Nosel.id Jakarta- Di balik nama unik Merveilepir, tersimpan makna yang tidak biasa. Ia akrab disapa Pir, panggilan yang lahir dari kecintaannya pada buah pir. Namun sebenarnya nama itu memiliki makna yang lebih dalam.
Kata “Merveile” berasal dari bahasa yang berarti hal yang menakjubkan, sementara “pir” berasal dari kata pira.
Dari kombinasi itu, ia memaknai dirinya sebagai seseorang yang ingin menghadirkan perjalanan yang penuh keajaiban sebuah “awesomeness trip with inspiring delicious”.
Perjalanan yang tidak hanya menghadirkan keindahan tempat, tetapi juga pengalaman kuliner yang menggugah, serta energi positif yang dibawa pulang setelah menjelajah dunia.
Perempuan yang lahir di Makassar, kota yang dikenal sebagai kota para pejuang, tumbuh dengan filosofi hidup yang kuat. Sebuah pesan dari sang kakek selalu terpatri dalam ingatannya:
“Orang yang lahir di kota ini adalah pejuang. Jadilah pejuang yang siap berkorban demi menegakkan keadilan untuk NKRI.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat, tetapi menjadi fondasi mental yang membentuk cara pandangnya terhadap hidup.
Perjalanan hidup Pir tidak selalu mudah. Masa kecilnya diwarnai pengalaman merantau bersama keluarga ke berbagai tempat.
Hingga suatu titik, hidupnya berubah ketika ia menjadi korban gempa dahsyat berkekuatan 7,4 skala Richter di Kota Palu. Peristiwa itu menjadi titik balik yang sangat besar dalam hidupnya.
Ia menganggap momen tersebut sebagai kesempatan kedua yang diberikan Tuhan untuk bangkit dan memulai kembali semuanya dari awal.
Dengan rasa syukur yang besar, Pir perlahan menata ulang hidupnya. Ia bertemu dengan banyak komunitas yang membantunya berkembang, baik secara mental maupun sosial.
Dari situ ia menyadari bahwa setiap peristiwa pahit dalam hidup selalu menyimpan peluang untuk bertumbuh.

Ketika berbicara tentang karier, Pir memilih untuk tidak terlalu menonjolkannya secara terbuka.
Baginya, yang lebih penting adalah proses perjalanan dirinya. Aktivitas yang sering terlihat di depan kamera sebenarnya berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: merekam kenangan hidup.
Ia membuat video konten bukan semata-mata untuk popularitas, melainkan sebagai arsip perjalanan hidupnya sendiri. Ia membayangkan suatu hari nanti ketika usia sudah tidak lagi muda dan kondisi fisik melemah, ia bisa membuka kembali video-video tersebut dan berkata pada dirinya sendiri,
“Ternyata dulu aku pernah berada di sana, melakukan hal itu, dan melewati semuanya.”
Video itu menjadi pengingat bahwa dirinya pernah berjuang dan tetap bertahan. Selain itu, ia juga melihat konten sebagai cara untuk menyiapkan dana darurat, karena baginya hidup tidak pernah bisa ditebak arahnya. Persiapan menjadi salah satu bentuk tanggung jawab terhadap masa depan.
Di luar dunia konten, Pir memiliki banyak minat. Ia menyukai membaca informasi politik, traveling, kuliner, hingga olahraga. Bahkan sejak kelas 1 SMP, ia sudah aktif dalam dunia olahraga.
Semua hal tersebut ia lakukan bukan karena tekanan atau ambisi untuk mengalahkan orang lain, melainkan murni karena kecintaan terhadap prosesnya.
Pengalaman hidupnya juga pernah diwarnai masa sulit ketika ia menjadi korban perundungan (bullying) di sekolah dan tidak mendapatkan fasilitas yang layak.
Namun alih-alih terpuruk, pengalaman itu justru menjadi bahan bakar untuk memperbaiki diri. Ia memilih untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain dan lebih fokus pada perjalanan pribadinya.
Dari pengalaman terjun ke dunia konten, Pir menyadari satu hal penting: kunci utamanya sebenarnya sangat sederhana, keberanian untuk memulai.
Ia percaya bahwa banyak orang gagal bukan karena kurang potensi, tetapi karena terlalu lama menunggu waktu yang sempurna. Padahal, menurutnya, keberanian untuk muncul apa adanya justru menjadi guru terbaik dalam perjalanan hidup.
Ia sering mengingatkan dirinya sendiri dengan prinsip sederhana:
You just need to start.
Mereka yang berhasil tidak menunggu izin.
Mereka tidak menunggu merasa siap.
Mereka tidak menunggu segalanya sempurna.
Mereka datang apa adanya meski berantakan, belum siap, bahkan penuh rasa takut. Namun justru dari proses itu mereka belajar.
Baginya, dunia tidak memberi penghargaan pada potensi yang hanya disimpan, melainkan pada aksi nyata. Setiap orang yang kita kagumi hari ini, pada awalnya juga pernah merasa tidak cukup baik dan penuh keraguan. Perbedaannya hanya satu: mereka tetap melangkah.
Dalam perjalanan hidupnya, Pir juga memahami bahwa menjadi berbeda sering kali membawa konsekuensi. Ketika seseorang menjadi lebih disiplin, lebih fokus, atau lebih berkembang dibanding lingkungan sekitarnya, tidak semua orang akan menyukainya. Kadang justru muncul rasa iri atau penilaian yang tidak adil.
Namun Pir memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Baginya, setiap orang berhak menjalani jalannya sendiri. Jika ada orang yang mencoba memberi label atau menilai tanpa memahami perjalanan seseorang, ia memilih untuk tetap berjalan tanpa harus membuktikan apa pun kepada mereka.
Ia percaya bahwa keunggulan memang sering mengundang kecemburuan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti berkembang.
Di akhir perbincangan, Pir menyampaikan pesan sederhana namun kuat bagi siapa pun yang membaca kisahnya.

Menurutnya, tidak ada orang yang benar-benar buruk setelah mencoba berkali-kali. Bahkan kegagalan yang berulang hanyalah bagian dari proses menuju kemampuan yang lebih baik.
Ia percaya pada satu prinsip:
“Nobody is bad after 10,000 attempts.
You need to start to be great for yourself.”
Karena pada akhirnya, perjalanan hidup bukan tentang menjadi sempurna di mata orang lain, melainkan tentang berani memulai, terus mencoba, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Source image: pir






