Nosel.id Jakarta- Bandung bukan sekadar kota bagi Regina. Ia adalah rumah, tempat bernama Moch. Toha yang hingga hari ini selalu menghadirkan rindu untuk pulang.
Di sanalah Regina tumbuh di lingkungan yang sederhana namun kaya akan nilai kebersamaan.
Warga yang ramah, suasana yang hangat, serta keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.
Ia lahir dari keluarga sederhana, namun justru dari kesederhanaan itu Regina belajar arti syukur, keteguhan, dan ketulusan.
Lingkungan yang baik membentuknya menjadi pribadi yang hangat, terbuka, dan menghargai proses.
Dalam kesehariannya, Regina adalah seorang wiraswasta yang juga bekerja di salah satu perusahaan di Bandung.
Aktivitasnya padat, namun ia tetap menyisakan ruang untuk dirinya sendiri.
Salah satu caranya adalah melalui olahraga lari, sebuah pilihan yang awalnya sederhana, namun perlahan menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Ketertarikan Regina pada dunia lari berawal dari satu niat: menjaga kesehatan diri. Tidak ada tuntutan harus hebat sejak awal.
“Meskipun baru, nggak apa-apa. Daripada nggak sama sekali,” prinsip itu yang ia pegang.
Kini, ia rutin berlari sekitar tiga kali dalam seminggu, menjadikan olahraga bukan hanya rutinitas fisik, tetapi juga ruang refleksi dan penguatan mental.
Seperti hal lain dalam hidup, hobi ini pun memiliki suka dan duka. Ada rasa lelah, ada rasa ingin menyerah.
Namun ada pula kepuasan ketika berhasil melawan diri sendiri, menjaga konsistensi, dan terus bergerak meski langkah terasa berat.
Lari mengajarkannya tentang ritme bahwa hidup tidak selalu tentang kecepatan, tetapi tentang keberlanjutan.
Dalam doa-doanya, Regina tidak meminta hal yang berlebihan.
Ia percaya bahwa semua kebaikan, jika dimohon dengan tulus, akan Allah kabulkan untuk semua.
Keyakinan itu yang membuatnya melangkah dengan tenang dan penuh harap.
Bagi Regina, momen paling indah dalam hidup seorang perempuan adalah saat ia benar-benar menyadari kekuatannya sendiri.
Saat ia tahu bahwa ia mampu melakukan apa pun yang ingin ia lakukan.
Mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, mengambil keputusan sendiri, menanggung risikonya sendiri tanpa menyalahkan siapa pun.
Ia memilih jalannya sendiri, merancang masa depan anaknya dengan tangannya sendiri, berjuang dan sembuh dengan kekuatannya sendiri.

Meski kesulitan datang silih berganti, Regina percaya bahwa dirinya sendirilah hakim terkuat dalam menentukan sikap dan tindakan.
Dari kesadaran itulah lahir rasa merdeka. Bebas. Damai. Dan mempesona.
Melalui langkah-langkah kecil di lintasan lari maupun dalam kehidupan Regina menunjukkan bahwa kekuatan perempuan bukan terletak pada sorotan, melainkan pada keberanian mengambil kendali atas hidupnya sendiri.
Source image: regina








