Najwa Afrania H. Ilyas Nampira, Tumbuh dari Tanah Timur dan Belajar Menjadi Perempuan yang Berani Melangkah

Nosel.id Jakarta- Najwa Afrania H. Ilyas Nampira berasal dari Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur.

Baginya, Alor adalah sebuah kepulauan yang mungkin tidak selalu menjadi sorotan dan bahkan terkadang terasa begitu jauh dari hiruk-pikuk ibu pertiwi.

Namun, justru dari tempat yang sederhana itulah ia tumbuh dengan membawa identitas yang begitu kuat sebagai perempuan dari tanah Timur.

Najwa tumbuh dalam keluarga yang tidak lagi utuh sejak ia beranjak remaja. Sejak SMA, ia hidup bersama ibunya dan sang kakek.

Ayahnya telah berpisah dengan ibunya, tetapi hal tersebut tidak pernah membuat Najwa kehilangan keterikatannya dengan akar keluarga dari pihak ayah. Ia tetap bangga dengan identitasnya sebagai orang Timur dan darah yang mengalir dalam dirinya.

Darah bangsawan dari keluarga ayahnya juga menjadi bagian dari sejarah keluarganya. Sang ayah berasal dari keluarga yang dikenal memiliki kedudukan adat sebagai keluarga raja di Kerajaan Nampira.

Namun, bagi Najwa, sosok yang memiliki tempat paling besar dalam perjalanan hidupnya adalah sang kakek, yang ia panggil “Dato”. Sejak hari pertama Najwa membuka mata,

Dato telah mengambil peran besar dalam kehidupannya dan menjadi sosok ayah yang selalu hadir untuknya.

Kehidupan tersebut membentuk Najwa menjadi pribadi yang terbiasa menghadapi berbagai keadaan.

Saat ini, ia berstatus sebagai mahasiswi hukum. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Najwa juga menjalankan usaha dengan berjualan tas dan berbagai barang impor.

Ia juga aktif di depan kamera. Karakternya yang percaya diri, ekspresif, dan sedikit centil justru menjadi bagian dari kekuatannya. Hal yang awalnya mungkin hanya menjadi aktivitas sampingan, perlahan dapat menjadi salah satu sumber penghasilan baginya.

Menjalankan usaha sebagai perintis kecil tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satu hal yang paling terasa adalah persaingan harga dan nilai jual. Kondisi omzet juga tidak selalu stabil.

Ada masa ketika penjualan berjalan sangat baik, tetapi ada pula saat ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Namun, Najwa memahami bahwa ketidakpastian merupakan bagian dari dunia bisnis.

Baginya, tantangan tersebut bukan alasan untuk berhenti. Justru melalui naik turunnya usaha, ia belajar mengenai kesabaran, keberanian mengambil risiko, dan pentingnya bertahan ketika keadaan belum sesuai dengan keinginan.

Najwa memiliki harapan yang sangat personal terhadap perjalanan hidupnya. Ia merasa sudah terbiasa menghadapi kekalahan sejak kecil.

Karena itu, ia tidak meminta kehidupan yang selalu mudah. Ia hanya berharap, kali ini Tuhan berkenan “menangkan” dirinya agar keberhasilannya kelak dapat memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Ia ingin memiliki kesempatan untuk membantu siapa pun yang masih mampu ia jangkau.

Di balik segala ambisi dan keberaniannya, ada doa sederhana agar Tuhan selalu menjaganya, memberikan kesehatan, dan memberinya kemampuan untuk terus menjadi manusia yang bermanfaat.

Aku sudah terbiasa dengan kekalahan sedari kecil.

Aku hanya berharap kali ini semoga Tuhan menangkan aku, agar aku bisa berguna bagi orang sekitarku dan bagi siapa pun yang berada di dekatku.

Semoga tangan kecilku ini bisa membantu siapa pun yang masih bisa aku cakup, dan semoga Tuhan selalu memeliharaku agar aku selalu sehat.”

Bagi Najwa, menjadi perempuan berarti berani melangkah keluar dari batas yang selama ini dianggap aman.

Ia percaya bahwa seseorang yang berani meninggalkan zona nyaman tidak akan kembali sebagai pribadi yang sama.

Akan selalu ada pengalaman, luka, keberanian, dan pelajaran baru yang membuatnya menjadi lebih kuat.

Perempuan yang berani melangkah keluar dari garis nyaman tak pernah kembali sebagai orang yang sama. Ia kembali sebagai pemenang.”

Terkadang, menurut Najwa, perjalanan yang jauh bukan berarti seseorang sedang kehilangan arah.

Bisa jadi, ia justru sedang menuliskan takdirnya sendiri dengan jemari yang semakin kuat, di tanah yang dahulu tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari kehidupannya.

Karena itu, Najwa memilih untuk tidak takut menjadi berbeda. Baginya, berbeda bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru dari perbedaan itulah seseorang dapat menemukan kekuatan dan jalan hidupnya sendiri.

Berbeda mungkin lebih baik daripada sama.”

 

 

Source image: Najwa Afrania H. Ilyas Nampira