Rena Da Frina: Dari Koridor Pemerintahan Menuju Jalan Pengabdian yang Lebih Luas

Nosel.id Jakarta- Rena Da Frina lahir di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, sebuah kota kecil yang dikelilingi lautan dan sarat dengan nuansa kemaritiman.

Namun, sebagian besar perjalanan masa kecilnya justru tumbuh dan terbentuk di Pekanbaru, Riau. Di kota inilah Rena menghabiskan masa pendidikan sejak taman kanak-kanak hingga bangku kuliah, menjadikan Pekanbaru sebagai ruang penuh kenangan yang membentuk karakter dan arah hidupnya.

Kedua orang tuanya adalah aparatur sipil negara. Ibunya bekerja di Kecamatan Sail, Pekanbaru, sementara ayahnya bertugas di Kantor Gubernur Riau.

Lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia pemerintahan membuat Rena kecil akrab dengan suasana kantor sejak dini. Sepulang sekolah, ia sering menunggu ibunya di kantor kecamatan.

Di sela waktu menunggu itu, ia melihat aktivitas para pegawai, berbincang dengan rekan kerja ibunya, bahkan kadang diam-diam mencoba mengotak-atik mesin ketik atau bermain dengan stempel kantor.

Pengalaman sederhana itu ternyata meninggalkan kesan mendalam. Ia tumbuh dengan gambaran jelas tentang kehidupan sebagai pegawai negeri.

Ibunya saat itu menjabat sebagai Kepala Urusan (KAUR) yang kini dikenal sebagai Kepala Seksi hingga kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Kecamatan. Sosok ibunya menjadi teladan disiplin, pengabdian, dan dedikasi dalam pelayanan publik.

Tidak heran jika sejak kecil Rena seperti “terdoktrin” oleh lingkungan keluarga untuk mengikuti jejak yang sama. Setelah menyelesaikan pendidikan di Jurusan Agribisnis Pertanian Universitas Riau, ia langsung mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada tahun 2003.

Usahanya membuahkan hasil. Pada akhir Desember 2003, ia resmi diangkat sebagai CPNS dan memulai perjalanan karier sebagai aparatur negara.

Namun hidup sering membawa seseorang pada persimpangan yang tak terduga.

Di tengah perjalanan karier yang tergolong stabil dan menjanjikan, Rena mengambil keputusan besar: mengundurkan diri dari status ASN. Keputusan tersebut bukan perkara mudah.

Ia meninggalkan zona nyaman yang selama ini menjadi impian banyak orang. Namun dengan restu suami dan keluarga, ia memilih jalan baru, mencoba mengambil peran dalam konstelasi politik.

Meski langkah politiknya saat itu belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan, keputusan untuk keluar dari dunia birokrasi justru membuka pintu-pintu kesempatan lain yang jauh lebih luas. Bagi Rena, masa setelah resign menjadi fase pembelajaran yang sangat berharga.

Ia bersama sejumlah rekan membentuk sebuah lembaga bantuan hukum, sebagai wadah untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat yang membutuhkan keadilan.

Di sisi lain, ia juga mulai menekuni dunia usaha membuka bisnis kopi dan terlibat dalam bisnis interkomunikasi. Tak berhenti di sana, ia juga mendirikan sebuah yayasan sosial serta aktif bergabung dengan lembaga pemerhati pendidikan yang membawanya berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia.

Berbagai aktivitas tersebut memperluas wawasan dan jaringan sosialnya. Jika sebelumnya sebagai ASN ia merasa ruang geraknya terbatas oleh struktur dan lingkup kerja birokrasi, kini ia merasakan kebebasan untuk berbuat lebih banyak bagi masyarakat.

Saat ini, fokus utama Rena berada pada aktivitas sosial melalui lembaga bantuan hukum yang ia dirikan bersama timnya. Mereka aktif mendampingi berbagai kasus yang berkaitan dengan pelecehan seksual, pencabulan, serta kekerasan terhadap anak.

Baginya, perlindungan terhadap kelompok rentan adalah tanggung jawab moral yang tidak bisa diabaikan.

Di bidang pendidikan, ia juga konsisten menyuarakan berbagai persoalan yang kerap terjadi di lapangan, khususnya terkait dugaan penyelewengan dana Program Indonesia Pintar (PIP) serta kondisi sarana dan prasarana sekolah di daerah pinggiran dan wilayah terpencil.

Rena percaya bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa, sehingga pengelolaannya harus diawasi dengan serius dan penuh integritas.

Semua langkah yang ia ambil berangkat dari satu harapan sederhana namun kuat: menggunakan tenaga, pengalaman, jaringan, dan kesempatan yang dimilikinya untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Bagi Rena Da Frina, hidup bukan sekadar tentang pencapaian pribadi atau posisi sosial.

Lebih dari itu, hidup adalah tentang bagaimana seseorang dapat hadir dan memberi arti bagi orang lain.

Ia menutup kisah perjalanannya dengan sebuah pesan yang menjadi pegangan hidupnya:

Sebaik-baiknya manusia hidup adalah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi sesama.”

Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung makna besar sebuah pengingat bahwa nilai kehidupan sejati terletak pada seberapa besar kebaikan yang bisa kita sebarkan kepada orang lain.

 

 

Source image: rena