Ulta Levenia, Aut Viam Inveniam Aut Faciam!

Nosel.id Jakarta- Bukittinggi, Sumatera Barat, selalu memiliki tempat istimewa di hati Ulta Levenia.

Kota yang dikenal dengan udara sejuk, suasana yang tenang, serta ragam kuliner khas yang menggugah selera itu menjadi ruang pertama yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.

Bagi Ulta, Bukittinggi bukan sekadar tempat lahir, tetapi juga ruang penuh kenangan yang selalu dirindukan.

Lingkungan yang hangat dan alam yang bersahabat menjadi bagian dari perjalanan awal yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat belajar dalam dirinya.

Ketertarikannya terhadap isu global berawal ketika ia mendalami ilmu politik di Universitas Indonesia. Di sana, Ulta mulai mempelajari fenomena terorisme dari perspektif political violence.

Dari proses akademik itu, ia semakin menyadari bahwa label “terorisme” sering kali tidak berdiri secara netral.

Dalam banyak kasus, label tersebut sangat dipengaruhi oleh perspektif kekuasaan dan dinamika geopolitik.

Rasa penasaran yang semakin besar membuatnya melanjutkan studi di bidang international security di IHEDN, Prancis. Ia juga sempat diterima di University of Leeds untuk fokus pada kajian insurgensi dan terorisme.

Pengalaman akademik lintas negara ini memperluas cara pandangnya tentang bagaimana politik global bekerja, khususnya dalam melihat keamanan internasional dan bagaimana suatu kelompok bisa dilabeli berbeda tergantung pada kepentingan geopolitik yang melatarbelakanginya.

Di balik perjalanan intelektualnya, ada satu sosok penting yang sejak kecil memberi pengaruh besar dalam hidupnya: Tulang atau om yang ia hormati.

Sosok inilah yang menjadi mentor pertama yang menanamkan keberanian untuk bermimpi besar. Ia diajarkan bahwa imajinasi bukan sekadar angan-angan, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan melalui kerja keras, disiplin, dan ketekunan dalam belajar.

Dari bimbingan itulah Ulta tumbuh dengan keyakinan untuk terus belajar, bekerja, dan berkontribusi tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan negaranya.

Kesederhanaan juga terlihat dalam doanya. Setiap kali berdoa, Ulta tidak meminta banyak hal. Ia hanya berharap agar hidupnya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, bagi keluarga yang ia cintai, dan bagi bangsa yang menjadi rumahnya.

Prinsip hidupnya dirangkum dalam kalimat Latin yang selalu ia pegang teguh:
Aut viam inveniam aut faciam” : Either I find a way or I make one.

Baginya, kehidupan tidak selalu menyediakan jalan yang jelas.

Namun, hal itu bukan alasan untuk berhenti melangkah. Jika jalan menuju cita-cita belum terlihat, maka seseorang harus berani menciptakan jalannya sendiri.

Ulta percaya bahwa ketekunan, keberanian berpikir kritis, dan kemauan untuk terus belajar adalah kunci untuk membuka peluang baru.

Pesannya sederhana namun kuat: Jangan terpaku pada jalan yang sudah ada, dan jangan selalu bergantung pada jalan yang diberikan orang lain. Jika kesempatan belum datang, maka ciptakan kesempatan itu sendiri.

Karena pada akhirnya, masa depan dibentuk oleh mereka yang berani mencari jalan atau bahkan membuat jalannya sendiri.

 

 

Source image: Ulta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *