Thalia P. Sianressy: Tentang Keluarga, Mimpi, dan Keberanian Bertumbuh dari Hal-Hal Sederhana

Nosel.id Jakarta- Lahir dan besar di Jakarta membuat Thalia P. Sianressy begitu akrab dengan kehidupan kota yang dinamis. Ritme yang cepat, padatnya aktivitas, dan perubahan yang terus bergerak menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil.

Meski tumbuh di tengah kehidupan urban, Thalia tetap memiliki akar keluarga yang kuat.

Darah Ambon dan Jawa yang mengalir dalam dirinya turut membentuk warna tersendiri dalam kehidupannya. Kehangatan keluarga menjadi nilai yang terus ia pegang hingga hari ini.

Bagi Thalia, masa kecil di Jakarta mungkin bukan tentang suasana kampung yang sejuk dan tenang. Namun, ada banyak cerita tentang kehidupan yang ramai, penuh aktivitas, sekaligus momen-momen sederhana bersama keluarga yang terasa begitu berarti.

Dari lingkungan tersebut, Thalia perlahan belajar tentang kemampuan beradaptasi, semangat untuk terus bergerak, serta pentingnya menjaga nilai kekeluargaan di tengah kesibukan.

Walaupun tumbuh di kota besar yang serba cepat, aku tetap merasa punya akar yang hangat dari keluarga.

Dari situ aku belajar tentang adaptasi, hustle, dan tetap menjaga nilai kekeluargaan,” ungkapnya.

 

Memilih Tetap Berdaya Setelah Menjadi Ibu Rumah Tangga

Perjalanan hidup membawa Thalia memasuki fase baru sebagai seorang ibu rumah tangga. Sebuah peran yang kemudian mengubah banyak hal, termasuk caranya memandang karier, produktivitas, dan mimpi.

Thalia memutuskan untuk tidak kembali menjalani pekerjaan kantoran. Namun, keputusan tersebut bukan berarti ia berhenti berkarya.

Justru dari rumah, dari kegemaran, dan dari berbagai hal sederhana yang dekat dengan kesehariannya, Thalia mulai membangun sesuatu yang membuat dirinya tetap merasa berdaya dan berkembang.

Beberapa bisnis kecil pun lahir. Menariknya, setiap bisnis yang ia bangun memiliki cerita dan sisi personal yang kuat.

Salah satunya adalah Thals Diner, bisnis makanan yang bermula dari kecintaannya terhadap kuliner dan memasak makanan favorit.

Awalnya sangat sederhana. Thalia memasak sesuatu yang ia sukai. Ternyata, orang-orang di sekitarnya memberikan respons positif. Permintaan mulai berdatangan hingga akhirnya berkembang menjadi bisnis dengan sistem pre-order dan bulk order.

Dari dapur dan makanan favorit, sebuah peluang perlahan terbentuk.

Thalia juga mengembangkan Hatta Home, sebuah platform yang menjadi ruang baginya untuk berbagi tentang home living. Mulai dari dekorasi, styling rumah, hingga berbagai produk yang ia gunakan dalam keseharian.

Ketertarikannya pada dunia home living bahkan membawa Hatta Home menjadi ambassador OHouse Indonesia selama beberapa pekan.

Sementara itu, kecintaannya terhadap fashion dituangkan melalui Thal The Label, clothing line dengan konsep slow, ethical, and limited pieces yang berfokus pada beachwear.

Produksi sengaja dibuat terbatas. Seluruh koleksinya telah terjual habis dan untuk sementara Thalia memilih tidak melakukan restock karena ingin memusatkan perhatian pada bisnis lainnya.

Ada pula Curated by Thal, bisnis yang lahir dari sisi personal Thalia yang sangat menyukai kegiatan memberi.

Love language aku adalah giving,” ceritanya.

Thalia gemar membuat goodie bag dan merayakan berbagai momen kecil. Kebiasaan sederhana tersebut ternyata mendapatkan respons dari banyak orang yang merasa memiliki ketertarikan serupa.

Dari sanalah Curated by Thal berkembang menjadi bisnis kecil di bidang souvenir dan party planner.

Jika diperhatikan, hampir seluruh usaha Thalia tidak dimulai dari sesuatu yang jauh dari kehidupannya. Semuanya tumbuh dari apa yang ia sukai, apa yang ia lakukan sehari-hari, dan hal-hal sederhana yang memiliki makna personal.

 

Di Balik Banyak Peran, Ada Rasa Lelah yang Nyata

Menjalankan beberapa bisnis sekaligus menjadi seorang ibu tentu bukan perjalanan yang selalu mudah.

