Nosel.id Jakarta- Bagi Nenden Prihasty, Serang, Banten bukan sekadar tempat tinggal. Kota yang mungkin belum semaju kota-kota besar lainnya itu menyimpan begitu banyak kenangan yang membentuk dirinya hingga menjadi perempuan yang kuat seperti sekarang.
Di sanalah ia tumbuh, belajar tentang kehidupan, keluarga, kehilangan, dan akhirnya menemukan cara untuk bangkit.
Sehari-hari, Nenden berprofesi sebagai seorang banker. Di balik kesibukannya bekerja di dunia perbankan, tersimpan perjalanan hidup yang penuh pelajaran berharga.
Kehilangan kedua orang tua di usia yang masih relatif muda menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya terhadap hidup.
Sang ibu berpulang akibat pandemi Covid-19, sementara ayahnya meninggal dunia setelah bertahun-tahun berjuang melawan diabetes. Kepergian dua sosok yang sangat dicintainya meninggalkan luka mendalam.
Nenden mengakui bahwa dirinya sempat terpuruk dan membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan tersebut.
Namun dari masa-masa sulit itu, ia menemukan sebuah kesadaran baru.
Ia mulai berpikir tentang kesehatan dirinya sendiri dan risiko penyakit yang mungkin diwariskan secara genetik.
Alih-alih larut dalam kesedihan, Nenden memilih untuk menjadikan pengalaman hidupnya sebagai motivasi untuk berubah.
“Saya berpikir, jangan sampai saya meneruskan penyakit yang dialami orang tua.
Minimal saya bisa berusaha mencegahnya dari sekarang dengan berolahraga, menjaga pola makan, dan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat,” ujarnya.
Pilihan itu kemudian membawanya pada olahraga lari.
Menurut Nenden, lari adalah olahraga yang sederhana namun efektif. Tidak membutuhkan peralatan yang rumit, tidak harus bergantung pada orang lain, dan bisa dilakukan kapan saja.

Awalnya, keputusan untuk mulai berlari bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Tiga bulan pertama terasa begitu berat. Ia harus bangun lebih pagi, menghadapi rasa lelah, cuaca panas, dan berbagai alasan yang membuatnya ingin menyerah. Keluhan demi keluhan kerap muncul setiap kali alarm pagi berbunyi.
Namun konsistensi perlahan mengubah segalanya.
Seiring waktu, Nenden mulai bertemu dengan komunitas dan teman-teman yang memiliki frekuensi yang sama. Kehadiran mereka membuat aktivitas lari terasa lebih menyenangkan.
Ia juga mulai menikmati berbagai hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, mulai dari mengoleksi perlengkapan lari hingga mengikuti berbagai event dan lomba.
“Awalnya saya nggak suka lari. Capek, panas, harus bangun pagi. Tapi setelah ketemu teman-teman yang sefrekuensi, semuanya jadi berbeda. Sekarang malah senang ikut event lari dan pakai outfit-outfit kece,” katanya sambil tertawa.
Bagi Nenden, lari kini bukan hanya soal membakar kalori atau menjaga kebugaran fisik.
Lebih dari itu, olahraga telah menjadi terapi yang membantunya memulihkan kesehatan mental, mengelola emosi, dan menemukan kembali semangat hidup setelah kehilangan besar yang pernah dialaminya.
Setiap langkah yang ia tempuh di lintasan lari menjadi simbol perjalanan untuk terus bergerak maju. Dari rasa sedih menuju penerimaan, dari keterpurukan menuju harapan.
Ke depan, Nenden berharap dapat terus menjaga keseimbangan hidup. Ia ingin tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki mental yang kuat, keluarga yang harmonis, ibadah yang semakin baik, serta karier dan rezeki yang terus bertumbuh.
“Semoga hidup bisa dijalani dengan bahagia lahir dan batin. Sehat fisik, sehat mental, keluarga harmonis, ibadah makin rajin, dan rezeki terus mengalir. Aamiin,” harapnya.
Di akhir cerita, Nenden memiliki pesan sederhana namun bermakna bagi siapa saja yang masih menunda untuk hidup lebih sehat.

“Ayo mulai olahraga dari sekarang. Apa pun jenis olahraganya, pilih yang membuat kita senang menjalaninya.
Olahraga adalah investasi untuk masa depan. Tidak masalah jika terlambat memulai, yang penting mulai bergerak.
Tidak masalah jika pelan, yang penting jangan berhenti.”
Kisah Nenden Prihasty mengingatkan kita bahwa terkadang sebuah kehilangan besar dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih baik.
Dan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari, kita bisa menemukan kembali harapan, kesehatan, dan makna hidup yang sesungguhnya.
Source image: Nenden Prihasty






