Nosel.id Jakarta- Monica Resi lahir dan besar di Magelang, kota yang dikenal sebagai “Kota Sejuta Bunga”, sejuk, rapi, dan dipenuhi ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di tengah suasana yang damai itulah Monica tumbuh, dikelilingi keluarga hangat yang menyimpan perjuangan hidup yang tidak sederhana.
Dari merekalah ia belajar makna keteguhan, bahwa hidup memang harus diperjuangkan dengan sikap tangguh, dan prinsip Jawa yang selalu ia pegang erat: “Eling lan Waspodo”, selalu ingat dan selalu waspada.
Kini Monica menjalani peran penting sebagai HUMAS di salah satu rumah sakit di Yogyakarta.
Di balik meja informasi, di balik layar media sosial, dan di tengah hiruk-pikuk antrean pasien, ia menjadi suara yang menjembatani kebutuhan publik.
Tugasnya merentang luas: menyampaikan informasi, mendampingi pasien atau keluarga, mengelola masukan, hingga menghadapi komplain yang terkadang meletup tanpa bisa diprediksi.

Baginya, setiap hari adalah pertemuan dengan berbagai wajah manusia, yang cemas, berharap, lelah, atau sedang mencari kejelasan.
Di situlah Monica merasa bersyukur.
Ia dapat membantu orang-orang dengan satu hal yang sederhana tapi berarti: hadir dan mendengarkan.
Namun tentu tidak semua hari berjalan lembut. Ada momen ketika ia harus berdiri tegar dan kesabaran sebagai konsekuensi profesinya.
Deg-degan? Tentu. Tapi justru dari sana Monica belajar tentang kendali diri, komunikasi, dan empati yang paling tulus.
Di luar pekerjaan, Monica kembali menemukan dirinya lewat traveling, hobinya sejak lama.
Baginya, bepergian membuka ruang bernapas. Melihat dunia dari sudut yang berbeda, memeluk angin baru, dan mengingat bahwa hidup tidak harus selalu tergesa-gesa.
Doa Monica sederhana tapi luas maknanya:
“Semoga semua makhluk di muka bumi ini berbahagia dengan jalannya masing-masing, dan jangan lupa bersyukur apa pun keadaan kita.”
Sebuah harapan yang tidak hanya ia ucapkan, tetapi ia jalani setiap hari dalam pekerjaannya.
Menjadi penghubung antara rumah sakit dan manusia-manusia yang membutuhkan kejelasan, pertolongan, dan ketenangan.
Monica menutup kisahnya dengan kalimat yang terasa seperti pelukan:

“Setiap detik punya cerita: yang lembut, yang lucu, yang perihnya sunyi, semuanya tetap layak untuk dirayakan pelan-pelan.”
Itulah Monica Resi: perempuan yang menjaga hati, merawat percakapan, dan mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk besar.
Kadang ia hadir lewat kata yang tenang, senyum yang tulus, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Source image: monica