Thalia tidak menutupi kenyataan bahwa ada masa ketika dirinya merasa sangat lelah, bahkan mengalami burnout.

Terlebih, hampir seluruh proses bisnis masih banyak ia kerjakan sendiri. Mulai dari memikirkan ide, mengurus produksi, hingga melakukan packing.

Pada saat bersamaan, kehidupan rumah tangga terus berjalan. Kebutuhan anak dan keluarga tetap menjadi bagian penting dari kesehariannya.

Kadang aku merasa burnout karena hampir semua dikerjakan sendiri, mulai dari ide, produksi, sampai packing. Belum lagi urusan rumah tangga dan kebutuhan anak yang nggak pernah ada habisnya,” tuturnya.

Namun, di tengah rasa lelah tersebut, ada rasa syukur yang selalu Thalia coba jaga.

Ia menyadari bahwa saat ini dirinya berada pada fase kehidupan yang memungkinkan untuk tetap produktif, mengerjakan sesuatu yang disukai, sekaligus memiliki waktu bersama keluarga.

Perjalanan itu juga mengajarkannya satu hal penting tentang manajemen waktu: menjadi realistis.

Thalia tidak lagi memaksakan diri untuk sempurna dalam semua hal. Ia belajar memahami prioritas, menerima bahwa tidak semuanya harus selesai dalam satu waktu, serta mengenali kapan tubuh dan pikirannya membutuhkan istirahat.

Baginya, berhenti sejenak bukan berarti kehilangan produktivitas. Ada saatnya seseorang memang perlu mengisi kembali energi agar dapat melanjutkan perjalanan dengan lebih baik.

Membangun Sistem, Menjaga Keseimbangan

Ke depan, Thalia memiliki harapan agar semua yang telah ia bangun dapat terus berkembang.

Ia ingin setiap bisnis memiliki sistem yang semakin rapi dan perlahan mampu berjalan tanpa harus selalu berada dalam pengawasannya setiap saat.

Bukan karena ingin meninggalkan apa yang telah dibangun. Sebaliknya, Thalia ingin menciptakan keseimbangan yang lebih sehat dalam kehidupannya.

Ia ingin memiliki lebih banyak waktu berkualitas bersama keluarga tanpa kehilangan passion dan hal-hal yang selama ini membuat dirinya merasa hidup dan berkembang.

Harapanku semoga semua yang aku bangun bisa berkembang lebih baik, sistemnya semakin rapi dan berjalan dengan sendirinya tanpa harus aku pegang terus-menerus,” katanya.

Bagi Thalia, pertumbuhan tidak hanya berbicara tentang bisnis atau pencapaian ekonomi. Kesehatan, kehidupan sosial, keluarga, dan ketenangan diri juga menjadi bagian dari keberhasilan.

Ia berharap seluruh aspek tersebut dapat terus berjalan seimbang dan bertumbuh menuju arah yang lebih baik.

 

Keluarga dan Mimpi Tidak Selalu Harus Dipilih Salah Satu

Dari perjalanan yang ia jalani, Thalia memahami bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

Di tengah dunia digital yang membuat kehidupan orang lain terlihat begitu dekat, membandingkan diri menjadi sesuatu yang sangat mudah dilakukan.

Padahal, menurutnya, apa yang terlihat cepat dan berhasil dari luar belum tentu menjadi jalan yang tepat untuk setiap orang.

Setiap orang punya timeline dan jalannya masing-masing. Jadi jangan terlalu sibuk membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Apa yang terlihat cepat di luar, belum tentu sesuai untuk kita,” pesannya.

Thalia percaya bahwa sesuatu dapat dimulai dari apa yang sudah dimiliki hari ini.

Dari kemampuan sederhana. Dari kegemaran. Dari hal kecil yang dilakukan dengan hati.

Tidak semuanya harus langsung sempurna atau besar. Konsistensi dan keberanian untuk memulai sering kali jauh lebih penting.

Kadang hal sederhana yang kita lakukan dengan hati justru bisa membawa kita ke tempat yang nggak pernah kita bayangkan.”

Perjalanan Thalia P. Sianressy menjadi gambaran bahwa mimpi dapat tumbuh dari ruang-ruang yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dari dapur, rumah, kecintaan terhadap fashion, hingga kegemaran menyiapkan hadiah untuk orang lain.

Dan di antara semua pelajaran tersebut, ada satu keyakinan yang terus ia pegang.

Kita nggak harus memilih antara keluarga atau mimpi. Dengan cara yang tepat, keduanya bisa berjalan beriringan.”

 

 

Source image: Thalia P. Sianressy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *