Suci Aprilya Ramadhani: Menemukan Kebahagiaan dari Setiap Langkah

Nosel.id Jakarta- Lahir di Makassar dan tumbuh besar di Palopo, Suci Aprilya Ramadhani yang di sapa Aprilya ini memiliki ikatan yang begitu kuat dengan kota yang menjadi bagian dari masa kecilnya. Palopo adalah kota tempat kakek dan neneknya tinggal sekaligus tempat ia dibesarkan sejak kecil.

Aprilya harus kehilangan ayah ketika usianya masih sangat dini. Belum genap satu tahun, sang ayah telah berpulang. Sejak saat itu, kakek dan nenek menjadi sosok penting yang menemani dan membesarkannya.

Kenangan tentang kampung halaman pun selalu memiliki tempat tersendiri di hatinya. Suasana yang nyaman dan tentu saja makanan khas yang selalu dirindukan membuat Palopo menjadi rumah yang selalu ingin ia kunjungi kembali.

Dalam kesehariannya, Aprilya sebenarnya adalah seorang ibu rumah tangga.

Ia pernah menjalankan usaha online menjual kue yang berawal dari kecintaannya pada memasak dan baking. Usaha tersebut telah ia jalani sejak 2020.

Namun, sejak menemukan kecintaan baru terhadap olahraga lari, aktivitas berjualan kuenya kini tidak sesering dulu.

Perjalanan Aprilya sebagai pelari dimulai pada akhir 2024, ketika suaminya pindah tugas ke Bali.

Dari sana, ia mulai rutin berlatih lari, mengikuti berbagai event, hingga bergabung dengan salah satu komunitas lari di Gianyar.

Meski sejak awal memang menyukai olahraga, kini lari menjadi aktivitas yang paling banyak mengisi waktunya.

Ada banyak cerita yang lahir dari perjalanan tersebut. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika Aprilya mulai berlari bersama teman-teman komunitas, terutama saat pertama kali mengikuti long run.

Saat itu, pertanyaan yang terus muncul dalam pikirannya sederhana: “Apakah aku mampu menyelesaikan semuanya?”

Namun, setelah mulai berlari, ia belajar menikmati setiap kilometer yang dilewati. Setiap jarak, setiap kota, dan setiap perjalanan menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Menariknya, ketika ditanya apa sebenarnya yang membuatnya begitu menyukai lari, Aprilya terkadang justru kesulitan menjawab.

Mungkin karena bagi dirinya, lari bukan lagi sekadar olahraga. Ada rasa bahagia ketika berlari bersama teman-teman, ada kebersamaan dalam komunitas, ada tantangan untuk menaklukkan jarak, dan ada kepuasan ketika berhasil melewati batas yang sebelumnya dianggap sulit.

Kadang aku sendiri bingung kalau ditanya bagaimana rasanya atau apa enaknya lari. Susah dijelaskan, tapi yang pasti menyenangkan.”

Dari perjalanan tersebut, Aprilya belajar bahwa tidak semua hal yang membahagiakan harus selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Terkadang, cukup dijalani dan dirasakan.

Ke depan, harapannya pun sederhana. Ia ingin terus diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik bagi keluarga serta orang-orang di sekitarnya.

Untuk kehidupan ekonomi, ia berharap dapat semakin stabil dan selalu diberikan rezeki yang cukup.

Bagi Aprilya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Yang terpenting adalah terus bergerak, meskipun perlahan.

Teruslah melangkah meskipun perlahan.

Tidak semua perjalanan harus sempurna untuk menjadi berarti.”

Ia percaya, selama seseorang mau belajar, menjaga kesehatan, mencintai keluarga, dan memberikan energi positif kepada orang lain, setiap langkah yang dijalani akan membawa kebaikan.

Sebab tidak ada langkah yang benar-benar sia-sia. Bahkan langkah kecil yang dilakukan hari ini bisa menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik.

Karena setiap langkah kecil hari ini adalah bagian perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik lagi.”

Dan mungkin, seperti halnya lari, kehidupan juga bukan tentang seberapa cepat kita mencapai garis akhir.

Tetapi tentang bagaimana kita menikmati setiap kilometer, tetap bertahan ketika lelah, dan bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk terus melangkah.

 

 

Source image: Aprilya