Nosel.id Jakarta- Nama saya Nidha Priyono. Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara.
Saya bukan gadis kota, dan saya tidak pernah merasa perlu menjadi satu.
Saya lahir dan tumbuh di sebuah desa di Yogyakarta, tepatnya di Sewon, Kabupaten Bantul.
Dari desa itulah saya belajar bahwa kesederhanaan tidak pernah membatasi wawasan, justru memperluas cara pandang tentang hidup.
Saya tidak pernah malu menyebut diri sebagai orang desa. Ke mana pun saya melangkah, saya selalu membawa identitas saya sebagai orang Jawa.
Jangan dihilangkan Jawanya, prinsip itu saya pegang erat. Saya bangga menjadi gadis Jawa, bangga dengan nilai, budaya, dan kesenian yang diwariskan secara turun-temurun.
Saya tumbuh di keluarga sederhana yang lekat dengan dunia seni.
Ayah saya adalah seorang musisi lokal, atau penyanyi indie yang berpindah dari desa ke desa.

Dari beliau, saya belajar bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi juga pengabdian dan kejujuran dalam berkarya.
Cinta saya pada budaya tumbuh secara alami.
Hingga kini, saya masih aktif melestarikan kesenian tradisional Jawa, mulai dari ketoprak Jawa hingga tari tradisional Yogyakarta.
Saya bergabung dengan beberapa sanggar tari dan komunitas seni, menjadikan budaya bukan hanya warisan, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup saya.
Dalam keseharian, saya menjalani berbagai peran.
Saya bekerja sebagai hotelier sekaligus sales manager di salah satu hotel bintang di kawasan Malioboro, Yogyakarta.
Di sisi lain, saya juga mengajar sebagai dosen di sebuah akademi pariwisata, sembari melanjutkan studi di salah satu universitas di Yogyakarta.
Dunia pariwisata dan pendidikan menjadi ruang pengabdian yang saya cintai, tempat saya belajar sekaligus berbagi.
Karena pekerjaan saya banyak mengharuskan duduk, saya menyeimbangkannya dengan olahraga.
Mulai dari lari, pound fit, zumba, gym, hingga berbagai aktivitas fisik lainnya.
Saat ini, lari menjadi kebiasaan yang paling saya nikmati, cara sederhana untuk menjaga tubuh tetap sehat dan pikiran tetap jernih.
Saya berasal dari keluarga seni. Kakak saya pun memiliki latar belakang yang sama. Dari situlah lahir sebuah usaha keluarga berbasis kreativitas bernama Omah Kreatif Dongaji, usaha pengolahan limbah kertas yang berbasis rumah.
Tempat ini sering digunakan sebagai ruang pelatihan dan kunjungan dari berbagai instansi pemerintah maupun korporasi.
Rumah bagi kami bukan hanya tempat pulang, tetapi juga ruang berkarya dan berbagi manfaat.
Perjalanan ini tentu tidak selalu mudah. Ada masa-masa berat ketika tugas kuliah menumpuk, pekerjaan datang bersamaan, dan materi harus disiapkan dalam waktu terbatas.
Lelah, penat, bahkan hampir menyerah semua pernah saya rasakan.
Namun saya memilih menjalaninya dengan ikhlas. Menikmati capeknya, dan mensyukuri hasilnya. Karena saya percaya, setiap proses selalu membawa pelajaran.
Harapan saya ke depan adalah terus berkembang dalam dunia karier, khususnya di bidang pariwisata dan pendidikan. Mengajar bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hati.
Ini adalah proses saya memantaskan diri dan mengumumkan diri pada kehidupan bahwa saya siap bertumbuh.

Saya juga berharap, kelak dipertemukan dengan jodoh yang bisa diajak hidup dan berbincang selamanya.
Bagi saya, status hanyalah bagian kecil dari perjalanan, bukan tujuan utama.
Pesan hidup yang selalu saya pegang sederhana namun kuat:
Selalu bersyukur atas takdir. Jangan pernah bertanya “kenapa” kepada Tuhan atas apa yang terjadi.
Karena sejatinya, hidup ini hanyalah titipan. Jika hidup saja adalah pinjaman, apakah pantas kita mempertanyakan kegagalan dan takdirnya?
Saya adalah seorang perempuan yang tidak membuang waktu. Saya mempersiapkan diri. Bukan untuk bersaing, tetapi untuk saling menguatkan.
Bukan untuk mendahului, tetapi untuk berjalan berdampingan dengan iman, usaha, dan rasa syukur.
Source image: nidha








