Nosel.id Jakarta- Martha Suherman berasal dari Kota Bogor, sebuah kota yang dikenal dengan julukan Kota Hujan.
Bagi Martha, Bogor bukan sekadar tempat kelahiran, tetapi juga ruang yang menyimpan banyak kenangan masa kecil yang hangat. Hujan seolah menjadi bagian dari keseharian yang tidak terpisahkan dari hidupnya.
Ia masih mengingat bagaimana udara Bogor yang dingin dan sejuk selalu terasa menenangkan, dikelilingi oleh tanaman hijau yang tumbuh subur di berbagai sudut kota.
Ada juga kenangan sederhana namun begitu khas: sepatu sekolah yang hampir selalu siap basah karena hujan yang datang tanpa diduga.
Semua hal kecil itu justru menjadi bagian dari cerita masa kecil yang membentuk dirinya hingga hari ini.
Lingkungan yang nyaman dan penuh kenangan itu juga memberi Martha banyak ruang untuk tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar, terutama terhadap dunia visual dan kreativitas.
Perjalanan karier Martha di dunia kreatif dimulai dari ketertarikannya pada desain. Ia menempuh pendidikan di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV), yang kemudian membuka jalannya untuk meniti karier sebagai seorang desainer grafis.
Dari sana, ketertarikannya pada dunia visual berkembang semakin luas.
Tidak berhenti pada desain, Martha kemudian mulai mendalami dunia fotografi, sebuah bidang yang menurutnya mampu menangkap cerita dan emosi melalui gambar.
Kamera menjadi alat yang membantunya mengekspresikan ide sekaligus memahami dunia dari perspektif yang berbeda.

Seiring berjalannya waktu, perjalanan profesionalnya semakin berkembang. Martha dipercaya menjadi Brand Ambassador Nikon selama 12 tahun, sebuah kepercayaan besar yang menjadi bagian penting dalam kariernya di industri fotografi.
Saat ini, ia juga dipercaya sebagai Brand Ambassador Broncolor, sebuah brand yang dikenal luas dalam dunia lighting profesional untuk fotografi.
Pengalaman panjang di industri kreatif akhirnya mendorong Martha untuk melangkah lebih jauh. Pada tahun 2021, ia memutuskan untuk memulai badan usaha sendiri di bidang photo dan video production house.
Perusahaan tersebut berfokus pada kebutuhan corporate dan commercial, termasuk produksi visual untuk berbagai kebutuhan komunikasi dan periklanan.
Bagi Martha, mendirikan production house bukan hanya tentang membangun bisnis, tetapi juga tentang menciptakan ruang kolaborasi bagi berbagai ide kreatif untuk berkembang.
Namun seperti halnya banyak industri kreatif lainnya, dunia produksi visual adalah bidang yang sangat dinamis.
Martha menyadari bahwa industri ini sangat bergantung pada manusia, baik dalam proses kreatif, kerja tim, maupun hubungan profesional.
Karena itu, salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana menyeimbangkan dua hal penting sekaligus: kemampuan teknis dan kemampuan mengelola manusia.
Di satu sisi, seorang profesional kreatif harus terus mengasah keterampilan teknis dan mengikuti perkembangan teknologi yang begitu cepat.
Di sisi lain, kerja sama tim, komunikasi, dan manajemen hubungan menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Selain itu, perkembangan teknologi yang terus berubah menuntut setiap pelaku industri kreatif untuk selalu adaptif. Dunia fotografi dan produksi visual berkembang sangat cepat, dan kemampuan untuk terus belajar menjadi kunci agar tetap relevan.
Di tengah kesibukan menjalankan berbagai aktivitas profesional, Martha juga memiliki harapan yang sederhana namun bermakna. Ia ingin dapat menjalani kehidupan yang seimbang antara karier dan keluarga.
Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian profesional, tetapi juga tentang kemampuan menjaga keseimbangan dalam hidup, memberi waktu bagi keluarga, menjaga kesehatan, serta tetap menikmati proses berkarya.
Ia juga berharap semua orang yang berkarya di industri kreatif dapat terus berkembang dengan sehat, baik secara fisik maupun mental, karena kreativitas yang baik lahir dari kehidupan yang seimbang.
Melalui perjalanan hidupnya, Martha memiliki satu prinsip yang selalu ia pegang dalam berkarya.

Menurutnya, keberhasilan tidak datang secara instan. Setiap proses membutuhkan waktu, usaha, dan kesabaran untuk terus belajar dan berkembang.
Karena itu, ia selalu mengingatkan bahwa dalam dunia kreatif, seseorang harus percaya pada proses dan menjaga keseimbangan antara kemampuan teknis dan kepekaan hati.
“Percaya pada proses, dan bekerjalah dengan seimbang antara skill dan hati.”
Source image: Martha Suherman






