Stephanie Peretz: Kembali ke Bali, Membangun Mimpi di Tengah Hutan

Nosel.id Jakarta- Lahir di London, Stephanie Peretz justru menemukan rumahnya di Bali. Sejak kecil ia tumbuh di Sanur, menghabiskan masa kanak-kanak dengan bermain di pantai sepulang sekolah, berkumpul bersama teman, keluarga, dan anjing-anjing kesayangannya.

Kenangan sederhana itu membuat Bali selalu memiliki tempat istimewa di hatinya.

Stephanie sempat tinggal dan menempuh pendidikan di luar negeri.

Di usia 13 tahun, ia tinggal bersama kakaknya di Los Angeles selama satu tahun, kemudian melanjutkan boarding school di Collège du Léman, Geneva, Switzerland selama dua tahun.

Namun, di usia 15 tahun ia memilih kembali ke Bali karena merasa sejauh apa pun pergi, Bali tetap menjadi rumah baginya. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan secara online dan lulus di usia 16 tahun.

Dunia hospitality sudah dikenalnya sejak kecil melalui bisnis keluarga. Ayahnya mulai mengenalkan dunia hotel sejak Stephanie berusia 9 tahun di Nandini Jungle by Hanging Gardens. Bahkan saat itu ia memiliki seragam receptionist kecil yang dibuat khusus untuknya.

Pengalaman tersebut menjadi awal perjalanan Stephanie memahami bagaimana sebuah hotel beroperasi.

Setelah lulus sekolah di usia 16 tahun, ia mulai fokus terlibat dalam bisnis keluarga, khususnya Hanging Gardens of Bali dan Nandini Jungle by Hanging Gardens.

Kini, di usia 22 tahun, Stephanie dipercaya menjadi Director Hidden Palace by Hanging Gardens of Bali, sebuah private luxury estate seluas sekitar 2.000 meter persegi yang tersembunyi di tengah hutan Bali.

Hidden Palace hanya memiliki lima suite dan dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang sangat private dan eksklusif. Proses pembangunannya memakan waktu sekitar enam tahun dan melibatkan lebih dari 600 artisan Bali.

Perpaduan arsitektur tradisional Bali, infinity pool, seni, hingga detail craftsmanship menjadikan setiap sudutnya memiliki cerita tersendiri.

Menjelang official launch, Stephanie melihat Hidden Palace sebagai salah satu chapter paling exciting dalam perjalanan kariernya.

Meski bekerja di dunia hospitality memberikan kepuasan tersendiri, perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah. Hari-hari panjang, tekanan, dan banyaknya hal yang harus dipikirkan menjadi bagian dari pekerjaan.

Namun, melihat sesuatu yang dibangun bersama akhirnya menjadi nyata memberikan rasa puas yang sulit digantikan.

Terlebih, Stephanie merasa beruntung memiliki tim yang sudah seperti keluarga. Kebersamaan tersebut membuat proses bekerja dan membangun sesuatu terasa lebih menyenangkan.

Untuk menjaga keseimbangan, Stephanie berusaha memberikan ruang bagi dirinya sendiri. Ia menjaga waktu akhir pekan, terutama hari Minggu untuk beristirahat atau sesekali bepergian ke luar kota.

Setiap malam, sekitar dua hingga tiga jam sebelum tidur, ia juga berusaha berhenti memikirkan pekerjaan, menonton film, bersantai, dan menikmati waktu pribadi.

Baginya, bekerja keras penting, tetapi mengetahui kapan harus berhenti sejenak untuk recharge juga sama pentingnya.

Ke depan, Stephanie memiliki impian sederhana: hidup bahagia dan penuh cinta. Ia ingin terus mengembangkan karier dan membawa Hidden Palace semakin jauh, sekaligus memiliki kehidupan yang seimbang.

Ia membayangkan suatu hari memiliki pasangan, anak-anak, keluarga bahagia, teman-teman baik, kesehatan, serta kesempatan menikmati hasil dari kerja keras yang telah dibangun.

Baginya, memiliki visi yang jelas dan terus bekerja ke arah tersebut adalah bagian dari proses mewujudkan kehidupan yang diimpikan.

Kepada pembaca, Stephanie berpesan untuk tetap positif dan tidak takut memiliki mimpi besar. Menurutnya, selama seseorang bersedia bekerja untuk sesuatu yang diinginkan, kemungkinan untuk mewujudkannya selalu terbuka.

Namun, di tengah perjuangan mengejar mimpi, jangan lupa menyayangi diri sendiri. Beri waktu untuk bernapas, jangan terlalu keras pada diri sendiri, dan jangan biarkan tekanan mengambil seluruh kebahagiaan dari perjalanan.

Dream big, work hard, but never forget to enjoy the life you’re working so hard to build.”

Bagi Stephanie, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang mampu mencapai impian, tetapi juga tentang bagaimana menikmati kehidupan yang sedang dibangun dengan kerja keras tersebut.

 

 

Source image: Stephanie