Prissy Prakasita Aminanda: Dari Desa Kecil di Jember Menuju Dunia, Berani Bermimpi dan Tak Pernah Berhenti Mencoba

Nosel.id Jakarta- Lahir dan besar di sebuah desa di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Prissy Prakasita Aminanda tumbuh dalam keluarga sederhana.

Sang ayah berprofesi sebagai guru matematika, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga.

Meski berasal dari desa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat kota, keterbatasan tidak pernah menghalangi rasa ingin tahu dan semangatnya untuk terus berkembang.

Berbeda dengan anak-anak seusianya, Prissy lebih senang menghabiskan waktu menonton film fantasi berbahasa Inggris dibanding bermain di luar rumah.

Film-film seperti Harry Potter, Pirates of the Caribbean, hingga Hansel & Gretel menjadi teman masa kecilnya. Namun, kegemarannya itu justru menjadi awal jiwa wirausahanya tumbuh.

Uang THR yang diterimanya saat Lebaran tidak dihabiskan untuk kesenangan sesaat. Ia memilih membeli VCD film, lalu menyewakannya kepada teman-temannya dengan tarif Rp2.000 per hari. Dari aktivitas sederhana tersebut, Prissy mulai belajar bahwa kreativitas dapat menghasilkan nilai.

Memasuki bangku SMA, naluri bisnisnya semakin berkembang. Ia membantu tetangganya menjual jamur crispy dari kelas ke kelas.

Dari setiap bungkus yang terjual, ia memperoleh keuntungan sekitar Rp200. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang sekitar Rp20.000, jumlah yang cukup berarti pada saat itu.

Tak berhenti di sana, Prissy juga menjadi penyiar radio untuk program khusus pelajar setiap hari Minggu sehingga memperoleh penghasilan mingguan tanpa mengganggu sekolah.

Ia pun terpilih sebagai Indosat Young Ambassador dan mendapatkan jatah pulsa setiap bulan yang kemudian dijual kembali kepada teman-temannya.

Jadi waktu SMA saya sudah punya penghasilan harian, mingguan, sekaligus bulanan. Dari situlah saya belajar bahwa selalu ada cara untuk menghasilkan sesuatu kalau kita mau berusaha.”

Perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan mulus. Prissy pernah berada di titik terendah dalam hidupnya hingga sempat kehilangan harapan. Namun, ia memilih bangkit dan menjadikan setiap luka sebagai bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.

Pernah ada masa ketika saya hampir menyerah pada hidup. Tapi ternyata setelah badai itu berlalu, Allah memberikan kesempatan untuk melihat dunia. Saya bisa berangkat ke Eropa dan mengunjungi sembilan negara. Semua itu bukan sesuatu yang datang dengan mudah.”

Dalam membangun karier, Prissy memiliki prinsip yang mungkin tidak dimiliki banyak orang. Ia tidak pernah membatasi pertemanan berdasarkan latar belakang, profesi, ataupun status sosial. Baginya, setiap orang memiliki cerita dan kesempatan yang bisa saling membuka jalan.

Saya berteman dengan siapa saja, mulai dari ustazah, pengacara, CEO, sopir, hingga teman-teman dari berbagai negara.

Semua pekerjaan yang saya dapatkan selalu datang dari rekomendasi teman. Karena itu saya percaya, jangan pernah meremehkan sebuah hubungan baik.”

Kariernya dimulai dari menjadi guru les saat kuliah dengan bayaran sekadar ucapan terima kasih. Perlahan, ia mulai dibayar dengan nasi kotak, kemudian Rp25.000 per pertemuan, meningkat menjadi Rp50.000, hingga akhirnya dipercaya mengajar anak ekspatriat dengan bayaran Rp150.000 hingga Rp200.000 per jam.

Hingga kini, sistem kerjanya tetap berbasis per jam, sebuah perjalanan yang dibangun dari konsistensi dan kepercayaan.

Tak hanya mengajar, Prissy juga menerima berbagai kesempatan lain, mulai dari menjadi MC, menjalankan bisnis, hingga mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Baginya, selama pekerjaan itu dilakukan dengan tulus dan memberi manfaat, rezeki akan mengikuti.

Saya selalu mengiyakan kesempatan yang datang. Yang penting kerjakan dengan ikhlas. Soal nominal, saya percaya rezeki akan mengikuti.”

Di balik pencapaian yang terlihat hari ini, Prissy mengaku sering mendengar komentar bahwa hidupnya tampak mudah. Padahal, menurutnya, setiap keberhasilan selalu dibayar dengan kerja keras, pengorbanan, dan proses panjang yang tidak terlihat oleh banyak orang.

Banyak yang bilang, ‘Enak ya jadi Prissy.’ Padahal mereka tidak melihat perjuangan di balik semua itu. Tidak mudah. Benar-benar tidak mudah.”

Menutup perbincangan, Prissy menyampaikan pesan yang penuh semangat kepada generasi muda Indonesia.

Kalau kalian masih bisa bertahan di Indonesia hari ini, itu saja sudah hebat. Jangan pernah menghalangi mimpi kalian sendiri.

Kalau mimpinya sudah tinggi, sekarang saatnya bangun dan mengejarnya. Ingat, bisa itu karena terbiasa.

Kemampuan bukan hanya milik orang yang paling pintar. Semua orang bisa, selama mau belajar, mencoba, dan tidak berhenti melangkah.”

Kisah Prissy Prakasita Aminanda menjadi bukti bahwa asal-usul bukanlah batas untuk meraih mimpi.

Dengan keberanian mencoba, kemauan untuk terus belajar, serta ketulusan dalam setiap langkah, seorang anak desa pun dapat membuka jalan hingga menjelajahi dunia.

 

 

Source image: Prissy Prakasita Aminanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *