Nosel.id Jakarta- Dari sebuah kota di Sragen, Jawa Tengah, lahir seorang perempuan yang tumbuh dalam atmosfer seni sekaligus dedikasi terhadap pendidikan.
Nanda Wibowo, demikian ia dikenal, berasal dari keluarga yang memiliki akar kuat dalam dunia kesenian.
Ayahnya adalah seorang seniman dalang, sementara sang ibu pada masa mudanya dikenal sebagai seorang penari.
Lingkungan keluarga yang penuh dengan nilai seni itulah yang membentuk karakter Nanda sejak kecil.
Ia terbiasa melihat bagaimana seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana ekspresi, pengabdian, dan cara untuk menyampaikan pesan kehidupan.
Namun perjalanan hidup Nanda tidak hanya berputar di panggung seni. Sejak lama, ia juga memiliki mimpi untuk menjadi seorang pendidik yang dapat membantu banyak orang, khususnya generasi muda, menemukan arah hidup mereka.
Menyatukan Dua Dunia: Pendidikan dan Seni
Bagi sebagian orang, memilih antara karier dan hobi sering kali menjadi dilema. Namun bagi Nanda Wibowo, keduanya justru berjalan beriringan.

Ia berprofesi sebagai guru Bimbingan dan Konseling (BK), sebuah pekerjaan yang menuntut empati, kesabaran, serta kemampuan memahami berbagai persoalan yang dihadapi para siswa.
Dalam perannya ini, Nanda hadir sebagai pendengar yang baik, seseorang yang siap membantu para pelajar melewati berbagai tantangan kehidupan sekolah maupun pribadi.
Di ruang konseling, Nanda menjalankan perannya sebagai seorang pendidik sekaligus penuntun.
Ia mendampingi siswa yang sedang mencari arah, memberikan motivasi, serta membantu mereka memahami potensi diri yang dimiliki.
Namun ketika akhir pekan tiba, peran itu berubah.
Di hari Minggu, Nanda menjelma menjadi sosok yang berbeda: seorang wedding singer. Di atas panggung pernikahan, ia menyuguhkan suara yang indah dan penampilan yang memikat, mengiringi momen bahagia pasangan yang memulai perjalanan hidup baru.
Bagi Nanda, dua dunia tersebut tidak saling bertabrakan. Justru keduanya saling melengkapi dan membentuk keunikan dalam dirinya.
“Menjadi guru BK adalah cita-cita saya, sementara menjadi wedding singer adalah hobi saya. Keduanya berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu,” ungkapnya.
Seperti perjalanan profesi pada umumnya, Nanda juga merasakan berbagai suka dan duka dalam menjalani dua peran tersebut.
Di ruang konseling, ia harus menjadi pendengar yang sabar. Setiap siswa datang dengan cerita dan persoalan yang berbeda. Ada yang sedang menghadapi tekanan belajar, konflik pertemanan, hingga persoalan keluarga.
Dalam situasi seperti itu, Nanda dituntut untuk hadir bukan hanya sebagai guru, tetapi juga sebagai sahabat yang mampu memberikan rasa aman bagi para siswa.
Namun ketika berdiri di atas panggung sebagai wedding singer, suasana yang dihadapi sangat berbeda. Ia harus tampil percaya diri, menyuguhkan suara yang merdu, serta menghadirkan suasana yang indah bagi para tamu undangan.
Perubahan peran ini justru menjadi warna tersendiri dalam kehidupannya.
“Ketika di meja konseling saya menjadi pendengar yang baik. Tetapi ketika di atas panggung, saya dituntut menjadi seorang seniman yang mampu menyuguhkan sesuatu yang indah untuk didengar dan dilihat oleh para penonton,” jelasnya.
Dua panggung kehidupan itu ruang konseling dan panggung musik membentuk keseimbangan dalam diri Nanda.
Bagi Nanda Wibowo, menjalani dua peran sekaligus bukanlah beban, melainkan cara untuk menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan ekspresi diri.
Ia berharap profesinya sebagai guru BK dapat terus ia jalani dengan penuh dedikasi. Menjadi bagian dari perjalanan para siswa menuju masa depan adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
Di sisi lain, dunia seni juga tetap ingin ia pelihara. Menjadi wedding singer bukan hanya tentang bernyanyi, tetapi juga tentang menyalurkan kecintaan terhadap seni yang sudah tumbuh sejak kecil.
“Seni adalah bagian dari diri saya. Menjadi wedding singer bukan penghalang untuk menjalankan profesi sebagai guru, justru menjadi ruang untuk tetap berekspresi,” katanya.
Di tengah berbagai peran yang dijalaninya, Nanda memiliki pesan sederhana namun kuat bagi siapa pun yang membaca kisahnya.
Menurutnya, setiap orang memiliki potensi untuk menjadi inspirasi bagi orang lain. Hal itu tidak selalu harus dilakukan melalui hal-hal besar, tetapi bisa dimulai dari sikap dan energi positif yang kita bagikan kepada lingkungan sekitar.
“Teruslah menjadi inspirator yang positif. Tebarkan energi baik kepada semua orang. Tetap bersinar walau badai semakin kencang,” pesannya.

Dari Sragen, kota yang kaya akan budaya dan tradisi seni, Nanda Wibowo menunjukkan bahwa seseorang tidak harus memilih antara mimpi dan passion.
Keduanya bisa berjalan bersama, menciptakan harmoni antara pengabdian dan ekspresi diri.
Di ruang konseling ia menenangkan hati, di panggung pernikahan ia menghangatkan suasana.
Dan dari dua panggung kehidupan itu, Nanda terus menyuarakan satu hal yang sama: energi kebaikan untuk sesama.
Source image: nanda






