanan hidup.

Ia meyakini bahwa keberanian untuk bertahan melalui berbagai hal berarti kesiapan menghadapi rintangan yang mungkin datang di kemudian hari.
Fondasi dari semua ini adalah imannya yang teguh.
“Sambil terus berserah dan berharap kepada Tuhan Yesus,” ungkapnya, menekankan bahwa proses peningkatan diri dan ketangguhannya berjalan seiring dengan penyerahan diri pada rencana Tuhan.
Pesan terakhir Vanna untuk pembaca sarat dengan kearifan dan semangat positif:
“Pandanglah kesuksesan tiap orang itu sebagai Motivasi dan buka Iri Hati.
Dan percaya bahwa ketika kita berharap dan berserah kepada Tuhan, semuanya akan Indah pada waktunya Tuhan.”
Source image: vanna








