Nosel.id Jakarta- Berdarah Yogyakarta namun tumbuh besar di Jakarta, Sassa Dewono adalah anak pertama dan satu-satunya perempuan di antara tiga bersaudara.
Dinamika ibukota yang keras menjadi latar belakang pembentukannya, sementara garis keturunan Yogya mungkin menyumbang kedalaman dan ketenangan yang terpancar dari perjalanan hidupnya yang penuh liku.
Jakarta memberinya kulit yang tebal, Yogya memberinya jiwa yang tabah.
Lebih dari 15 tahun Sassa mendedikasikan diri di dunia pendidikan anak usia dini, khususnya yang berbasis kurikulum internasional (American & British).
Perjalanan karirnya dimulai dari akar paling dasar: menjadi seorang guru.
Dedikasi dan kemampuannya membawanya naik tangga, dan selama lebih dari satu dekade terakhir hingga kini.
Ia memegang peran strategis sebagai School Manager, mengelola kompleksitas operasional dan pendidikan di sekolahnya.
Namun, kontribusinya pada dunia anak melampaui dinding sekolah.
Bersama sahabat-sahabatnya, ia mengelola sebuah rumah singgah yang menjadi tempat bernaung bagi anak-anak dengan riwayat terminal illness, memberikan kenyamanan dan dukungan di masa-masa sulit mereka.
Kepeduliannya juga mengalir ke dunia olahraga, di mana sesekali bersama komunitasnya.
Sassa turut menangani event lari di Bali, sebuah aktivitas yang ternyata memiliki akar emosional yang dalam.
Aktivitas lari masuk ke hidup Sassa pada tahun 2018, membawa cahaya di tengah kegelapan yang pekat: setelah kepergian suami tercinta.

Saat itu, lari bukan sekadar olahraga; ia menjadi penyeimbang kehilangan dan masa duka, sebuah mekanisme penyembuhan yang konkret.
Setiap langkah kaki di aspal menjadi terapi, melepaskan beban dan mengalirkan kembali harapan.
Dari proses penyembuhan itu, tumbuhlah cinta baru, cinta pada aktivitas lari itu sendiri, sebuah hubungan yang bertahan kuat sampai sekarang.
Seperti perjalanan hidup, dunia larinya pun diwarnai suka dan duka. Sukanya jelas: jiwa raga yang lebih sehat adalah hadiah langsung.
Lebih dari itu, lari membuka pintu pertemanan baru.
Orang-orang yang ditemuinya di lintasan lari atau komunitas pelari lambat laun menjelma menjadi keluarga baru, sebuah jaringan dukungan sosial yang berharga. Namun, duka pun menghadang.
Cedera lutut pernah memaksanya berhenti, menghentikan ritme yang sudah terbangun.
Ditambah lagi, kehilangan yang bertubi-tubi dalam 5 tahun terakhir, yang tak disebutkan rincinya, tapi pasti meninggalkan luka mendalam, sempat membuatnya menjauhi aktivitas lari cukup lama.
“Untuk mulai kembali itu cukup susah,” akunya jujur, menggambarkan perjuangan melawan trauma fisik dan emosional untuk kembali menemukan kekuatan di setiap langkah.
Harapan Sassa untuk masa depan berpusat pada kesederhanaan yang mendalam dan ketangguhan yang tenang.
Di puncak permohonannya adalah kesehatan untuk dirinya dan keluarga kecilnya.
Ia mendambakan keluarga kecilnya tetap hangat dan penuh sayang, menjadi oasis kehangatan di tengah kehidupan.
“Selalu dikelilingi orang baik yang bikin semangat” adalah doanya, menyadari betapa lingkungan positif adalah penyangga jiwa.
Dan untuk perannya sebagai ibu, tekadnya tegas:
“Semoga aku bisa jadi ibu yang kuat dan nggak gampang nyerah.”
Ini adalah harapan yang lahir dari pengalaman, sebuah komitmen untuk ketangguhan demi orang yang dicintai.

Filosofi hidup Sassa Dewono, yang ia bagikan sebagai penutup, merangkum esensi perjuangannya dengan sangat indah:
“Perempuan kuat bukan yang tak pernah sedih, tapi yang tetap melangkah dengan tenang.
Tak perlu sempurna, cukup terus belajar dan bertahan, satu hari demi satu hari.”
Source image: sassa








