Tessalonika Eka: Dari Kamar Kos hingga Membangun Bisnis Florist, Perjalanan Womanpreneur yang Penuh Makna

Nosel.id Jakarta- Perjalanan hidup Tessalonika Eka tidak dimulai dari kemewahan.

Ia lahir di Kota Semarang, namun masa kecilnya sempat berpindah ke sebuah desa kecil di Pati saat duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.

Perpindahan itu menjadi salah satu fase yang membentuk ketangguhan dirinya sejak dini. Lingkungan desa yang sederhana mengajarkannya banyak hal tentang kemandirian dan cara memandang hidup dengan lebih bersyukur.

Ketika memasuki jenjang SMK, Tessalonika kembali ke Semarang dan tinggal bersama kakek serta neneknya.

Di masa itulah perjalanan merantau benar-benar dimulai. Ia menyadari sejak muda bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ia harus berusaha sendiri.

Berbagai cara ia lakukan untuk menambah uang jajan, mulai dari berjualan kue, menjual kaos, hingga mengadakan berbagai event kecil.

Baginya saat itu, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil selama bisa menjadi langkah menuju kemandirian.

Semangat mencoba banyak hal itulah yang kemudian menumbuhkan jiwa wirausaha dalam dirinya.

Kini, Tessalonika dikenal sebagai seorang pengusaha muda di bidang florist. Usaha yang ia bangun tidak lahir secara instan.

Delapan tahun lalu, bisnis itu dimulai dari sebuah kamar kos kecil, dijalankan seorang diri dengan konsep “palugada”, apa saja dijual selama ada peluang.

Seiring waktu, ketekunan dan konsistensi membuahkan hasil. Bisnis florist yang awalnya dirintis secara sederhana kini berkembang hingga memiliki tim dan karyawan yang bekerja bersamanya.

Perjalanan panjang itu menjadi bukti bahwa sebuah usaha besar sering kali berawal dari langkah kecil yang dijalani dengan keberanian dan kesabaran.

Tidak hanya menjalankan bisnis, Tessalonika juga aktif berbagi ilmu. Ia kerap menjadi pembicara dalam berbagai workshop tentang bisnis florist maupun pengelolaan keuangan.

Baginya, pengalaman jatuh bangun dalam membangun usaha merupakan pelajaran berharga yang layak dibagikan kepada orang lain, terutama bagi mereka yang ingin memulai perjalanan sebagai wirausaha.

Di tengah kesibukan sebagai CEO dan entrepreneur, Tessalonika juga menjalani peran penting lainnya dalam hidup—sebagai seorang ibu dari dua anak.

Menjalankan bisnis sekaligus mengurus keluarga tentu bukan hal yang mudah. Tantangan terbesar baginya adalah bagaimana membagi waktu dengan seimbang.

Namun melalui berbagai proses trial and error, ia berhasil menciptakan sistem yang paling sesuai dengan ritme kehidupannya.

Sistem yang ia bangun membuatnya tetap bisa produktif sebagai pengusaha sekaligus hadir sebagai ibu. Bahkan, di sela kesibukan tersebut, Tessalonika masih meluangkan waktu untuk menjalani hobinya: solo traveling.

Perjalanan terakhirnya bahkan membawanya menjelajah Eropa seorang diri, sebuah pengalaman yang memberinya banyak perspektif baru tentang kehidupan.

Bagi Tessalonika, kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian materi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang dapat menjalani hidup dengan penuh makna.

Harapan terbesarnya sederhana namun dalam: selalu diberikan hati yang bersyukur dan lapang, serta mampu menjalani hidup yang berarti dan bermanfaat bagi orang lain.

Di akhir kisahnya, Tessalonika selalu mengingatkan satu pesan yang menjadi prinsip hidupnya.

“Be patient, be grateful.”

Sebuah pesan singkat yang menggambarkan perjalanan panjangnya tentang kesabaran dalam proses, dan rasa syukur atas setiap langkah yang telah dilalui.

 

 

Source image: tessa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *