R.Lidya Daneera, Jadilah Diri Sendiri Tanpa Pedulikan Omongan Orang Lain 

 

Nosel.id Jakarta- Lahir di Jawa Timur dan tumbuh besar di Pulau Garam, Madura tepatnya di Bangkalan, R. Lidya Daneera membawa dalam dirinya jiwa perempuan pesisir: hangat, kuat, dan penuh cerita.

Kampung halamannya mungkin bukan kota besar, tapi justru dari kota kecil itulah Lidya menemukan warna hidup yang membentuk dirinya.

Bangkalan adalah tempat di mana setiap sudutnya punya kisah, tempat orang-orang hidup dengan kedekatan yang khas, serta tradisi yang melekat dalam keseharian.

“Kampungku ini kota kecil yang penuh cerita,” ungkapnya.

Dan dari kota kecil itulah ia mulai melangkah, mencari arti hidup yang lebih luas.

Saat banyak orang mengejar status dan profesi glamor, Lidya menjalani kesibukan yang justru lebih personal: mempercantik diri dan terus meng-upgrade value pribadinya.

Baginya, merawat diri adalah bagian dari merawat harga diri.

Ia percaya bahwa perempuan harus berkembang dari dalam dan luar, bukan demi orang lain, tetapi demi dirinya sendiri.

Lidya memang belum memiliki bisnis, tetapi ia sedang dalam proses membangun usaha yang sudah lama ia impikan.

Doain lancar ya,” ujarnya sambil tersenyum.

Sikapnya mencerminkan seseorang yang tidak terburu-buru, namun konsisten menata masa depan dengan kesadaran penuh.

Selain itu, Lidya punya hobi yang menambah warna hidupnya traveling.

Ia senang mengunjungi tempat baru, merasakan kultur yang berbeda, dan bertemu orang baru.

Baginya, setiap perjalanan adalah kesempatan memperluas relasi dan menambah teman, dua hal yang sangat ia hargai.

Keputusan terbesar dalam hidup Lidya adalah ketika ia memutuskan bekerja di kapal pesiar.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar meninggalkan zona nyaman: jauh dari Madura, Surabaya, dan Jakarta, tempat-tempat yang selama ini menjadi rumah keduanya.

Berada di kapal pesiar membuka dunia yang sama sekali baru: lingkungan multinasional, ritme kerja yang unik, hingga pertemuan dengan banyak wajah asing dari berbagai negara.

Keberanian ini menunjukkan bahwa Lidya bukan hanya penikmat perjalanan, tetapi juga perempuan yang siap menantang dirinya sendiri.

Dalam pekerjaannya, Lidya mengaku bahwa sukanya cukup banyak. “Dapat duit lebih banyak, itu jelas,” katanya sambil tertawa.

Suasana kerja yang menyenangkan, kesempatan berjumpa dengan banyak orang menarik termasuk “cowo-cowo ganteng buat cuci mata” menjadi hal yang membuat hari-harinya berwarna.

Namun di balik semua itu, ada satu bagian yang paling berat: rindu.

Ia harus jauh dari keluarga, sahabat, dan orang-orang yang selama ini menjadi sandarannya.

Bahkan makanan khas kampung seperti rujak cingur Madura dan rujak petis menjadi hal yang sangat ia rindukan. “Itu part tersedih aku,” ucapnya.

Jarak memang memberi pengalaman hebat, tetapi juga mengajarkan arti pulang.

Berbeda dengan banyak orang yang berharap banyak dari lingkungan, Lidya memilih prinsip yang lebih realistis.

Aku nggak pernah mau menaruh harapan pada siapa pun, karena pasti kecewa,” tuturnya.

Sebaliknya, ia berfokus pada hal-hal yang benar-benar bisa ia kendalikan yakni sehat, karena kesehatan adalah pondasi segala hal.

Lalu bahagia, karena kebahagiaan tidak bisa dibeli. Dan kaya raya, karena ia ingin hidup mandiri dan mampu membahagiakan orang-orang terdekatnya.

Sederhana namun sangat jujur dan justru itu yang membuatnya kuat.

Di akhir kisahnya, Lidya memberikan pesan yang terasa seperti nasihat dari seorang teman yang pernah jatuh, bangkit, lalu menemukan versi terbaik dirinya:

Teruntuk kalian, jadilah diri sendiri tanpa pedulikan omongan orang lain.

Apa pun yang terjadi kemarin, hari ini, besok, atau yang akan datang, itu sudah rencana Tuhan.”

Kalimat itu bukan hanya motivasi, tetapi refleksi dari perjalanan hidup Lidya sendiri perempuan yang berani melangkah, berani mengambil risiko, dan berani menjadi dirinya sendiri.

Dari Bangkalan yang penuh cerita hingga laut luas yang membawanya ke berbagai belahan dunia, Lidya telah membuktikan bahwa perempuan dari kota kecil pun bisa melangkah sejauh yang ia inginkan.

Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mulai, konsistensi untuk bertahan, dan hati yang tidak mudah tumbang oleh penilaian orang lain.

 

 

Source image: lidya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *