Swiejti Maghfira Regita: Menjadi Dosen Adalah Mimpi, Mengabdi untuk Pendidikan Adalah Jalan Hidup

Nosel.id Jakarta- Bagi Swiejti Maghfira Regita, pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa yang telah tumbuh sejak masa remaja.

Perempuan asal Bengkulu ini membuktikan bahwa mimpi yang dipelihara dengan kesungguhan dapat menjadi kenyataan yang membahagiakan.

Lahir dan besar di Kota Bengkulu, kota yang dahulu dikenal luas sebagai Kota Rafflesia karena bunga langkanya yang mendunia, Swietji tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai kebersamaan.

Baginya, hal paling berkesan dari tanah kelahirannya bukan hanya keindahan alam atau sejarahnya, melainkan budaya gotong royong yang masih begitu kuat melekat dalam kehidupan masyarakat.

“Di Bengkulu, nilai kekerabatan dan keakraban sangat dijunjung tinggi. Ketika ada acara keluarga, kegiatan masyarakat, bahkan saat ada musibah, banyak orang datang membantu tanpa diminta. Semangat saling menolong itu yang selalu saya ingat dan saya bawa dalam kehidupan,” tuturnya.

Nilai-nilai kebersamaan itulah yang membentuk karakter Swietji menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama dan memiliki semangat untuk berbagi manfaat melalui dunia pendidikan.

Saat ini, Swiejti mengemban amanah sebagai Dosen Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Universitas Bengkulu.

Pencapaian tersebut bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Menjadi seorang pendidik merupakan cita-cita yang telah ia tanamkan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

Bagi banyak orang, menjadi dosen mungkin hanya sebuah pekerjaan.

Namun bagi Swiejti, profesi ini adalah perpaduan sempurna antara cita-cita, pengabdian, dan kebahagiaan.

Ia merasa beruntung karena pekerjaannya sejalan dengan berbagai hal yang ia sukai.

Sebagai dosen, ia menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menariknya, ketiga hal tersebut juga merupakan aktivitas yang selama ini menjadi kegemarannya.

Saya senang menulis, melakukan penelitian, dan terjun langsung ke masyarakat.

Jadi ketika semua itu menjadi bagian dari pekerjaan saya, rasanya sangat membahagiakan. Saya merasa berada di tempat yang tepat,” ungkapnya.

Meski demikian,  Swiejti bahwa dunia akademik juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah keterbatasan ruang dan dukungan dalam melakukan riset akibat terbatasnya anggaran penelitian. Di sisi lain, kesejahteraan dosen menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapatkan perhatian lebih.

Namun berbagai tantangan tersebut tidak mengurangi kecintaannya terhadap profesi yang dijalani.

Justru di balik segala keterbatasan, ia semakin menyadari pentingnya peran seorang dosen dalam membangun masa depan bangsa.

Baginya, kebanggaan terbesar seorang pendidik bukan terletak pada jabatan atau gelar yang disandang, melainkan pada kesempatan untuk mentransfer ilmu dan membentuk generasi penerus yang kelak akan menentukan arah masa depan Indonesia.

Mahasiswa hari ini adalah pemimpin, inovator, dan penggerak perubahan di masa depan. Ketika kita berbagi ilmu kepada mereka, sesungguhnya kita sedang ikut membangun masa depan dunia,” ujarnya penuh keyakinan.

Di luar aktivitas akademiknya, Swiejti memiliki ketertarikan untuk mendokumentasikan berbagai momen kehidupan. Meski belum menyebut dirinya sebagai content creator, ia mulai membangun minat untuk menghasilkan konten-konten yang interaktif dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Baginya, setiap momen memiliki cerita yang layak diabadikan. Melalui media digital, ia berharap dapat berbagi inspirasi sekaligus menyebarkan nilai-nilai positif kepada lebih banyak orang.

Sebagai pribadi yang religius,  Swiejti bahwa setiap perjalanan hidup telah diatur oleh Sang Pencipta dengan rencana terbaik. Karena itu, ia selalu menitipkan harapan-harapannya kepada Allah SWT.

Semoga seluruh rencana Allah SWT terhadap karier, keluarga saya, maupun dunia khususnya Indonesia dapat menjadi yang terbaik. Karena sebaik-baiknya rencana adalah rencana Allah SWT. Semoga kita semua selalu dilindungi dari apa pun yang berniat buruk,” tuturnya.

Di akhir perbincangan,  Swiejti pesan sederhana namun sarat makna. Ia percaya bahwa setiap manusia terlahir dengan potensi yang berbeda-beda.

Potensi tersebut ibarat selembar kertas putih yang siap diisi dengan berbagai warna kehidupan.

Setiap individu lahir dengan potensi. Bayi yang baru lahir sering dianalogikan sebagai kertas putih. Keputusan untuk mengubah kertas putih itu menjadi seperti apa ada pada diri kita sendiri.

Karena itu, jadilah pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Minimal, bermanfaat bagi diri sendiri.”

Pesan tersebut menjadi cerminan perjalanan hidupnya sendiri. Dari seorang gadis Bengkulu yang memimpikan dunia pendidikan sejak remaja, hingga kini menjadi dosen yang mengabdikan ilmu dan waktunya demi kemajuan generasi muda.

Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa mimpi, ketika dipadukan dengan kerja keras dan ketulusan, akan menemukan jalannya menuju kenyataan.

 

 

Source image: Swiejti Maghfira Regita